TAPAKTUAN – Di tengah deretan nama besar dalam sejarah perjuangan Aceh, kisah Mat Sisir hadir sebagai suara sunyi yang nyaris terlupakan. Ia bukan panglima, bukan pula pemimpin pasukan. Namun dari sebuah kampung sederhana di Lawe Sawah, Kluet Timur, lahir keberanian yang mengguncang kekuasaan kolonial Belanda pada awal abad ke-20.
Mat Sisir diperkirakan lahir sekitar tahun 1897, di penghujung abad ke-19. Ia tumbuh sebagai pemuda biasa di tengah tekanan kolonial yang memaksa rakyat menyerahkan upeti dan hidup dalam bayang-bayang ketakutan. Dalam situasi itulah, keberaniannya ditempa.
Berbeda dengan tokoh-tokoh besar seperti Tengku Raja Angkasa, Teungku Cut Ali, dan Panglimo Rajo Lelo yang memimpin perlawanan secara terorganisir, Mat Sisir memilih jalan sendiri. Ia bergerak dalam sunyi, tanpa pasukan, namun dengan tekad yang tak kalah kuat.
Menurut penuturan masyarakat setempat, kegelisahan Mat Sisir semakin memuncak ketika melihat rakyat diperlakukan semena-mena oleh penjajah. Hari-hari menjelang peristiwa besar itu, ia kerap terlihat mengasah parang berulang kali. Bahkan, ia menggunakan daun talas untuk menguji ketajaman senjatanya sebuah detail kecil yang kemudian dikenang sebagai pertanda dari rencana besar.
Puncaknya terjadi pada tahun 1922, saat masyarakat dikumpulkan untuk menyerahkan upeti kepada seorang perwira Belanda, Letnan Kolonel Yanderhokf. Di tengah kerumunan warga, Mat Sisir hadir seperti biasa. Ia mengenakan sarung, menyembunyikan sebilah parang yang telah diasah tajam.
Tanpa banyak bicara, ia melangkah maju dan dalam satu gerakan cepat menghunus parang tersebut, menyerang sang perwira hingga tewas di tempat. Aksi itu sontak menggemparkan suasana.
Namun, tak lama setelah itu, pasukan Belanda melepaskan tembakan. Mat Sisir gugur seketika di lokasi kejadian. Yang menggetarkan, menurut cerita warga, ia menghembuskan napas terakhir dalam posisi sujud sebuah akhir yang diyakini sebagai tanda syahid.
Kisah pilu tidak berhenti di situ. Istrinya yang saat itu tengah hamil ditangkap dan dipenjara oleh Belanda sebagai bentuk tekanan. Dari dalam penjara, lahirlah anak mereka yang diberi nama Sabil Iman. Setelah melahirkan, sang istri akhirnya dibebaskan.
Salah satu tokoh masyarakat, Jamalul Hakim, menegaskan bahwa kisah Mat Sisir menyimpan pelajaran besar tentang keberanian dan pengorbanan.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Kami berharap pemerintah memberi perhatian terhadap makam Mat Sisir agar tetap terjaga,” ujarnya.
Ia juga menyebutkan bahwa saat pertama kali dimakamkan, kuburan Mat Sisir disebut-sebut sempat mengeluarkan cahaya sebuah kisah yang hingga kini masih hidup dalam ingatan masyarakat.
Kini, makam Mat Sisir masih berada di Lawe Sawah, sekitar 47,8 kilometer dari Tapaktuan. Namun kondisinya masih sederhana dan belum mendapat perhatian maksimal. Masyarakat berharap adanya pembangunan pagar agar makam tersebut terlindungi dari hewan ternak dan tetap terjaga sebagai situs sejarah.
Sementara itu, Syahrul Amin, kader PMII Aceh, menegaskan pentingnya merawat kisah perjuangan seperti ini agar tidak hilang ditelan zaman.
“Sebagai intelektual muda, kita harus merawat dan menjaga kisah perjuangan seperti ini agar tidak hanya menjadi cerita dongeng bagi anak cucu kita kelak. Sebagai generasi penerus bangsa, sudah menjadi tanggung jawab kita untuk melestarikan kisah perjuangan para pahlawan terdahulu agar terus hidup dan dapat diteruskan dari generasi ke generasi,” ujarnya.
Kisah Mat Sisir menjadi bukti bahwa perjuangan melawan penjajah tidak hanya dilakukan oleh tokoh besar, tetapi juga oleh rakyat biasa yang memiliki keberanian luar biasa. Dalam sunyi ia bergerak, dalam sekejap ia mengguncang kekuasaan, dan dalam sujud ia mengakhiri hidupnya meninggalkan jejak sejarah yang layak dikenang sepanjang masa.










