Oleh Suraiya. Penulis adalah dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Perayaan Maulid merupakan salah satu moment yang paling dinanti di Bumi Serambi Mekkah. Moment merayakan hari kelahiran baginda Nabi SAW ini, mungkin lebih dikenal dengan riuh rendahnya suara lantunan shalawat dan talam yang dihidangkan di Meunasah dan Mesjid. Narasi kita tentang Maulid seringkali tertuju pada sibuknya para bapak yang mengaduk kuah beulangong di pelataran meunasah atau para teungku yang menyampaikan ceramah di panggung-panggung dakwah.
Kita kerap lupa bahwa di balik setiap talam menggoda yang dihidangkan dengan wah, ada tangan-tangan lincah para perempuan yang telah terjaga sejak subuh buta. Para perempuan inilah yang menanak nasi, memotong daging dan meracik bumbu hingga membungkus bu kulah dengan daun pisang yang menyebarkan wangi tersendiri. Satu sisi yang perlu dimunculkan dalam tulisan ini adalah bagaimanakah madrasah domestik ini mengajarkan kita tentang arti persaudaraan yang sesungguhnya.
Dapur perempuan di bulan maulid bukanlah sekedar ruang memasak, namun sebuah ruang kelas tersembunyi yang sarat nilai pendidikan karakter. Di sinilah, para perempuan dari usia, latar belakang, status ekonomi yang berbeda, melebur menjadi satu tanpa sekat. Istri seorang pejabat duduk berdampingan dengan istri seorang tukang bangunan atau semisalnya, saling bertukar alat masak tanpa merasa diperintah, sambil sesekali bertukar cerita dan tawa.
Tidak ada ruang untuk membicarakan perbedaan. Di ruang yang bernama dapur ini, kurikulum gotong royong dan saling menghargai dipraktekkan secara langsung lewat tindakan, bukan hanya sekedar konsep dan teori di atas kertas.
Pendidikan tentang persaudaraan paling jujur justru lahir dari keteladanan para perempuan bergelar ibu di momen ini.
Sebelum talam dihantarkan ke meunasah dan mesjid, anak-anak menyaksikan sendiri bagaimana ibu mereka dengan penuh keikhlasan menyiapkan hidangan terbaik untuk dinikmati oleh orang lain yang mungkin saja tetangga atau bahkan orang asing yang tak pernah bertegur sapa. Dari proses ini, anak-anak ditanamkan benih empati dan kasih sayang. Ibu mereka secara tak langsung mengajarkan cara memuliakan manusia, meniru sifat dan akhlak baginda Rasulullah SAW yang selalu mendahulukan kepentingan umatnya dengan penuh keikhlasan.
Ada satu hal yang kadang menggelisahkan setelah perayaan ini berakhir. Mengapa kurikulum keikhlasan dan persaudaraan yang telah dieja dari dapur rumah ini kemudian perlahan terkikis oleh ego kita di luar musim maulid?. Sangat disayangkan jika anak-anak yang telah melihat ibu mereka lelah menyiapkan hidangan bahkan patungan dalam mengadakan semua masakan tersebut, namun kemudian anak-anak ini menyaksikan orang dewasa saling menghina di ruang ruang publik dan sosial media hanya karena perbedaan pandangan terkait ras, politik dan agama.
Alangkah baiknya kita jadikan momentum maulid tidak hanya sekedar seremoni belaka. Lembaga pendidikan formal maupun informal di Aceh hendaknya menguatkan peran perempuan sebagai pilar utama pendidikan akhlak keluarga. Keikhlasan dan kekompakan para perempuan di balik talam maulid adalah bukti nyata bahwa persatuan umat bisa dirawat dari hal-hal sederhana di sekitar kita, mulai dari dapur rumah kita sendiri.
Akhirnya, momen perayaan maulid hendaknya menjadi cermin untuk kita mengukur seberapa jauh kita telah meneladani Baginda Nabi SAW dalam menjaga persaudaraan dan persatuan. Merayakan hari kelahiran beliau bukan hanya sekedar mempersiapkan hidangan dengan segala hiasan yang menyertainya atau menghabisi isi talam hingga tak bersisa, namun hendaknya menghidupkan kembali nilai-nilai ukhuwah yang kian memudar tersapu perbedaan yang kian kentara karena ras, politik dan kepentingan lainnya.
Semoga dari hangat dan lembut jemari perempuan di dapur maulid mampu mengajarkan ummat tentang keihklasan, menjaga ukhuwah dan perdamaian karena ukhuwah adalah qanun langit yang mengajari kita bahwa dari bawah atap langit ini, kita semua bersaudara. Semoga kelak saat kepulan asap dari dapur-dapur rumah perempuan dan meunasah telah menghilang dan kuali-kuali besar kembali disimpan, ukhuwah telah menjadi komitmen untuk tetap bersama dalam bingkai persaudaraan.






