Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Kolom

Menjaga JKA, Merawat Nyawa Rakyat Aceh

Surat Terbuka untuk Sang Mualim:

redaksi by redaksi
11/05/2026
in Kolom
0
Warga Pidie Mulai Terdampak Pembatasan JKA, RSUD Sigli Tetap Layani Pasien

Oleh: Nasrul Zaman. Anak negeri dataran tinggi.

Kepada yang kami muliakan, Mualim, Sang Panglima yang langkahnya pernah menggetarkan rimba dan kini pundaknya memikul harapan jutaan raga di Tanah Rencong.

Aceh bukan sekadar sepetak tanah di ujung barat Nusantara. Ia adalah hikayat tentang ketabahan. Di setiap jengkal tanahnya, tersimpan keringat, air mata, dan doa-doa yang dipanjatkan di tengah desing peluru masa lalu. Namun, di atas segala narasi perjuangan fisik itu, ada satu warisan kemanusiaan yang lahir dari rahim perdamaian, sebuah permata yang selama 17 tahun ini menjadi payung bagi mereka yang kepanasan dan selimut bagi mereka yang kedinginan dalam kesakitan: *Jaminan Kesehatan Aceh (JKA).*

Hari ini, kabar itu berembus kencang, membawa kegelisahan ke bilik-bilik rumah penduduk di pelosok Gayo hingga ke pesisir Meulaboh. Ada bisik-bisik yang menyayat hati—bahwa JKA, buah karya para pejuang, hendak dihentikan di bawah kepemimpinan Sang Panglima sendiri. Sungguh, sebuah kontradiksi yang jika benar terjadi, akan menjadi catatan paling muram dalam sejarah perjalanan bangsa Aceh.

Sejarah yang Ditulis dengan Nurani

Mari kita memutar kembali ingatan, Mualim. JKA bukanlah sekadar program administratif atau deretan angka dalam APBA. Ia adalah “anak kandung” dari semangat kemanusiaan para kombatan. Ketika senjata diletakkan dan perdamaian dipeluk, para pemimpin Aceh yang lahir dari rahim perjuangan menyadari bahwa musuh nyata berikutnya bukanlah musuh bersenjata, melainkan kemiskinan dan penyakit yang merenggut nyawa rakyat jelata tanpa permisi.

Selama hampir dua dekade, JKA telah melewati tiga masa kepemimpinan gubernur yang juga merupakan rekan seperjuangan Mualim—Irwandi Yusuf, Zaini Abdullah, hingga masa transisi Nova Iriansyah. Mereka, dengan segala dinamika politiknya, tetap teguh menjaga JKA. Mengapa? Karena mereka tahu bahwa bagi seorang petani di Pidie atau nelayan di Aceh Utara, kartu JKA adalah satu-satunya jaminan bahwa mereka tidak akan mati di teras rumah sakit hanya karena tak punya biaya.

JKA telah menjadi mercusuar. Ia adalah benchmark nasional. Sebelum Indonesia mengenal BPJS secara menyeluruh, Aceh telah lebih dulu memanusiakan manusianya melalui layanan kesehatan semesta. Dunia melihat Aceh bukan lagi sebagai tanah konflik, melainkan tanah inovasi kemanusiaan.

Tragedi Sang Panglima dan “Anak Kandungnya”

Betapa getir rasanya membayangkan sebuah ironi: JKA dilahirkan oleh para pejuang GAM sebagai bukti cinta pada rakyat, namun di usia dewasanya yang ke-18 tahun, ia terancam “dibunuh” oleh panglimanya sendiri.
Mualim, gelar “Panglima” bukan sekadar jabatan militer. Dalam memori kolektif rakyat Aceh, Panglima adalah pelindung. Panglima adalah sosok yang berdiri paling depan saat rakyat terancam. Jika hari ini ancaman itu datang dari ketidakmampuan mengakses layanan kesehatan, bukankah seharusnya Sang Panglima kembali menghunuskan “pedang” kebijakan untuk melindungi mereka?
Menghentikan JKA bukan sekadar memutus anggaran. Ia adalah memutus harapan.

Jika JKA tiada, maka ribuan orang tua akan kembali ragu membawa anaknya yang demam ke dokter. Ribuan pasien cuci darah akan menatap langit dengan keputusasaan. Dan di sana, di antara isak tangis di selasar rumah sakit, nama Sang Panglima akan disebut bukan sebagai penyelamat, melainkan sebagai sosok yang memadamkan cahaya di mata rakyatnya sendiri.

Bahasa Rasa: Memanggil Sisi Hati Sang Pemimpin

Setiap pemimpin sejatinya adalah seorang penyair bagi nasib rakyatnya. Ia menggubah kebijakan seperti menyusun bait-bait puisi yang menenangkan jiwa yang lara. Kami memohon kepadamu, Mualim, lihatlah melampaui angka-angka defisit anggaran atau efisiensi fiskal. Lihatlah dengan mata batin seorang ayah, seorang saudara.
Ada keindahan dalam kemurahan hati seorang pemenang. Kekuasaan yang sesungguhnya bukanlah tentang kemampuan untuk memangkas, melainkan kemampuan untuk memelihara. JKA adalah warisan abadi yang akan mencatatkan nama Mualim dalam tinta emas sejarah jika Anda mampu menjaganya seumur masa.

Jangan biarkan sejarah mencatat bahwa JKA yang lahir dari darah dan air mata pejuang, harus menemui ajalnya di tangan mereka yang paling dipercaya untuk menjaganya. Sejarah itu kejam bagi mereka yang melupakan janji-janji kemanusiaan, namun sangat indah bagi mereka yang meletakkan keselamatan rakyat di atas segala kepentingan teknokrasi yang dingin.

Menjaga JKA, Menjaga Marwah Aceh

Aceh memiliki marwah yang tinggi. Marwah itu terpancar ketika kita mampu menunjukkan pada dunia bahwa di tanah ini, tidak boleh ada satu pun warga yang telantar saat raga digerogoti sakit. JKA adalah manifestasi dari nilai Peumulia Jamee—memuliakan tamu, dan tamu paling agung dalam setiap kebijakan adalah rakyat itu sendiri.
Kami mengetuk pintu hati Mualim. Kebijakan mungkin bisa diubah, anggaran mungkin bisa dicari jalannya, namun nyawa manusia tidak pernah bisa dikembalikan. Jangan biarkan JKA menjadi kenangan yang pahit.

Jadikanlah ia warisan yang terus mengalir, sebuah amal jariyah kemanusiaan yang tak putus-putus.
Sang Panglima, rakyat tidak meminta istana. Mereka hanya meminta kepastian bahwa ketika mereka sakit, negara hadir memeluk mereka melalui JKA. Ambillah peran sebagai penjaga abadi warisan ini. Jadilah pahlawan yang tidak hanya memenangkan perang, tetapi juga memenangkan pertempuran melawan penderitaan rakyat.
Biarlah JKA terus berjalan, melampaui usia kami, melampaui masa jabatan siapa pun, sebagai bukti bahwa di Aceh, kemanusiaan selalu punya tempat tertinggi di singgasana kebijakan.

Semoga Allah Swt. melembutkan hati Sang Panglima dan memberikan petunjuk untuk selalu berpihak pada mereka yang lemah. Jagalah JKA, Mualim. Jagalah detak jantung rakyatmu.

Previous Post

Ketua DPRK Banda Aceh Motivasi Pengurus IPMS

Next Post

Illiza Tampung Aspirasi Warga Kota Lewat Forum Suara Warga

Next Post
Illiza Tampung Aspirasi Warga Kota Lewat Forum Suara Warga

Illiza Tampung Aspirasi Warga Kota Lewat Forum Suara Warga

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Satpol PP dan WH Aceh Besar Patroli di Waduk Keliling

Satpol PP dan WH Aceh Besar Patroli di Waduk Keliling

11/05/2026
Universitas Tanjungpura Salurkan Bantuan untuk Korban Bencana Aceh Barat

Universitas Tanjungpura Salurkan Bantuan untuk Korban Bencana Aceh Barat

11/05/2026
Illiza Tampung Aspirasi Warga Kota Lewat Forum Suara Warga

Illiza Tampung Aspirasi Warga Kota Lewat Forum Suara Warga

11/05/2026
Warga Pidie Mulai Terdampak Pembatasan JKA, RSUD Sigli Tetap Layani Pasien

Menjaga JKA, Merawat Nyawa Rakyat Aceh

11/05/2026
Ketua DPRK Banda Aceh Motivasi Pengurus IPMS

Ketua DPRK Banda Aceh Motivasi Pengurus IPMS

11/05/2026

Terpopuler

Ratusan Eks Karyawan PT KKA Mengadu ke Azhari Cage Terkait Tunggakan Gaji dan Pesangon

Ratusan Eks Karyawan PT KKA Mengadu ke Azhari Cage Terkait Tunggakan Gaji dan Pesangon

06/05/2026

Tabligh Akbar Muhammadiyah Abdya, Dr. Safaruddin Titip Beberapa Pesan Keumatan

Di Ikuti Dua Kemukiman, Sekda Abdya Buka MTQ Tingkat Kecamatan Jeumpa

Krak, Pasangan Asal Aceh Tempuh Perjalanan Darat dari Indonesia hingga Mekkah

Resmi Dilantik, PC IPNU Aceh Besar Siap Perkuat Gerakan Pelajar NU

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com