Ada kabar baik bagi para korban banjir di seluruh Aceh. Saat ini ternyata ada pihak ‘swasta’ yang melirik potensi lumpur yang menerjang rumah warga di akhir November 2025 lalu.
Lumpur tebal yang merusak hampir 18 kabupaten kota Aceh tersebut ternyata bakal segera menjadi nilai ekonomi yang lumayan tinggi. Banyak warga Aceh yang bakal kaya raya jika potensi tersebut beneran digarap.
Bayangnkan, keberadaan lumpur banjir sendiri yang menutup ribuan rumah warga di Aceh pasca banjir jadi persoalan serius. Warga kesulitan membersihkan lumpur. Namun kini tiba-tiba jadi barang yang bakal segera diburu oleh investor swasta.
Jangan tertawa dulu dan mengira hal ini bualan semata. Karena yang menyampaikan hal tersebut adalah orang nomor satu di negara ini.
Ya, informasi ini disampaikan Presiden Prabowo Subianto saat memimpin rapat koordinasi di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, beberapa hari lalu.
Nah, uniknya informasi ‘swasta’ yang melirik lumpur banjir Aceh sendiri dilaporkan oleh Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem kepada Prabowo.
Mualem lapor ke Prabowo dan sang presiden mengungkapkan potensi ‘luar biasa’ tersebut dalam rapat koordinasi. Bukankah ini pembahasan dua level pejabat tinggi di negara ini?
“Gubernur melaporkan ke saya, ada pihak-pihak swasta yang tertarik, dia bisa memanfaatkan lumpurnya di mana-mana. Jadi tidak hanya di sungai, tapi yang di sawah dan sebagainya. Silahkan ini saya kira bagus sekali (kalau ada swasta beli lumpur),” ujar Prabowo, dikutip dari siaran langsung YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (1/1/2025).
Atas usulan tersebut, Prabowo meminta minat pihak swasta itu bisa dikaji sehingga bisa segera dieksekusi. Harapannya bisa membantu pelaksanaan pembersihan kuala atau muara sungai.
“Pendangkalan kuala-kuala, pembersihan kuala-kuala, membuka itu saya kira bagus sekali. Jadi akses sungai-sungai dapat bermanfaat bagi kita, sekaligus kita menghadapi kemungkinan cuaca yang ekstrem kita sudah siap,” ujar Prabowo.
“Saya sangat setuju dengan gagasan itu, tinggal nanti dirumuskan bagaimana kita melaksanakannya,” sambungnya.
Sementara itu Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin juga turut menyampaikan usul dari jajaran Kemenhan dan TNI agar menyegerakan pembersihan lumpur yang membuat sungai-sungai besar di Aceh menjadi dangkal.
Setelah pembersihan tersebut, kapal-kapal pembawa bantuan dan alat berat pun bisa dikerahkan secara langsung ke titik-titik pekerjaan penanganan bencana. Berbeda dengan sebelumnya yang harus dipindahkan lebih dulu ke moda angkutan darat.
“Kita lakukan dua sekaligus, satu adalah pendalaman, satu adalah yang membawa alat berat sehingga dia bisa masuk sekaligus membersihkan kayu-kayu dan sebagainya,” kata Sjafrie.
Informasi ini memang bikin geleng-geleng.
Nah, jika merujuk pada statemen para pejabat negara ini. Maka keberadaan lumpur di Aceh perlu segera dilindungi.








