BANDA ACEH – Kebijakan petinggi Partai Adil Sejahtera (PAS) Aceh membekukan kepengurusan PAS Aceh Utara patut dipertanyakan.
Pembekuan itu sendiri berlangsung dalam di kantor PAS Aceh, Banda Aceh, Kamis 23 Mei 2024.
Informasi yang diperoleh wartawan, rapat tersebut bersifat sangat tertutup serta berlangsung dari pukul 10.00 hingga 12.00 WIB.Rapat dihadiri oleh Abu Mudi Samalanga. Selain itu juga hadir Waled NURA, Abi Hidayat Waly, Tu Bulqaini, serta bendahara dan sekretaris umum partai local tersebut.
Keanehan terjadi karena pembekuan pengurus terjadi untuk kabupaten kota yang tampil sebagai peraih kursi terbanyak untuk PAS di Aceh, itu PAS Aceh Utara.
Dimana, berdasarkan data yang diperoleh wartawan, PAS Aceh Utara meraih 5 kursi DPRK dan satu kursi DPR Aceh. PAS Aceh Utara tampil sebagai peraih kursi kedua terbanyak setelah Partai Aceh.
Sementara untuk kabupaten Bireuen, yang menjadi basis Abu Mudi Samalanga, sebagai orang yang dikeramatkan di PAS Aceh, hanya mampu meraih 3 kursi DPRK dan 1 kursi DPR Aceh.
Demikian juga dengan Pidie dan Pidie Jaya, yang merupakan basis Waled NURA. Dimana, PAS Pidie hanya menyumbang 1 kursi DPRK, dan PAS Pidie Jaya 1 kursi DPRK. Sedangkan untuk DPR Aceh di Pidie dan Pidie Jaya, PAS mengamankan satu kursi.
Sedangkan untuk kabupaten Aceh Selatan dan Abdya, yang merupakan basis Abi Hidayat Waly, perolehan kursi PAS Aceh justru kosong.
Demikian juga dengan Banda Aceh dan Aceh Besar, daerah yang menjadi basis Tu Bulqaini selaku pimpinan PAS Aceh. Kedua daerah ini, PAS nihil kursi untuk DPRK dan DPR Aceh.
“Dalam rapat mustasyar, harusnya dievaluasi kenapa di lumbung basis pimpinan, ternyata gagal meraih kursi. Kenapa yang dibekukan justru PAS Aceh Utara sebagai penyumbang kursi terbanyak untuk PAS. Ini seperti wajah buruk cermin dibelah. Bukannya memperbaiki kekurangan sendiri sebagai pimpinan tapi justru mencari kesalahan daerah peraih kursi terbanyak,” ujar sumber atjehwatch di internal PAS Aceh.










