Banyak dari kita terkadang ragu-ragu untuk memilih. Atau diam seribu bahasa. Takut sendiri meskipun pilihan hati berkata benar. Akhirnya mereka memilih bergabung dengan mayoritas. Tak peduli soal benar atau salah, yang penting menang dan menjadi bagian dari kekuasaan.
Mereka adalah kaum abu-abu. Sikap ini dipraktekan oleh sejumlah tokoh di nusantara. Ketakutan menjadi alasan sejumlah tokoh untuk berpihak pada kekuasaan. Akhirnya membuat jamaah gamang dalam menentukan sikap.
Mengadaikan harga diri dan integritas hanya agar dipandang penguasa. Atau rela menjadi alat penguasa untuk mempertahankan kekuasaan.
Tapi sikap Ustadz Abdul Somad (UAS) seolah berbeda. Ia seolah menjadi penentang kaum abu-abu di nusantara.
Ya, sikap UAS cenderung blak-blakan sejak dulu. Hal ini merujuk dari jejak digital UAS di sosial media.
Beberapa waktu lalu, ia menerima Anies Baswedan dan rombongan di rumahnya (Riau-red). Ia kemudian memakai rompi Amin.
Sikap ini seolah menegaskan bahwa dai kondang itu ingin menunjukan bahwa pilihannya tersebut jatuh ke mantan gubernur DKI Jakarta untuk Pilpres 2024 nanti.
Tentu saja ini membakar emosi para pendukung dari dua kubu lainnya. Hujatan dan cacian dari dua pendukung Capres dan Cawapres lainnya juga menghiasi media sosial dan sosial media. Termasuk mungkin dari tokoh agama selevel UAS yang mendiri di sisi yang berlawanan.
Sikap UAS ini juga menjadi tamparan bagi kaum abu-abu.
Bagi kaum abu-abu, mungkin sikap UAS ini seolah ketinggalan zaman dan kuno. Dimana, UAS sebagai tokoh panutan umat Islam harusnya juga bisa seperti mereka (kaum abu-abu-red) dengan memasang wajah dua. Atau minimal memilih diam serta memisahkan politik dengan agama.
Sikap yang memisahkan antara agama dan politik sebenarnya bukanlah hal yang baru. Di Aceh, berdasarkan catatan sejarah, sikap ini awalnya diperkenalkan oleh Christian Snouck Hurgronje atau akrab juga disapa Teungku Abdul Gafur atau Teungku Puteh.
Dimana, besarnya peran dayah atau pesantren dalam menentang upaya pendudukan, membuat Belanda mencari beragam akal untuk menaklukan Aceh. Salah satunya adalah siasat memisahkan antara kekuasaan dan agama pada saat itu. Siasat ini dipraktekan oleh Snouck.
Dimana, dalam pemahaman Snouck, kaum dayah harusnya hanya berpikir soal agama dan tak terlibat dan pertarungan politik. Taktik Snouck ini terbukti berhasil dan kemudian menjadi awal dari keruntuhan Kerajaan Aceh Darussalam.
Kini setelah beberapa dekade berlangsung, pemahaman Snouck kian mengakar di Nusantara. Politik seolah tabu bagi kalangan santri dan pesantren.
Bagi seolah santri, terjun ke politik seolah aib dengan alasan politik jahat. Imbasnya, berbagai ketimpangan terjadi. Padahal, mayoritas penduduk Indonesia beragama muslim.
Celaan dan makian selalu hadir begitu seorang santri terjun ke politik. Bahkan hal ini dipraktekan oleh para tokoh agama sendiri, walaupun tak semua, yang menjadi bagian dari kaum abu-abu.
Kembali ke topik di atas, sikap UAS ini sebenarnya bukanlah hal yang baru.
Beberapa hari sebelum kedatangan Anies, UAS juga mengundang Senator DPD RI asal Aceh, HM Fadhil Rahmi ke rumahnya di Riau. Sosok ini merupakan sahabatnya di Pesantren Darul Arafah Sumatera Utara dan juga Al-Azhar Mesir.

Sebagaimana yang diketahui, UAS sejak 2019 lalu hingga sekarang, secara terang-terangan menyatakan dukungannya kepada sosok tersebut.
Sikap ini tentu menjadi antipati bagi kandidat DPD asal Aceh lainnya yang mencalonkan diri di Pileg 2024 mendatang.
Terlepas mungkin ada yang berbeda padangan dan sikap politik. Pernyataan dukungan blak-blakan dari UAS ini patut diacungi jempol. Dalam istilah Aceh sering disebut ‘meu-agam.”
UAS seolah tak takut ditinggalkan jamaahnya hanya karena ia mendukung Anies Baswedan dan Fadhil Rahmi.
Ini mungkin akan jadi tamparan keras bagi kaum abu-abu di Nusantara, termasuk di Aceh. Kenapa? Karena banyak yang mengaku Islam tapi antipati dengan politik Islam. Banyak yang mengaku Islam tetapi antipati ketika ulama menentukan pilihan politik yang berbeda.
Banyak yang mengaku cinta ulama tetapi emosi saat pilihannya berbeda. Banyak yang pura-pura Islam tapi anti dengan politik Islam.
Ya, banyak juga yang mengharapkan kebangkitan Islam tapi cenderung abai dengan politik Islam.
Penulis adalah Muhammad Arif. Warga Aceh yang juga pecinta Ustadz Abdul Somad.










