Hari ini, Jumat malam 23 Januari 2026. Saya menulis surat ini untuk mengisi keheningan di bawah tenda. Bukan menangisi nasib dan meratapi takdir.
Sudah hampir dua bulan bencana itu menyapa kami di Kota Lintang, Aceh Tamiang. Rumah hancur dan harta benda raib, dan sebahagian besar keluarga hilang.
Lumpur masih dimana-mana. Kampung kami terasa hampa. Masih banyak warga dengan tatapan kosong melihat. Tak tahu harus bagaimana hidup baru.
Rumah hancur mungkin bisa dibangun lagi. Pekerjaan dan tempat usaha hilang bisa dirintis kembali. Tapi keluarga kami tak akan pernah bisa kembali.
Saya tak tahu, mengapa tuhan masih membiarkan saya hidup. Bisa jadi tuhan memberi saya umur panjang untuk memperbaiki diri. Menembus kesalahan di masa lalu. Memperbaiki diri untuk memulai hidup baru.
Saya percaya, bahwa dibalik musibah selalu ada pesan berharga yang membuat daerah kami hancur lebur.
Oya perkenalkan, saya Syamsuddin, umur 45 tahun, warga asal Kota Lintang. Usai banjir, saya sempat satu bulan di tenda dan kini menetap sementara di Peureulak Aceh Timur. Ini karena keluarga besar saya memang di Peureulak. Demikian juga dengan pekerjaan.
Jumat pagi tadi, saya tiba-tiba rindu dengan kampung halaman dan di sinilah saya malam ini. Merindu pada mereka yang tak akan pernah kembali.
Sepanjang jalan pagi tadi, saya melihat saudara saya senasib dengan tatapan kosong membersihkan puing puing rumah dan sisa sisa lumpur. Semangat mereka untuk memulai kembali hidup masih sangat tinggi. Hal itu sangat berbeda dengan saya. Hidup saya telah hilang di bawa hantaman banjir dan kayu.
Banyak relawan dari berbagai daerah membawa senyum. Banyak TNI dan polisi dari berbagai daerah membersihkan musala musala kami. Keberadaan mereka lah yang memberi sedikit harapan kepada kami untuk bangkit.
Hal inilah yang membuat kami yakin bahwa kami tak sendiri. Kami bagian dari NKRI dan saudara kami masih peduli. Untuk itu, dari hati yang paling dalam, saya mengucapkan terimakasih kepada saudara sebangsa dan setanah air yang telah membantu.
“Terimakasih pak polisi, pak TNI dan saudara relawan dari berbagai daerah yang datang ke tempat kami untuk membantu.”
Kami bukan malas, bukan tak mau bergabung dengan kalian. Hanya saja hidup kami benar-benar berbeda setelah banjir bandang kemarin. Karena setiap berkunjung ke sini, hati kami tersayap sayap. Kenangan yang tak pernah bisa kembali. Beri kami sedikit waktu untuk bisa pulih.
Sekali lagi, terimakasih para relawan dan pak polisi dan TNI yang telah datang membantu.
Di antara kabar duka, saya juga mengucapkan selamat berbahagia untuk gubernur kami Mualim Muzakir Manaf. Selamat menempuh hidup baru. Anda kini memiliki sosok pelipur lara dan pelukan hangat ketika sedih. Tempat yang nyaman untuk kembali kala susah dan senang.
Doakan kami pak agar bisa setegar anda. Namun nasib kami mungkin sedikit berbeda. Tapi anda berhak bahagia.
Tenda kota Lintang, 23 Januari 2024.
Warga biasa, Syamsuddin.









