MOBIL yang kami tumpangi melaju dengan kecepatan sedang di pedalaman Bireuen.
Dari pusat pasar Jeunib, kami mengarah ke daerah Pandrah dengan menelusuri jalan perkampungan, pada pekan pertama Agustus 2022 lalu. Jalannya sedikit berliku dan sepi.
Sepanjang jalan, beberapa petani terlihat sibuk dengan bibit padi yang baru ditanam. Warna hijau terpampang sejauh mata memandang.
“Dulu. Teungku Lah (Abdullah Syafii-red) pernah menggelar apel pasukan di sana,” ujar Teungku Tarmizi Daud tiba-tiba. Pria ini memecah kebisuan kami selama perjalanan. Ia salah satu anggota rombongan kami.
Kami berlima dalam rombongan. Satu orang dari Komite Peralihan Aceh. Dua dari Partai Aceh. Satu orang dari MUNA dan satu lagi adalah penulis sendiri.
Teungku Tarmizi menunjuk ke sisi kiri. Di sana ada bukit kecil. Di sebelahnya ada lapangan bola. Konon di sanalah lokasi bersejarah yang disebut tadi.
“Saya hadir di sana saat itu. Sempat diwawancara oleh wartawan Jepang,” katanya lagi bernostalgia.
Sekitar 5 menit perjalanan, mobil berhenti di salah satu warung semi permanen di Desa Kubu Bate, Meunasah Teungoh, Kecamatan Pandrah, Kabupaten Bireuen. Di sana, ada sekelompok ibu-ibu yang sedang berkumpul.
Teungku Tarmizi turun dari mobil dan memberi salam.
“Numpang tanyoe. Kalau mau ke kuburan Camat Derih. Lewat jalan depan atau bisa di samping ini,” katanya dalam bahasa Aceh.
Ia menunjuk jalan sisi kiri samping warung tadi.
Seorang wanita paruh baya tersenyum. “Jeut teungku. Jeut jalan nyoe,” ujarnya.
“Lewat dengon moto,” tanya Teungku Tarmizi lagi.
“Lewat,” ujar wanita paruh baya tadi.
Teungku Tarmizi kemudian menjelaskan maksud dan tujuan dari kedatangan rombongan kami.
“Lon sendiri cuco almarhum Camat Derih,” kata Teungku Tarmizi.
Para wanita tadi saling pandang dan kemudian tersebut. Termasuk wanita paruh baya yang sedang berkomunikasi dengan rombongan kami.

“Oooo Teungku Tarmizi. Yang di Banda nyan kon? Panee taturi lom. Watee manyak sagai takalon ditingkue-tingkue lee mak gata,” ujarnya.
Teungku Tarmizi tersenyum. Kami kemudian minta izin berlalu. Dari warung tadi, mobil belok ke arah kiri menuju bukit. Jalan sedikit berbatu dan berlubang sepanjang perjalanan. Mobil kemudian berhenti di gubuk reot tak berpenghuni yang sudah rusak parah karena ditinggalkan penghuninya.
Rumah tadi milik almarhum Camat Derih semasa hidup.
Rumah tersebut terlihat tak terawat. Sebahagian dinding papannya telah tercopot. Sebahagian lagi lapuk dimakan usia. Atap dari daun kelapa juga mengalami nasib yang sama. Di bagian dalam, lemari dan peralatan dapur serta tempat tidur berserakan di lantai yang beralas tanah. Seperti ada pengerebekan.
Ada baju kaos yang bergantungan di kasur yang kini penuh debu.
Kondisinya seperti ditinggal oleh penghuninya secara tiba-tiba.
Konon, di rumah inilah, Wali Nanggroe Teungku Muhammad Hasan Ditiro, deklarator Gerakan Aceh Merdeka, pernah menetap berbulan-bulan ketika di awal-awal pergerakan tahun 1976.
“Rumah ini terakhir dihuni sekitar tahun 1992. Sudah lama sekali,” kata Teungku Tarmizi.
Dari rumah tadi, kami meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki. Mendaki bukit kecil yang penuh ilalang dan tumbuhan rimbun hingga akhirnya tiba di puncaknya.
Di sana ada belasan kuburan yang hanya ada nisan dan gundukan tanah. Mayoritas di antaranya merupakan milik para syuhada Aceh yang meninggal semasa konflik.
Makam Camat Derih sendiri, berada di sisi kanan. Nisannya berbentuk kubah masjid yang dibuat dari semen kasar. Di sana tertulis, “Tgk Indris bin Ahmat. 15-04-1982.”
Sedangkan di sisi kanan, ada kuburan sang istri yang meninggal 1992.
+++
PRIA itu bernama Zulkifli Idris. Tapi ia biasa dipanggil Cekdon. Usianya kini sekitar 61 tahun.
Di sana, juga ada adik perempuan-nya yang terpaut beberapa tahun darinya. Adik perempuannya itu bernama Mariana Idris.
Keduanya merupakan anak dari almarhum Camat Idris atau Camat Derih.
Saat kami berkunjung ke kediaman ‘sementara’ mereka di Desa Garot, Kecamatan Jeunib, Kabupaten Bireuen, kondisi Cekdon sedang sakit. Ia mengalami kemalangan tertimpa pohon kelapa. Isterinya juga baru beberapa bulan meninggal dunia.
Ditulis kediaman sementara karena rumah tersebut bukanlah milik keduanya. Mereka hanya diberi hak berteduh dan memakai.
Namun kedua kakak beradik itu menyambut kami dengan senyum hangat. Mereka berdua juga terlibat dalam Gerakan Aceh Merdeka seperti almarhum sang ayah. Tak hanya terlibat, keduanya juga merupakan tokoh awal pergerakan Aceh Merdeka di daerah Jeunib.
“Saat itu, saya masih SMP,” kata Cekdon mengulang kisah.
“Daerah ini dulu memang daerah basis. Wali Hasan Tiro, saat masih muda, pernah menetap lama di sini,” kata mantan gubernur GAM wilayah Batee Liek ini lagi.
Sedang Cekna, sapaan akrab Mariana, memiliki memori banyak tentang sang ayah semasa hidup. Ia ingat dengan ayahnya yang sering mengadakan diskusi kecil di kampungnya.
“Jadi ayah saya sering mengajak orang-orang di sini berbicara satu persatu soal Aceh,” ujar Cekna.
Sebelum deklarasi Aceh Merdeka di Gunung Halimun, kabupaten Pidie, kata Cekna, Wali Hasan Tiro yang masih berusia muda, bertandang ke rumahnya di Kubu Batee atau dulu masih bergabung dengan desa Meunasah Teugoh. Wali Hasan Tiro dan Camat Derih terlibat diskusi panjang berhari-hari.
Usai diskusi tersebut, Camat Derih termasuk dalam salah satu tokoh yang hadir di Gunung Halimun.
Pulang dari Gunung Halimun, Camat Derih dan Hasan Tiro muda kembali ke Kubu Batee dan meneruskan ide-ide perjuangan kepada warga.
“Saya sering diajak oleh ayah keliling kampung. Dari desa ke desa,” ujar Cekna.
Camat pada penambalan Teungku Idris hanyalah gelar semasa perjuangan DI/TII. Camat Idris hanyalah tamatan Sekolah Rakyat (SR) tapi ia piawai dalam berkomunikasi. Kecakapan inilah yang membuat Teungku Idris tampil dari mimbar ke mimbar.
Singkat cerita, pertemuan demi pertemuan berlangsung.
“Tugas saya sendiri adalah memasak. Setiap pertemuan, saya yang memasaknya,” ujar Cekna.
Menurut Cekna, keadaan ini berlangsung lama. Aktivitas ini lama-kelamaan tercium sama militer republic. Rapat keberangkatan Wali Hasan Tiro pun digelar.
Setelah diskusi lama, Hasan Tiro diputuskan untuk keluar dari Aceh melalui Krueng Jeunib. Camat Derih dan beberapa tokoh AM dan warga yang bergabung saat itu, mengantar hingga ke lokasi yang aman untuk menyeberang.
Salah satu pasukan pengawal bernama Fudin.
Usai mengantar Hasan Tiro, Camat Idris sendiri kemudian bergerilya dari satu tempat ke tempat lainnya untuk menyebar ideologi Aceh.
“Pulang sebentar dan kemudian pergi lagi,” ujar Cekna.
Cekna mengaku masih ingat benar akan hari naas yang menimpa sang ayah.
“Hari itu Rabu. Saya berusia sekitar 18 tahun,” ujar Cekna.
“Beliau ditembak saat salat subuh. Kami baru tahu sore-nya. Banyak warga yang menjemput mayat almarhum dan dimakamkan di Kubu Batee pada 15 April 1982,” kata Cekna lagi.
Tiga orang yang meninggal pada tragedy tadi adalah Teungku Yacob Piah, Teungku Ilyas Leubee, dan Camat Derih.
Ribuan warga menjemput jenazah tiga tokoh AM yang tertembak tersebut di lembah Alue Bintang Langet. Jeunib dan sekitar dilanda hujan deras saat itu.
“Mereka ditembak saat salat subuh. Karena kalau tidak sedang salat, peluru tak akan tembus. Kejadian di Gunung Cong Khan, Alue Bintang Langet,” ujar Cekna.
Almarhum Camat Idris meninggal di usia 75 tahun.
Usai ayahnya meninggal, Cekna sendiri ikut bergerilya dan beberapa kali ditangkap tentara republic serta harus berpindah-pindah tempat.
Ia pernah hijrah ke Banda Aceh dan menetap di Punge Jurong. Nama di KTP juga diganti dari Mariana bin Idris menjadi Mariana Ahmat. Kemudian pindah-pindah ke tempat lainnya semasa konflik.
Cekna sendiri sempat menikah dan memiliki seorang putra. Suaminya kini sudah meninggal. Putranya juga seorang kombatan dan meninggal karena tertembak dalam kontak senjata semasa konflik Aceh.
Kini ia hidup berdua dengan Cekdon di Desa Garot.
+++
DI LOKASI makam Camat Idris, rombongan kami menggelar doa bersama yang dipimpin oleh Teungku Tarmizi Daud.
Menurut Cekdon, mantan petinggi Badan Reintegrasi Aceh (BRA) pernah meminta untuk mempugar makam almarhum Camat Idris. Namun atas beberapa pertimbangan, hal tersebut ditolak dengan halus.
“Pertama, lokasi makamnya itu bersebelahan dengan belasan makam syuhada Aceh lainnya. Jadi kalau cuma makam almarhum (Camat Idris-red) dipugar, rasanya tidak enak. Soalnya itu pemakaman umum,” jelas Cekdon.
“Kecuali kalau jasad beliau dipindahkan ke tanah pribadi. Tapi itu tidak mungkin,” kata Cekdon lagi.
Almarhum Camat Idris sendiri memiliki 10 orang anak.










