SUKA MAKMUR – Banjir yang menerjang Beutong Ateuh Bangalang menutup badan jalan dan memutus akses antar desa. Luapan Sungai Krung Beutong membuat bantuan sulit masuk, sementara warga di Desa Blang Meurandeh, Babah Suak, Blang Puuk, dan Kuta Teunggeh terdampak, bahkan ada rumah yang hanyut dibawa arus. Kondisi ini menegaskan betapa rentannya infrastruktur dan keselamatan warga.
Irwansyah, pemuda setempat sekaligus mahasiswa di Banda Aceh, menyatakan seluruh desa terdampak banjir. Ia berharap Pemerintah Provinsi Aceh dan Pemerintah Kabupaten Nagan Raya memberikan perhatian serius. Seruan ini bukan sekadar permohonan bantuan, tetapi panggilan agar pemerintah mengambil langkah konkret mencegah musibah berulang.
Mahasiswa asal Beutong Ateuh lainnya, seperti Syahrul Gunawan, Darmawan, Syaiful, dan Faisal, menggambarkan kondisi memprihatinkan di lapangan: banyak rumah rata dengan tanah dan hanyut terbawa arus. Warga kini sangat membutuhkan bantuan darurat.
“Ini bukan sekadar statistik, tetapi wajah nyata penderitaan yang terus berulang setiap musim hujan,” ujar Darmawan.
Said Alif Muhammad, demisioner Wakil Ketua II IPMB, mengingatkan bahwa banjir bandang pernah melanda wilayah ini sebelumnya.
“Jangan telat, jangan terlambat. Masyarakat menunggu langkah nyata dan solusi yang benar-benar membantu mereka.”
Teuku Afrizal dari IPELMASRA Banda Aceh menekankan perlunya pembangunan infrastruktur strategis, seperti Giant Sea Wall, tidak hanya di tepi laut tetapi juga sepanjang sungai rawan banjir. Tanpa perencanaan matang, masyarakat akan terus menghadapi ancaman banjir setiap tahun.
“Banjir di Beutong Ateuh Bangalang bukan sekadar bencana alam; ini mencerminkan lemahnya perencanaan infrastruktur dan mitigasi risiko. Pemerintah Provinsi Aceh dan Kabupaten Nagan Raya harus hadir bukan hanya dengan bantuan darurat, tetapi juga kebijakan strategis dan proyek nyata agar tragedi yang sama tidak terulang. Warga menunggu bukan hanya simpati, tetapi tindakan nyata,” ujar dia.








