PELAKSANAAN Musda Pramuka Aceh harusnya sudah selesai. Namun kegaduhan muncul usai Wakil Gubernur Aceh, Fadhullah atau Dekfadh, terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Pramuka Aceh.
Konon ‘keanehan’ mulai terasa di awal-awal registrasi peserta Musda Pramuka.
Menurut sumber atjehwatch.com, peserta Musda yang harusnya berisi perwakilan daerah mulai ‘tersusup’ dengan orang-orang partai politik. Beberapa nama yang masuk Musda, bahkan tak pernah terlihat dalam kegiatan Pramuka sebelumnya.
“Kami lapor ke Mualem. Tapi beliau bilang, asal yang terpilih bukan orang politik. Nyan hal biasa,” ujar sumber ini lagi di salah satu Warkop, Minggu malam 23 Juni 2025.
Namun, kata sumber ini, semakin pelaksanaan Musda, kuota forum makin mengarah ke salah satu kubu. Pembahasan paling alot, katanya, terjadi pada saat pembahasan pasal 81 poin 3 (d) tentang pemilihan ketua kwartir daerah. Dimana, pasal 81 poin 3 (d) tentang pemilihan ketua kwartir daerah menyebutkan salah satu syarat mutlak pencalonan Ketua Kwarda adalah tidak sedang menjabat sebagai pengurus partai politik.
“Hal ini membuat kami mempertanyakan alasan tersebut. Mereka bilang sudah mendapat restu Mualem.”
“Beberapa calon lain mundur teratur.”
“Karena memang sudah by setting, akhirnya berakhir seperti sekarang. Karena memang sudah terlihat dari awal. Kami tidak tahu kalau mereka membawa nama Mualem untuk menguasai forum,” ujar sumber ini lagi.
Anehnya, kata sumber tadi lagi, saat Mualem mengetahui hasil Musda, yang bersangkutan justru marah besar.
“Ini karena pada saat pembukaan Musda, Mualem sudah wanti wanti agar Ketua Kwarda bukan orang politik. Akhirnya seperti sekarang. Flyer dan banner ucapan selamat sementara di take down.”
Sebelumnya diberitakan, sejumlah lembaga pemerintah dan BUMD milik Aceh dilaporkan meminta agar banner dan flyer ucapan selamat atas terpilihnya wakil gubernur Aceh, Fadhlullah atau akrab disapa Dekfadh, yang sebelumnya hendak dipasang di media center maupun online untuk di take down.
Informasi yang diperoleh atjehwatch.com, permintaan take down tersebut atas arahan Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau akrab disapa Mualem.
Informasi yang beredar, Mualem belum memberi restu atas atas keterpilihan Dekfadh sebagai Ketua Pramuka Aceh.
“Kemungkinan besar proses pemilihan belum selesai bang. Jadi di take down dulu,” ujar sumber atjehwatch.com di lingkup Pemerintah Aceh, Minggu 22 Juni 2025.
Menurutnya, arahan ini menyebar luas di seluruh SKPA dan BUMD Aceh. Hal yang sama juga berlaku di Pramuka seluruh Indonesia.
“Kabarnya intruksi langsung dari Mualem,” kata sumber tadi.
Hasil Musyawarah Daerah (Musda) ke-10 Gerakan Pramuka Kwarda Aceh di Anjong Mon Mata dilaporkan di luar ‘peunutoh’ Mualem Muzakir Manaf.
Harapan Mualem agar ketua Pramuka Kwarda Aceh bukan orang politik serta memiliki pengalaman di Pramuka minimal 5 tahun akhirnya tak terwujud. Yang terjadi justru sebaliknya.
Dimana, Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Aceh untuk masa bakti 2025–2030. Pemilihan tersebut berlangsung dalam Musyawarah Daerah (Musda) ke-10 Kwarda Aceh yang digelar di Salah Satu Hotel Di Banda Aceh, Kamis (19/6/2025).
Informasi yang diperoleh wartawan, sejak awal Musda dimulai, Mualem sudah mewanti-wanti agar penerusnya di pramuka Aceh bukanlah orang politik dan telah memiliki pengalaman di pramuka.
Wagub Dekfadh sendiri diketahui merupakan Ketua Gerindra Aceh.
Mualem dalam sambutan pada pembukaan Musda Pramuka Aceh menegaskan bahwa pemilihan Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) Pramuka Aceh periode 2025–2030 harus mengacu pada aturan organisasi, khususnya hasil Musyawarah Nasional (Munas) Pramuka 2023.
“Pertama, tidak boleh mencalonkan diri jika berasal dari partai politik. Kedua, harus memiliki pengalaman di Pramuka minimal lima tahun,” ujar Mualem saat membuka Musyawarah Daerah (Musda) ke-10 Gerakan Pramuka Kwarda Aceh di Anjong Mon Mata, Komplek Meuligoe Gubernur Aceh, Rabu (18/6/2025).
Mualem, yang juga Ketua Majelis Pembimbing Daerah (Mabida) Pramuka Aceh, mengingatkan agar aturan yang telah disepakati tidak dilanggar demi kepentingan sesaat.
“Pagar yang kita buat harus kita jaga, jangan sampai pagar malah makan tanaman,” tegasnya.
Sementara itu, Fadhlullah usai terplih menyampaikan komitmennya untuk memajukan Gerakan Pramuka di Aceh. Ia menegaskan ” bahwa pramuka merupakan wadah strategis dalam membentuk karakter serta mengembangkan kompetensi generasi muda di Bumi Serambi Mekkah.”










