Oleh Diva Salvitya Rahmi. Penulis adalah Mahasiswi Pengembangan Masyarakat Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Pulau Simeulue adalah sebuah pulau yang dikelilingi oleh pohon kelapa yang mejulang tinggi di sekitar pantai bahkan hampir kesuluran daerah pinggir pulau Simeulue, ada keunikan tersendiri tentang pohon kelapa di Simeulue yang hidup dengan sendirinya tanpa harus ditanami oleh masyarakat setempat, namun umur pohon kelapa yang sudah mencapai puluhan bahkan ratusan tahun tentu akan bedampak pada produksi buah yang kurang maksimal, hal ini juga pohon kelapa yang terlalu tinggi akan sangat sulit untuk dipetik buahnya.
Pohon kelapa dalam budaya Simeulue melambangkan kemakmuran dan kesuburan. Keberadaannya di halaman rumah mencerminkan status sosial dan keuletan pemiliknya, Hampir seluruh bagian pohon kelapa dapat dimanfaatkan untuk membuat kerajinan tangan yang indah dan fungsional, seperti tikar, topi, tas, hiasan rumah, dan lain sebagainya,Pemerintah juga memiliki peran penting dalam membantu petani kelapa Alus-Alus Dukungan dalam bentuk pelatihan, penyuluhan, dan bantuan bibit unggul dapat meningkatkan kualitas dan produktivitas tanaman kelapa. Selain itu, pembangunan infrastruktur jalan dan akses pasar perlu dioptimalkan untuk memperlancar distribusi hasil panen.
Kelapa bukan sekadar tanaman, melainkan mata pencaharian ekonomi bagi warga desa Alus-Alus. Hampir setiap keluarga memiliki kebun kelapa, dan dari sanalah mereka mendapatkan penghasilan utama. Buah kelapa di olah menjadi berbagai produk, seperti kopra, minyak kelapa,yang dijual ke luar daerah. Sumber Penghasilan Utama masyarakat desa Alus-alus yaitu dari Kelapa yang menghasilkan berbagai komoditas bernilai ekonomi, seperti kelapa butir, kopra, sabut kelapa, minyak kelapa, dan air kelapa.
Hasil panen ini menjadi sumber pendapatan utama bagi banyak keluarga di desa Alus-alus.Pengolahan kelapa membuka peluang usaha yang luas, mulai dari industri kecil seperti pembuatan arang dari batok kelapa ,minyak kelapa murni, hingga industri besar seperti pengolahan kopra, serta Pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh kelapa berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat desa Alus-alus.
Di antara hamparan sawah hijau dan birunya laut Simeulue, terhampar perkebunan kelapa yang luas. Di sanalah, di bawah terik matahari dan hembusan angin laut, para wanita pekerja kelapa, yang dikenal sebagai “Putri Kelapa” berjibaku dengan semangat pantang menyerah.Putri Kelapa bukanlah sebutan biasa. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa Yang menopang kehidupan keluarga dan menjadi tulang punggung ekonomi desa Dengan tangan-tangan kasar dan kering, mereka memanjat pohon kelapa yang tinggi, memetik buahnya, dan mengolahnya menjadi berbagai produk yang bermanfaat.
Salah satu Putri Kelapa yang inspiratif adalah Ibu Fatimah. Sejak usia muda, Ibu Fatimah telah terbiasa membantu orang tuanya di kebun kelapa. Dia belajar memanjat pohon kelapa, memetik buahnya, dan mengolahnya menjadi kopra. Kini, Ibu Fatimah telah menjadi seorang janda dengan dua anak. Dia bekerja keras sebagai Putri Kelapa untuk menghidupi keluarganya.
Setiap hari, Ibu Fatimah bangun pagi dan langsung menuju kebun kelapa. Dia memanjat pohon kelapa dengan cekatan, memetik buahnya satu per satu. Buah kelapa yang telah dipetik kemudian dibawa pulang dan diolah menjadi kopra. Kopra tersebut kemudian dijual ke pengepul dan menjadi sumber penghasilan utama bagi Ibu Fatimah dan keluarganya.
Pekerjaan sebagai Putri Kelapa tidaklah mudah. Panasnya matahari, angin laut yang kencang, dan tingginya pohon kelapa adalah tantangan yang harus dihadapi setiap hari. Namun, Ibu Fatimah tidak pernah menyerah, Dia selalu bekerja keras dengan semangat dan pantang menyerah.
Harga kopra yang naik turun, hama penyakit tanaman, dan akses pasar yang terbatas menjadi tantangan yang harus mereka hadapi. Tak jarang, para petani harus bekerja keras dengan hasil yang tidak sebanding dengan jerih payah mereka,Di tengah berbagai tantangan tersebut, harapan tetap tumbuh di hati para wanita pekerja kelapa atau putri kelapa Kehadiran pabrik pengolahan kelapa di desa alus-alus menjadi secercah cahaya dalam meningkatkan nilai jual produk kelapa. Pabrik ini diharapkan dapat menyerap hasil panen petani dengan harga yang lebih stabil, sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat setempat.

Beberapa tahun yang lalu pemerintah Kabupaten Simeulue mendirikan pabrik penggiling tepung kelapa, yang berada di Desa Alus-Alus Kecamatan Teupah Selatan, kebutuhan akan buah kelapa untuk pabrik ini bisa dibilang selalu tidak mencukupi sehingga ada penambahan buah kelapa dari daratan yang didatangkan. Disamping itu, harga kelapa yang mencapai 2.500 bahkan 3.000 perbutirnya tentu akan menjadi sebuah peluang usaha yang dapat membantu masyarakat terutama bagi masyarakat ekonomi menengah ke bawah.
Kisah Ibu Fatimah hanyalah salah satu contoh dari sekian banyak Putri Kelapa di Simeulue. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang menopang kehidupan keluarga dan menjadi kekuatan ekonomi desa. Kegigihan, ketekunan, dan semangat pantang menyerah mereka patut menjadi inspirasi bagi kita semua.
Putri Kelapa bukan hanya pekerja yang menopang ekonomi keluarga dan desa. Mereka juga berperan penting dalam menjaga kelestarian alam.
Pohon kelapa memiliki banyak manfaat, mulai dari buahnya, daunnya, batangnya, hingga akanya. Putri Kelapa yang merawat pohon kelapa dengan sepenuh hati telah berkontribusi dalam menjaga kelestarian alam dan lingkungan.
Masyarakat Alus-Alus, dengan semangat dan keuletan mereka, terus berjuang di bawah naungan pohon kelapa. Harapan akan kehidupan yang lebih sejahtera, dengan kelapa sebagai sumber penghidupan yang berkelanjutan, terus mereka pupuk. Dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat luas, akan menjadi kunci dalam mewujudkan harapan tersebut. []










