Oleh: Dian Alasta Selian
Belakangan ini banyak sekali fenomena KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) yang berdampak pada perceraian terjadi di Indonesia. Baik dilakukan oleh suami ataupun istri.
Seperti yang terjadi belum lama ini di Mojokerto. Seorang Ibu yang membakar suaminya dan berakibat tewasnya korban dengan luka bakar 95%. Tidak kalah mirisnya juga di Ciamis, seorang suami yang memutilasi istrinya menjadi 54 bagian lalu menjajakan potongan tubuh istrinya kepada para tetangga dan masih banyak kasus lagi.
Mengapa hal ini terjadi? bukankah pernikahan adalah sebuah ikatan suci perjanjian sakral dimata Tuhan. Bukankah pernikahan adalah penyatuan dua mimpi menjadi satu. Bukankah Tuhan menciptakan Suami Istri untuk Cinta Ketenangan dan Kasih Sayang.
Lantas kemana cinta selama ini yang dipuja dan diperjuangkan. Lenyap sedemikan rupa bahkan pasangan yang seharusnya adalah ”rumah” tempat kembali menjadi malaikat pencabut nyawa.
Menurut berbagai literatur ada banyak faktor yang menyebabkan itu semua. Di antaranya adalah faktor ekonomi. Faktor ekonomi merupakan variabel utama penyebab kekerasan dalam rumah tangga.
Rendahnya pendapatan, tingginya kebutuhan (needs) dan keinginan (wants) menjadi akar permasalahan utama. Ketidakstabilan ekonomi dan beratnya beban hidup yang berkepanjangan berakibat ketidakstabilan pikiran dan perasan. Hal ini mengakibatkan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga tersebut.
Tidak berjalannya komunikasi yang baik di dalam rumah tangga selama ini, lambat laun menjadi permasalahan besar pasangan. Suami maupun istri tidak dapat menyampaikan pendapat, keinginan, harapan ataupun hal-hal yang dia sukai dan tidak sukai pada pasangan.
Pasangan lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai (gadget) yang mereka miliki daripada menghabiskan waktu berkomunikasi dengan keluarga. Mencari kenyamanan di luar juga menjadi solusi bagi pasangan yang komunikasinya berjalan tidak baik dan berakibat pada perselingkuhan.
Ekspektasi yang tinggi tentang pasangan hidup juga sangat berperan dalam kebahagiaan rumah tangga. Ketidakpuasan terhadap pasangan, harapan dan target-target hidup yang tidak terpenuhi juga memicu pasangan untuk berbuat diluar nalar.
Tidak dapat kita pungkiri bahwa media sosial juga berperan sangat besar dalam keretakan rumah tangga saat ini. Standar kebahagian telah mengalami pergerseran yang sangat signifikan. Seseorang melihat kebahiagaan dari kacamata kebahagiaan orang lain. Lalu munculah komparasi-komparasi bahwa hidup yang bahagia adalah seperti yang disajikan di media sosial.
Beda frekuensi juga menyebabkan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga. Latar belakang ekonomi, pendidikan, lingkungan, usia, perbedaan prinsip juga menjadi penyumbang permasalahan yang bermuara pada KDRT dalam rumah tangga.
Berada pada latar belakang pendidikan yang sama, kesetaraan ekonomi, latar keluarga baik suku, agama ataupun budaya yang sama sedikit banyak meminimalisir konflik dalam rumah tangga.
Banyak sekali kita temukan pembiaran KDRT oleh pasangan demi mempertahankan hubungan pernikahan yang masih seumur jagung. Faktor anak juga membuat pasangan memaksakan hubungan toxic harus diteruskan sehingga ketika mental semakin rapuh mengakibatkan KDRT yang berujung pada kematian.
Lantas apa yang harus dilakukan oleh pasangan untuk mencegah terjadinya KDRT tersebut?
Menurut penulis yang harus dilakukan diantaranya adalah memperbaiki pola komunikasi pasangan. Pengelolaan emosi yang baik dengan mendiskusikan setiap masalah yang ada dengan baik.
Berfikir bahwa setiap permasalahan dalam rumah tangga pasti ada jalan keluar dan tidak harus diselesaikan dengan kekerasan. Menghargai setiap komitmen yang telah dibuat. Mensyukuri segala yang telah diberikan Tuhan sebagai karunia dalam hidup serta tidak membanding-bandingkan hidup dengan orang lain.
Dibutuhkan kedewasaan diri dalam membangun sebuah hubungan yang semakin hari semakin intens. Perjuangan dan kesabaran sangat diperlukan dalam menghadapi cinta pasangan yang semakin lama terkikis oleh waktu dan permasalahan.
Saling memahami kekurangangan dan kelebihan antara pasangan. Perlunya pondasi agama sebagai benteng terakhir dalam berumah tangga, jadikan agama sebagai perekat hubungan yang rumit akibat kerentanan emosi jiwa…
”Kehidupan yang baik adalah kehidupan yang diilhami oleh cinta dan dibimbing oleh ilmu pengetahuan” Bertrand Russel.
* Penulis adalah Dosen IAIN Takengon











Agama yg membuat kita saling menahan ego masing2 sehingga rumah tangga dapat terus langgeng… Keren tulisannya