WANITA itu bertubuh kurus. Urat tangannya terlihat jelas dari kejauhan. Penampilannya amat sederhana. Ia mengenakan baju gamis berwarna coklat serta kain sarung. Jilbab berwarna ungu hingga menutup dada.
“Almarhum orang yang ceria,” ujarnya saat dijumpai oleh penulis di pedalaman Jeunib, kabupaten Bireuen, awal Agustus 2022 lalu.
“Saat menikah, usia saya lebih tua darinya,” kata wanita bersahaja ini lagi.
Ya, dia adalah Khamariah. Isteri dari mantan kombatan Gerakan Aceh Mereka. Kini Khamariah telah berusia 58 tahun. Ia kelahiran 1964.
Biarpun konflik telah berlalu hampir 17 tahun, namun bagi Khamariah baru terasa kemarin. Kejadian-kejadian semasa konflik Aceh seolah melekat dengan jelas di kepalanya.
“Almarhum pernah berulangkali mengingatkan saya tentang Surat Singa. Katanya, kalau kelak ia telah tiada, Surat Singat itu harus saya berikan pada anak kami,” ujar Khamariah.
Khamariah diapit oleh dua wanita hebat lainnya yang aktif dalam perjuangan Aceh semasa konflik. Mereka adalah Mariana Idris atau akrab disapa Cekna dan Kak Tam.
Ada juga mantan gubernur GAM wilayah Batee Liek di sana, Zulkifli Idris atau akrab disapa Cekdon. Di kediaman Cekdon lah, kami bertemu dengan Khamariah untuk wawancara terkait sepak terjang suami dari Khamariah.
Menurut Cekdon, Surat Singa yang dimaksud adalah surat keterangan yang dibuat oleh petinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) untuk pemuda Aceh yang terdaftar sebagai tentara Aceh Merdeka atau AM.
Suami Khamariah adalah Basyarah M Yunus atau akrab disapa Teungku Basyarah.
“Teungku (almarhum-red) terkenal sebagai orang yang jago berbicara. Mungkin ini yang menyebabkannya ditunjuk sebagai juru penerangan pada masa itu,” ujar Khamariah.
Status Teungku Basyarah membuat kehidupan suami istri ini penuh bergejolak sejak awal-awal menikah. Teungku Basyarah sendiri sering pindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Teungku Basyarah aktif di mimbar-mimbar kecil untuk tujuan penerangan tentang alasan-alasan Aceh menuntut merdeka.
Teungku Basyarah sendiri adalah alumni Libya atau eks Tripoli. Ia seangkatan dengan Teungku Darwis Jeunib.
“Kami pernah beberapa kali berada di lokasi yang sama saat bergerilya. Orangnya memang pandai berbicara,” ujar Mariana menambahkan.
“Mudah akrab dengan siapapun.”
“Saat di lembah Terang Buleun, kami sempat satu kamp. Kemudian ada informasi tentara (republic-red) masuk. Kami pindah. Tetapi almarhum tidak mau pindah,” ujar wanita yang akrab dipanggil Cekna ini.
Khamariah dengan Teungku Basyarah menikah sekitar tahun 1985. Dari perkawinan ini, mereka memiliki satu orang anak perempuan yang kini sudah besar dan menikah serta tinggal di Pidie Jaya.
Ayah dari almarhum Teungku Basyarah sendiri dipanggil Teungku Kumis. Mertua dari Khamariah ini juga aktif diperjuangan Aceh merdeka.
Khamariah sendiri mengaku sadar bahwa setelah menikah dengan pejuang Aceh, kehidupan rumah tangganya tidak akan hidup aman.
“Sadar. Dari awal menikah sadar,” katanya saat itu.
Rumahnya di Desa Teupin Kupula Kecamatan Jeunib seringkali didatangi oleh tentara republic saat Aceh masih berkonflik. Hal ini pula yang membuatnya menyembunyikan semua foto-foto yang berhubungan dengan almarhum Teungku Basyarah.
“Foto-foto kami kuburkan,” kata dia.
Hal ini pula yang membuat Khamariah tidak memiliki satupun kenangan yang tersisa bersama almarhum semasa hidup.
“Kecuali anak,” ujar Khamariah menarik nafas panjang.
Khamariah mengaku masih ingat benar dengan kejadian tragis yang menimpa suaminya tersebuh.
Almarhum Teungku Basyarah ditembak di Gunung Glee Paya (kawasan Peudada-red) Kabupaten Bireuen sekitar tahun 1990. Konon, kepala Teungku Basyarah dipotong usai kontak tembak dan kepalanya kemudian dibawa keliling Keude Jeunib yang berjarak sekitar 12 kilometer dari Glee Paya.
Saat suasana cukup tenang. Kepala Teungku Basyarah diambil oleh masyarakat dan kemudian disatukan kembali dengan tubuh. Janazahnya kemudian dikuburkan di Glee Paya. Lokasi ini jauh dari pemukiman penduduk.
“Saya shock saat itu. Ini pula yang membuat semua kenangan bersama Teungku Basyarah dikuburkan. Termasuk foto-foto pernikahan,” ujar Khamariah dengan nada berat.
Tak hanya itu, rumah tempat dirinya berteduh juga dibakar di Desa Teupin Kupula Kecamatan Jeunib.
Meski suasana sulit, Khamariah mengaku tetap bertahan menjalani hari demi hari setelah Teungku Basyarah meninggal dunia. Tiada hari tanpa pergelokan. Ia sendiri kemudian pindah ke Desa Darul Aman, Kecamatan Jeunib, untuk membesarkan anak-anaknya.
“Saya harus bertahan demi anak,” ujarnya.
“Sejak menikah, saya sadar dengan resiko yang akan saya hadapi. Makanya tetap tegar seperti sekarang,” ujar Khamariah.
Di antara semua kenangan bersama Teungku Basyarah, Khamariah mengaku ada memori tersendiri yang diingatnya tadi.
“Ya itu, surat singa tadi. Ini berulangkali disampaikannya kepada saya,” kata Khamariah.
“Katanya, kalau saya (almarhum-red) sudah tiada, surat singa itu diperlihatkan pada anak. Tapi keadaan saat itu tidak memungkinkan. Surat itu kami kubur sebelum rumah dibakar. Apa sekarang masih di lokasi yang sama, saya tidak tahu,” ujar Khamariah.
Ya, Surat Singa Jadi warisan untuk anak.











