Banda Aceh– Senyum ramah dan keakraban mewarnai penyambutan mahasiswa internasional asal Malaysia dan Thailand di Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda. Bagi mahasiswa internasional, kedatangan ke Banda Aceh bukan sekadar memulai perjalanan akademik, tetapi juga langkah awal mengenal sebuah rumah baru yang sarat dengan budaya dan sejarah.
Para mahasiswa internasional tidak hanya diperkenalkan pada dunia perkuliahan. Mahasiswa internasional diajak menelusuri kehidupan di Aceh: dari gedung lembaga bahasa, kantor imigrasi, bank, kantor polisi, hingga simbol-simbol yang merekam sejarah panjang masyarakat, seperti Masjid Raya Baiturrahman dan Museum Tsunami yang penuh makna. Semua itu menjadi jendela pertama untuk memahami Aceh sebagai bumi syariah.
Rektor UIN Ar-Raniry, Prof. Mujiburrahman, saat membuka kegiatan orientasi.
Dia menyampaikan, terima kasih telah memilih kampus UIN Ar-Raniry. “Selamat datang dan belajarlah dengan baik di sini. Ikutilah adat istiadat masyarakat setempat, serta arahan dari UPT. Pusat Layanan Internasional agar proses pendidikan berjalan lancar.” Pesan Prof. Mujiburrahman.
Hari-hari orientasi dipenuhi beragam kegiatan: pengenalan layanan kampus, pertemuan dengan pimpinan-pimpinan kampus, mahasiswa voluntir (IOV), asosiasi pelajar Malaysia dan Thailand, pemaparan sistem akademik, hingga sesi informasi tentang layanan imigrasi dan perlindungan mahasiswa internasional. Semua dirancang agar mahasiswa internasional merasa aman, nyaman, dan mampu beradaptasi dengan lingkungan baru.
Kepala UPT. Pusat Layanan Internasional (Internasional Office), Prof. Saiful Akmal. Beliau menyampaikan, Mahasiswa internasional juga berkesempatan untuk mengikuti exchange keluar negeri dan kami dari UPT. Pusat Layanan Internasional siap membantu mahasiswa internasional selama proses menempuh pendidikan di UIN Ar-Raniry, ujar Prof. Saiful
Di balik agenda yang padat, terselip kisah-kisah pribadi yang menyentuh hati. Daniel Iskandar, mahasiswa asal Malaysia, berbagi kesannya setelah melihat ke beberapa tempat bersejarah. “Saya melihat banyak sejarah penting di Banda Aceh, khususnya tentang tsunami. Semoga keberadaan saya di UIN Ar-Raniry menjadi kesempatan untuk belajar, menambah ilmu, dan menjadi insan yang baik seperti masyarakat Aceh,” ungkapnya
Sementara itu, Kasfurohman, mahasiswa asal Thailand, menyampaikan rasa bahagianya. “Hari ini begitu penuh ilmu dan kegembiraan. Dari pagi hingga sore, saya merasa sangat bahagia,” tuturnya
Kehadiran mahasiswa internasional memberi nilai tambah bagi mahasiswa lokal UIN Ar-Raniry. Interaksi lintas budaya membuka ruang pertukaran pengetahuan, memperluas perspektif global, sekaligus memperkaya pemahaman akan kearifan budaya.










