BANDA ACEH – Perkumpulan Majelis Seniman Aceh (MaSA) menegaskan komitmennya dalam melestarikan seni tradisi meurukôn melalui program Festival Meurukôn: Seni Tradisi Aceh yang Hampir Punah yang digelar di Gedung Teater Tertutup Taman Seni dan Budaya Aceh, Selasa (23/6/2026) malam.
Ketua Umum MaSA, Chairian Ramli, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga warisan budaya Aceh di tengah derasnya pengaruh budaya luar dan perkembangan teknologi yang semakin cepat.
Menurutnya, generasi muda perlu terus diperkenalkan dengan nilai-nilai budaya lokal agar tetap memiliki jati diri dan karakter keacehan yang kuat.
“Dengan kemajuan teknologi sekarang, terlalu banyak budaya asing yang masuk ke generasi muda. Inilah salah satu upaya kita untuk menjaga supaya anak-anak muda tetap memiliki akal, jiwa, dan karakter Aceh yang sesungguhnya,” kata Chairian dalam sambutannya.
Ia menjelaskan, pelaksanaan festival tersebut tidak terlepas dari dukungan Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan yang mempercayakan MaSA untuk menjalankan program pelestarian budaya di Aceh.
Chairian juga menyampaikan apresiasi kepada para pelatih, Syekh Ismail dan Syekh Yakub, serta mahasiswa Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG) yang telah mengikuti pelatihan intensif selama hampir tiga bulan hingga mampu menampilkan pertunjukan meurukôn di hadapan publik.
“Ini adalah penampilan setelah latihan selama kurang lebih tiga bulan dan workshop yang telah dilaksanakan sebelumnya. Alhamdulillah mereka bisa sampai pada tahap tampil malam ini,” ujarnya.
Ke depan, MaSA berencana melanjutkan program serupa agar meurukôn dapat diperkenalkan lebih luas ke sekolah-sekolah, desa-desa, dan komunitas masyarakat lainnya.
“Tradisi seperti ini harus terus kita gelorakan bersama. Insya Allah tahun depan akan kita lanjutkan lagi dan kita usulkan kembali agar manfaatnya semakin luas,” katanya.
Sementara itu, Ketua Panitia Festival Meurukôn, Thayeb Loh Angen, mengatakan program tersebut sebenarnya telah direncanakan sejak 2025 dan diajukan ke Kementerian Kebudayaan melalui skema Dana Indonesiana.
Meski sempat mengalami penundaan akibat situasi bencana, pelaksanaan program akhirnya dapat diselesaikan hingga puncak pertunjukan pada Juni 2026.
Menurut Thayeb, salah satu capaian penting program tersebut adalah terbentuknya Grup Meurukôn UBBG, yang menjadi kelompok meurukôn baru hasil pembinaan MaSA bersama pihak kampus.
“Atas dukungan UBBG dan berbagai pihak, Alhamdulillah telah terbentuk sebuah grup baru. Sepengetahuan saya, ini merupakan grup meurukôn pertama yang dibentuk di lingkungan perguruan tinggi di Banda Aceh,” ujarnya.
Ia menjelaskan, rangkaian Festival Meurukôn meliputi pelatihan yang berlangsung sejak April hingga Juni 2026, workshop pada 12 Juni di UBBG, pameran dokumentasi dan literatur meurukôn, hingga pertunjukan puncak yang menampilkan hasil pembinaan peserta.
Thayeb juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pengurus MaSA, pihak UBBG, para seniman, pelatih, serta seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.
Festival Meurukôn diharapkan menjadi langkah awal kebangkitan kembali salah satu seni tutur tradisional Aceh yang selama ini mulai jarang dipertunjukkan, sekaligus menjadi sarana pembinaan karakter generasi muda melalui nilai-nilai budaya dan kearifan lokal Aceh.
Hadir pada cara Festival Meurukon Rektor Universitas Bina Bangsa Gatsampena (UBBG) Prof. Dr. Hj Lili Kasmini, S. Si, M. Si., Kepala Balai Pelestarian Budaya Aceh Piet Rusdi, S. Sos, dan kalangan muda di Banda Aceh. []









