Banda Aceh – Harga daging sapi dan kerbau pada hari pertama tradisi meugang menyambut bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah di beberapa daerah di Aceh seperti di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) dan Aceh Selatan mencapai Rp200 ribu per kilogram.
“Hari ini harga daging baik kerbau maupun sapi kita jual Rp200 ribu per kilogram,” kata salah seorang pedagang daging meugang, Musliadi, di Abdya, Senin.
Lonjakan harga ketimbang hari biasa sekitar Rp150 ribu per kilogram tersebut dipicu atas tingginya permintaan masyarakat dan terbatasnya stok ternak di daerah tersebut.
Tradisi meugang adalah kegiatan memasak daging dan menikmati bersama keluarga.
Pantauan ANTARA, terlihat banyak pedagang musiman yang memotong ternak dan menjual daging di sepanjang jalan nasional lintas Babahrot-Tapaktuan (Abdya-Aceh Selatan).
Musliadi menambahkan, kalau untuk tulang dan isi dalamnya bervariasi. Isi dalam kerbau dijual Rp25–30 ribu per kilogram, sedangkan tulang paha depan maupun belakang ditawarkan Rp300–500 ribu, tergantung kesepakatan dengan pembeli.
“Meski harga tinggi, antusiasme masyarakat tetap besar. Lokasi penjualan terlihat ramai oleh warga yang ingin membawa pulang daging untuk keluarga,” ujarnya.
Sementara itu, salah seorang pembeli daging meugang di Pasar Inpres Blangpidie, Abdya, Herman, mengatakan bahwa membeli daging pada hari meugang merupakan kewajiban budaya yang diwariskan turun-temurun.
“Walaupun sedikit, kami orang tua tetap harus beli untuk dibawa pulang. Tidak harus banyak, yang penting ada meskipun setengah kilogram,” kata Herman.
Kondisi yang sama juga berlaku di Kabupaten Aceh Selatan, salah seorang pembeli dari Kecamatan Samadua, Rizki mengatakan, untuk harga daging meugang di sana bervariasi, tetapi untuk rata-ratanya mencapai Rp200 ribu per kilogram.
“Kalau di Aceh Selatan mencapai Rp200 per kilogram, ada juga yang Rp180 ribu di daerah ujung seperti Trumon. Tapi rata-rata memang Rp200 ribu per kilogram,” kata Rizki.
Meski demikian, lanjut dia, masyarakat tetap terlihat antusias membeli daging, mengingat meugang merupakan hari yang begitu sakral di Aceh, artinya sudah menjadi kewajiban makan daging saat meugang menyambut Ramadhan ini.
“Tadi saya lihat di daerah kota Tapaktuan (ibu kota Aceh Selatan) cukup ramai masyarakat yang membeli daging. Karena ini meugang, jadi walaupun mahal masyarakat sudah terbiasa, memang setiap tahun seperti ini,” demikian Rizki.
Sebagai informasi, tradisi meugang sendiri merupakan warisan budaya masyarakat Aceh yang dilaksanakan setiap menjelang Ramadhan, Idul Fitri atau Idul Adha, disambut dengan memasak dan menyantap daging bersama keluarga.
Tradisi meugang ini, telah lama menjadi perekat sosial dan cerminan nilai gotong royong serta rasa syukur masyarakat di tanah rencong.









