Banda Aceh – Dalam rangka memperkuat jaringan dakwah dan sinergi antara organisasi mahasiswa dengan pemangku kebijakan daerah, pengurus Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Universitas Syiah Kuala (USK) melakukan silaturahmi strategis dengan alumni yang kini duduk sebagai anggota legislatif. Bertempat di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh, rombongan KAMMI USK disambut hangat oleh Tuanku Muhammad, S.Pd.I., M.Ag, yang merupakan Wakil Ketua Komisi III DPRK Banda Aceh.
Silaturahmi yang berlangsung pada Selasa, 12 Mei 2026, pukul 13.30 hingga 15.00 WIB ini dihadiri oleh jajaran pengurus inti KAMMI USK. Mereka yakni Reza Fahlevi selaku Ketua Umum, Zacky Al-Kausar selaku Kepala Bidang Humas, Melisa Novianti selaku Bendahara Umum, serta Nazilatul Azqia selaku Kepala Divisi Kaderisasi. Kehadiran mereka menegaskan keseriusan KAMMI USK dalam menjalin komunikasi lintas generasi dan belajar langsung dari praktik kepemimpinan di lembaga legislatif.
Dalam pertemuan yang berlangsung dalam suasana penuh keakraban, Tuanku Muhammad menyampaikan sejumlah pesan substansial kepada para kader muda KAMMI.
Ia menekankan bahwa esensi kepemimpinan bukan terletak pada formalitas jabatan, melainkan pada semangat, gairah, dan keberanian dalam menginisiasi perubahan. Menurutnya, banyak pemimpin yang terjebak dalam rutinitas dan gaya kepemimpinan usang yang tidak lagi relevan dengan dinamika zaman dan tuntutan masyarakat.
“Pemimpin itu harus bergairah. Jangan hanya sibuk dengan gaya-gaya lama yang itu-itu saja. Jika kita terus terpaku pada cara-cara usang, maka organisasi akan berjalan di tempat dan kalah saing dengan gerakan-gerakan lain yang lebih dinamis,” tegas Tuanku Muhammad di hadapan para pengurus KAMMI USK.
Pesan ini menjadi momen reflektif penting bagi para kader. Dalam konteks KAMMI sebagai organisasi kaderisasi yang telah melahirkan banyak pemimpin nasional dan daerah, alumni seperti Tuanku Muhammad menjadi bukti bahwa kiprah KAMMI tidak berhenti setelah masa kampus usai. Justru, nilai-nilai yang ditanamkan selama berproses di organisasi harus terus dikembangkan dan diadaptasi dengan tantangan kekinian.
Reza Fahlevi, Ketua Umum KAMMI USK, menyambut baik pesan tersebut. Ia mengaku mendapatkan energi baru dan perspektif yang lebih luas mengenai bagaimana mengelola organisasi di tengah kesibukan anggotanya yang juga harus membagi waktu dengan kuliah dan kegiatan lain. Silaturahmi ini juga menjadi ruang dialog untuk menyampaikan berbagai agenda strategis KAMMI ke depan. Salah satu program unggulan yang disinggung adalah Daurah Marhalah I, yang merupakan pendidikan kader tingkat dasar bagi anggota baru. Program ini dirancang untuk membangun fondasi ideologis dan keterampilan manajemen organisasi.
“Kami sangat bersyukur bisa bertemu langsung dengan abangda Tuanku Muhammad. Beliau tidak hanya memberikan motivasi, tetapi juga kritik konstruktif yang selama ini mungkin luput dari evaluasi kami. Kami juga mendapat masukan berharga terkait format kaderisasi yang lebih aplikatif dan kontekstual. Beliau berpesan agar pendidikan kader tidak hanya berisi teori, tetapi juga pembiasaan kerja kolektif dan problem solving di lapangan, Intinya, kami harus bergerak lebih cerdas, tidak sekadar ramai, tetapi juga berdampak,” ujar Reza.
Tuanku Muhammad juga sempat bertanya tentang tantangan utama yang dihadapi KAMMI USK saat ini. Para pengurus secara jujur mengakui bahwa salah satu kendala terbesar adalah terbatasnya ruang gerak pengurus senior karena padatnya aktivitas akademik dan kesibukan masing-masing, sementara pengurus junior masih dalam tahap adaptasi dan cenderung kaku dalam menjalankan tugas.
Menanggapi hal ini, Tuanku Muhammad memberikan resep sederhana namun mendalam. Ia menganalogikan organisasi dengan tim sepak bola. “Di lapangan, tidak semua pemain bisa berlari kencang sepanjang waktu. Kapasitas setiap pemain berbeda. Tugas pemimpin adalah membaca situasi dan menempatkan orang tepat di waktu tepat, tidak memaksakan semua bergerak dengan ritme yang sama,” jelasnya.
Ia menambahkan, salah satu gaya kepemimpinan yang perlu ditinggalkan adalah micromanagement berlebihan.
“Pemimpin yang baik bukan yang sibuk mengatur semua hal kecil, tetapi yang mampu mendesain sistem sehingga organisasi tetap berjalan meski ia tidak sedang ada,” pesannya.
Sepanjang pertemuan, Tuanku Muhammad juga berbagi kisah pengalamannya saat bergiat di KAMMI dulu. Mulai dari dinamika diskusi di sekretariat, aksi-aksi sosial di masyarakat, hingga proses pengambilan keputusan yang kadang berlangsung alot tetapi tetap dalam bingkai ukhuwah. Cerita-cerita ini menjadi pelecut semangat bagi para pengurus bahwa masa sulit bukanlah halangan untuk tetap produktif.










