Jakarta – Amerika Serikat (AS) dan Iran akhirnya meneken nota kesepahaman (MoU) yang menjadi kerangka kerja untuk perdamaian kedua negara.
MoU itu ditandatangani oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di lokasi terpisah. Trump menekennya di Prancis di sela pertemuan puncak G7, sedangkan Pezeshkian di Iran.
“Ini tidak mudah,” ujar Trump sebelum membubuhkan tanda tangan, Rabu (17/6).
Komentar Trump ini berbeda dengan Pezeshkian yang justru membanggakan kesepakatan yang menurutnya “cerminan suara suatu bangsa yang tak menukar kehormatan dan kemerdekaannya dengan cara apa pun.”
Perbedaan nada ini pada dasarnya selaras dengan kondisi masing-masing pihak, di mana AS, dalam kesepakatan, terlihat lemah, sebaliknya Iran banyak diuntungkan.
Gagal ganti rezim
Saat pertama menyerang Iran bersama Israel, AS pede bahwa rezim ulama Iran bisa digulingkan. Sejak Revolusi Islam 1979, Iran dipimpin oleh ulama, yang terakhir dijabat oleh Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Serangan AS-Israel pada 28 Februari berhasil menewaskan Khamenei dan sebagian besar sanak keluarganya. Kendati demikian, putra Khamenei, Mojtaba Hosseini Khamenei, selamat.
Ia dengan cepat dipilih secara mufakat untuk menggantikan ayahnya, di luar dugaan AS dan Israel.
Menurut peneliti senior di Institut Studi Keamanan Nasional Israel Danny Citinowicz,serangan AS-Israel bukannya melengserkan rezim malah memperkuatnya.
“Kita berupaya menggulingkan rezim tersebut dengan dukungan AS, tetapi pada akhirnya Washington justru memberikan legitimasi dan memperkuat rezim yang sama yang ingin kita jatuhkan,” kata Citrinowicz, dikutip Al Monitor.
Legitimasi AS ini tercermin dalam poin kedua MoU yang menyatakan bahwa Washington dan Teheran saling menghormati kedaulatan dan integritas wilayah masing-masing.
“Serta menahan diri dari campur tangan dalam urusan internal masing-masing,” lanjut poin tersebut.
Hizbullah dan rudal Iran selamat
MoU AS-Iran juga menunjukkan kemenangan telak bagi Teheran di bidang pertahanan udaranya. Program rudal balistik Iran sama sekali tidak dipersoalkan dalam kesepatan tersebut.
Di MoU, yang tertera hanya tentang program nuklir Iran. Iran sepakat tak akan memperoleh atau mengembangkan senjata nuklir, tanpa menyinggung soal rudal mereka yang selama ini juga ditentang AS-Israel.
Trump sempat bicara di Prancis soal ini. Ia mengaku tak masalah Iran memiliki rudal balistik, selagi jumlahnya dalam batas wajar.
“Jika negara lain punya, agak tidak adil bagi mereka [Iran] jika tidak punya juga,” ucap Trump.
Selain rudal balistik, MoU AS-Iran juga membebaskan sekutu besar Iran, yakni kelompok milisi Hizbullah Lebanon.
Di poin pertama kesepakatan, AS dan Iran setuju untuk menghentikan perang di semua front, termasuk di Lebanon. Sekutu masing-masing juga ditekankan dalam poin ini. Artinya, Israel tak boleh lagi mengusik Hizbullah.
Menurut pemerhati politik Israel sekaligus jurnalis senior Ben Dror Yemini, MoU AS-Iran ini merupakan “kemenangan politik” bagi Iran.
AS cabut sanksi terhadap Iran
Berbagai jerat sanksi AS terhadap Iran juga bakal terlepas berkat MoU ini.
Pada poin ketujuh, AS janji akan mengakhiri semua jenis sanksi terhadap Iran, termasuk resolusi Dewan Keamanan PBB, resolusi Dewan Gubernur IAEA, dan semua sanksi unilateral AS, baik primer maupun sekunder.
Pencabutan sanksi ini disebut akan dilakukan sesuai jadwal yang disepakati dalam perjanjian final.
Setelah penandatanganan MoU, AS dan Iran masih harus berembuk selama 60 hari untuk merumuskan kesepakatan akhir yang mengarah pada perdamaian.
AS cairkan dana Iran
Kemenangan Iran juga terlihat dalam komitmen AS di poin ke-11. AS setuju untuk sepenuhnya mencairkan dan adan aset Iran yang selama ini dibekukan atau dibatasi.
Prosedur pelepasan dana ini akan disepakati dalam perundingan 60 hari. AS berjanji akan menerbitkan semua lisensi dan otorisasi yang diperlukan sesuai dengan ketentuan.
AS ganti rugi ke Iran
Kemenangan lain bagi Iran juga terlihat dalam poin ke-6 MoU. AS bersedia memberi kompensasi senilai US$300 miliar atau sekitar Rp5.400 triliun untuk merekonstruksi kerusakan yang ditimbulkan selama perang.
Ganti rugi ini disebut akan diberikan bersama mitra regional. Mekanisme pelaksanaan rencana ini bakal dirampungkan dalam kesepakatan akhir.










