BANDA ACEH – Pihak MIN Rukoh akhirnya buka suara terkait viralnya curhat seorang petani cabai di social media Facebook, yang anaknya gagal masuk sekolah karena kutipan uang masuk yang dinilai terlalu tinggi.
“Kami sangat memahami bahwa pendidikan anak merupakan harapan dan prioritas utama setiap orang tua, tanpa memandang latar belakang profesi maupun kondisi ekonomi,” ujar Nasri selaku perwakilan Humas MIN Rukoh Banda Aceh, dalam rilis yang dikirim ke wartawan, Rabu 14 Mei 2025.
Menurutnya, madrasah menjelaskan bahwa proses penerimaan peserta didik baru dilakukan berdasarkan prosedur yang telah ditetapkan oleh Kementerian Agama, yang mencakup aspek daya tampung dan skala prioritas sesuai pedoman resmi.
“Setiap tahapan kami jalankan secara transparan, adil, dan objektif,” lanjutnya.
Terkait kasus yang diberitakan, pihak madrasah menegaskan bahwa keputusan hasil seleksi penerimaan peserta didik baru tidak didasari oleh latar belakang sosial, profesi, atau kemampuan ekonomi orang tua. Bahkan, madrasah memiliki berbagai program bantuan untuk keluarga kurang mampu, seperti beasiswa, keringanan biaya, hingga jalur afirmasi. Selain itu, program inklusif juga disediakan bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus.
“Kami turut merasakan kekecewaan dari orang tua yang belum dapat kami terima tahun ini. Semoga ke depan, dengan dukungan semua pihak, kami dapat terus meningkatkan layanan dan kapasitas agar semakin banyak anak-anak yang merasakan manfaat pendidikan madrasah,” tutup pernyataan tersebut.
Madrasah juga mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga suasana yang kondusif dan terus mendukung upaya mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan yang berkeadilan.
“Menanggapi kekecewaan yang disampaikan, kami telah mencoba mendekatinya dengan penuh keterbukaan dan niat baik, menyampaikan permohonan maaf serta harapan agar tetap terjalin silaturahmi yang baik. Upaya pendekatan dilakukan dengan cara yang santun dan persuasif, seraya menawarkan ruang dialog demi kebaikan bersama.”
“Namun demikian, beliau tetap memilih untuk tidak melanjutkan pendaftaran anaknya di madrasah. Keputusan tersebut kami terima dengan lapang dada, seraya mendoakan semoga anak beliau tetap meraih pendidikan terbaik di tempat yang baru. Pengalaman ini menjadi pengingat bagi kami untuk terus berbenah dan memperbaiki diri dalam memberikan layanan yang lebih baik ke depan,” ujar Nasri.











Di MTsN dan MAN di BNA malah sampai 5 JT.
Banyak iuran yg harus di Bayar. Rupanya sekolah Negeri pun tidak gratis.
Tanggapan yang diberikan pihak sekolah tersebut sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari permasalahannya, yaitu kenapa ada pungutan yang cukup besar sehingga memberatkan wali murid, padahal itu sekolah negeri.