SEKILAS ia adalah sosok pendiam. Namun anggapan tersebut akan berbeda ketika sosok ini mulai bersuara.
Retorikanya yang bagus serta penjelasannya yang simple serta narasi yang berurutan membuat lawan bicara terkesima dan kagum. Meski masih muda, ia mampu menganalisis perkembangan politik terbaru yang terjadi di tanah air.
Apalagi jika topik pembahasan berkenaan dengan politik di Aceh. Maklum, pria ini memang baru saja menyelesaikan tesis sebagai syarat mengambil title magister ilmu politik di Universitas Indonesia.
“Saya ingin membangun daerah kelahiran saya,” ujarnya saat bertemu dengan penulis beberapa waktu lalu.
“Kalau sekedar menyerap ilmu, berarti akademisi. Namun saya ingin lebih. Saya ingin menjadi praktisi dengan mencalonkan diri dari kampung halamannya saya,” ujar dia.
“Saya memutuskan maju ke DPRK Aceh Timur melalui PKB dari Dapil Aceh Timur 3,” ujar Syuhada yang dikenal vocal selama jadi aktivis mahasiswa USK ini.
Untuk Dapil 3 Aceh Timur sendiri meliputi daerah pemilihan Birem Bayeun, Serbajadi, Rantau Selamat, Simpang Jernih dan Peunaron.
Ya, sosok muda ini bernama lengkap Muhammad Syuhada S.IP. Lelaki kelahiran Peunaron, Kabupaten Aceh Timur, pada 17 Juli 1995 ini, merupakan mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala periode 2016-2017.
Tak hanya itu, ia kini juga tercatat sebagai Tenaga Ahli (TA) Senator DPD RI asal Aceh, HM Fadhil Rahmi Lc MAg atau akrab disapa Syech Fadhil, dari 2019 hingga sekarang.
Hal inilah yang membuat sosok ini hijrah ke Jakarta selama beberapa tahun terakhir guna mendampingi Syech Fadhil.
Waktu luang di Jakarta, ia manfaatkan untuk mengambil program Magister Ilmu Politik (MIP) di Universitas Indonesia.
“Kami berasal dari pedalaman Aceh. Bang Fadhil (DPD RI-red) membuka mata kami bahwa sekalipun berasal dari pedalaman, bukan berarti harus menyerah dengan keadaan. Katanya, belajar yang tinggi. Sekali ada kesempatan, sekolah yang tinggi dan kemudian pulang untuk membangun daerah,” kata Syuhada lagi.
“Kalau bukan kami yang membangun daerah sendiri, lalu siapa lagi?” ujar ayah muda ini lagi.
Syuhada aktif membangun daerahnya selama berada di Jakarta. Beberapa program nasional mampu dilobinya dari kementerian untuk dibawa pulang ke Aceh Timur. Salah satunya adalah beasiswa bagi keluarga berprestasi dan kurang mampu.
Selain itu, ia juga aktif dibidang sosial kemasyarakatan. Di bawah Ormas Sahabat Rakyat Aceh (Sahara), Syuhada aktif membantu sejumlah rumah ibadah di Aceh Timur.
“Selagi masih bermanfaat bagi umat, saya akan bekerja keras. Saya ingat kata Ustadz Fadhil, bahwa jangan berharap orang lain datang untuk membangun daerah kita. Maka selagi bisa, bekerja keraslah hingga menjadi penggerak bagi yang lain,” ujar Syuhada.
“Mohon doa dan dukungannya bang,” kata Syuhada diakhir pertemuan. []










