Banda Aceh – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Tengah menyatakan bahwa sejumlah desa yang sempat terisolir pasca jembatan darurat ambruk akibat banjir bandang tiga hari lalu sudah dapat dilalui dengan kendaraan roda dua.
“Sudah bisa dilalui dengan kendaraan roda dua, di sana ada jembatan gantung,” kata Kepala BPBD Aceh Tengah Andalika yang dikonfirmasi dari Banda Aceh, Jumat.
Sebelumnya, hujan lebat yang terjadi pada Selasa (31/3) di Aceh Tengah, membuat kembalinya terjadi banjir bandang hingga membuat sejumlah jembatan darurat yang dibangun TNI ambruk dan tertutupnya tiga titik jalan provinsi akibat longsor.
Adapun jembatan darurat yang putus hingga membuat sepuluh desa terisolir tersebut yakni jembatan Kala Ili Kecamatan Linge, jembatan Burlah dan Bergang di Kecamatan Ketol. Sedangkan jalan yang sempat lumpuh berada di kawasan Bintang – Simpang Kraft.
Andalika menyampaikan, untuk akses ke desa yang terisolir tersebut sudah dapat dilalui menggunakan kendaraan roda dua melewati jembatan gantung di kawasan Burlah dan Kala Ilee. Sedangkan di Bergang, jembatannya sudah bisa dilewati kendaraan roda, karena kerusakan tidak terlalu berat.
“Jembatan gantung ada di Burlah dan jembatan gantung Kala Ili. Untuk jembatan Bergang masih bisa dilewati dengan kendaraan roda dua,” ujarnya.
Ia menyampaikan, untuk pembangunan kembali jembatan tersebut masih dalam proses, dan direncanakan bakal dibangun jembatan bailey.
Sedangkan untuk jalan provinsi di kawasan Bintang – Simpang Kraft menuju Kabupaten Gayo Lues juga sudah dapat dilalui setelah dilakukan pembersihan longsoran di badan jalan.
“Jalan status provinsi (Bintang – Sp Kraft) yang bertemu dengan jalan nasional Takengon-Gayo Lues sudah bisa dilewati,” katanya.
Dirinya menuturkan, sejauh ini, masyarakat yang berada di seberang jembatan putus tersebut sudah dapat memenuhi kebutuhan mereka masing-masing, karena sudah dapat dilalui kendaraan roda dua.
“Kalau kebutuhan sembako masyarakat ada, karena mereka sudah dapat melewati jembatan dengan kendaraan roda dua,” demikian Andalika.










