Takengon — LPPM IAIN Takengon kembali menggelar program Coffee Morning sebagai ruang diskusi akademik dan refleksi sosial budaya, Rabu (20/5/2026). Kegiatan yang berlangsung di lingkungan kampus tersebut mengangkat tema “Gayo Language and Contemporary Challenges: An Academic Reflection on Fact and Reality.”
Kegiatan menghadirkan Dr. Shaumiwati, SS., M.Hum sebagai pemateri utama dan dimoderatori oleh Dr. Muhammad Riza, MA. Diskusi berlangsung hangat dan interaktif dengan dihadiri dosen, mahasiswa, serta sejumlah peserta yang antusias membincangkan posisi bahasa Gayo di tengah tantangan globalisasi dan perkembangan budaya digital saat ini.
Dalam pemaparannya, Dr. Shaumiwati menyoroti bahwa bahasa Gayo bukan sekadar alat komunikasi, melainkan bagian penting dari identitas budaya, memori kolektif, serta warisan intelektual masyarakat Gayo. Menurutnya, arus globalisasi dan dominasi bahasa populer telah membawa tantangan serius terhadap keberlangsungan bahasa daerah, terutama dalam penggunaan di kalangan generasi muda.
“Fakta menunjukkan bahasa Gayo masih digunakan dalam kehidupan masyarakat, tetapi realitasnya terjadi penurunan penggunaan dan kedekatan emosional di kalangan generasi muda,” ujarnya dalam diskusi tersebut. Ia menegaskan pentingnya peran keluarga, pendidikan, dan institusi budaya dalam menjaga keberlanjutan bahasa lokal agar tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Sementara itu, moderator kegiatan, Dr. Muhammad Riza, MA menyampaikan bahwa diskusi seperti ini menjadi bagian dari upaya akademik kampus dalam membangun kesadaran kolektif terhadap pentingnya pelestarian budaya lokal. Menurutnya, bahasa daerah harus ditempatkan bukan sebagai simbol masa lalu, tetapi sebagai sumber pengetahuan dan identitas yang tetap hidup dalam masyarakat modern.
Para peserta terlihat aktif mengajukan pertanyaan dan berbagi pandangan terkait strategi pelestarian bahasa Gayo, mulai dari pemanfaatan media digital, penguatan pendidikan berbasis budaya lokal, hingga pentingnya membangun kebanggaan generasi muda terhadap bahasa daerahnya sendiri. Suasana diskusi berlangsung cair namun tetap akademis, sejalan dengan semangat program Coffee Morning yang rutin digelar LPPM IAIN Takengon sebagai wadah pertukaran gagasan dan penguatan literasi akademik di lingkungan kampus.











