TAMIANG – Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Suara USU berkolaborasi dengan Korps Mahasiswa Pencinta Alam dan Studi Lingkungan Hidup (KOMPAS) USU menyelenggarakan kegiatan pengabdian masyarakat di Masjid Darul Muhsinin, Dusun Suka Maju, Desa Rantau Bintang, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, pada 17−18 Maret 2026.
Kegiatan ini dilaksanakan untuk mempererat kebersamaan sekaligus mengungkap kondisi masyarakat di tengah masa pemulihan pascabencana banjir yang terjadi pada akhir tahun 2025. Proses tersebut dilakukan melalui diskusi bersama yang kemudian didokumentasikan dan dirancang untuk dipublikasikan sebagai sarana menyalurkan suara masyarakat.
Kegiatan pengabdian masyarakat yang berlangsung selama dua hari ini diisi dengan berbagai rangkaian acara, seperti buka bersama dalam rangka mengisi bulan Ramadan, forum diskusi, pembuatan kerajinan tangan, serta kegiatan bermain bersama anak-anak desa.
Forum diskusi mengangkat tema “Evaluasi Pemulihan Pascabencana di Aceh Tamiang” sebagai bentuk refleksi terhadap bencana yang terjadi, sekaligus untuk menilai sejauh mana proses pemulihan berlangsung, baik dari segi ekonomi maupun lingkungan. Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana untuk mengulik kondisi masyarakat saat ini, tetapi juga diharapkan dapat menciptakan ruang komunikasi antara masyarakat terdampak dan mahasiswa, sehingga keduanya dapat saling berbagi pemikiran serta pengetahuan.
Dalam diskusi ini, terungkap keadaan masyarakat yang masih menghadapi berbagai kendala, terutama pada sektor ekonomi, lingkungan, dan ketersediaan air bersih. Salah satu warga menyampaikan bahwa dampak bencana sangat berpengaruh terhadap pendapatan masyarakat, seperti warga yang memperoleh penghasilan dari perkebunan sawitnya, jika sebelumnya ia dapat menghasilkan sekitar dua ton sawit, kini hasil panen menurun drastis. Bahkan dalam beberapa bulan terakhir, pohon sawit mulai mati secara bertahap sehingga menyebabkan penurunan pendapatan.
Sementara itu, masyarakat yang bekerja sebagai petani mengalami kelumpuhan mata pencaharian akibat ladang dan sawah yang rusak. Endapan lumpur yang masih menutupi hampir seluruh wilayah juga membuat lahan belum dapat diolah, sehingga tidak mampu menghasilkan tanaman. Selain itu, hingga saat ini sebagian masyarakat masih merasakan trauma akibat bencana yang terjadi. Meskipun demikian, sebagian besar warga mengaku tidak ingin pindah dari kampung halaman mereka karena faktor ekonomi, terutama perkebunan sawit dan pertanian yang menjadi sumber penghasilan utama masyarakat.
Di sisi lain, muncul pula keluhan masyarakat terkait bantuan dari pemerintah yang dinilai belum terealisasi secara maksimal. Beberapa warga menyebut bahwa bantuan yang dijanjikan hingga kini belum mereka terima, bahkan terkesan mengalami keterlambatan.
“Yang kami dengar bantuan akan cair, tapi sampai sekarang belum ada. Kami hanya berharap itu bukan sekadar janji,” ujar salah satu warga.
Masyarakat mengaku selama ini justru lebih banyak menerima bantuan dari pihak pribadi atau relawan dibandingkan dari pemerintah. Meski demikian, mereka tetap berharap adanya perhatian yang lebih serius dari pemerintah untuk mempercepat proses pemulihan.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini disambut baik oleh masyarakat. Dalam sesi diskusi, mereka berharap hal-hal yang mereka sampaikan terkait kondisi dan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat dapat menarik perhatian publik, sehingga mendorong pemulihan pascabencana banjir yang benar-benar mampu memperbaiki kondisi dan kehidupan masyarakat. Selain itu, kegiatan pembuatan kerajinan tangan berupa gantungan kunci dari tali katun juga diharapkan tidak hanya memberikan kesenangan, tetapi juga memiliki nilai edukatif bagi masyarakat, khususnya anak-anak.









