BANDA ACEH — Penyair M. Yusuf Bombang atau yang dikenal dengan nama Apa Kaoy melontarkan kritik sosial melalui puisi berjudul “Kemerdekaan Apa yang Perlu Dirayakan?”. Puisi tersebut dibacakan pada acara Baca Puisi DIN Saja bertajuk “Jalan yang Lurus” di “Halaman Jeda” (Ruang Bicara) di Jalan AMD, Batoh, Banda Aceh, Sabtu (29/8/2026).
Melalui bait-bait puisinya, Apa Kaoy mempertanyakan makna kemerdekaan ketika suara rakyat hanya dibutuhkan saat pemilu, sementara kritik, keluhan, dan aspirasi masyarakat justru kerap dianggap sebagai gangguan terhadap kekuasaan.
Pertanyaan “kemerdekaan apa yang perlu dirayakan?” menjadi benang merah puisi tersebut. Ia tidak sedang mempertanyakan kemerdekaan Indonesia secara historis, tetapi menggugat apakah makna kemerdekaan telah benar-benar dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Kritik juga diarahkan pada beban ekonomi yang harus ditanggung masyarakat. Pajak, pungutan, kenaikan harga kebutuhan pokok, persoalan BBM dan gas, hingga kesulitan pedagang kecil menjadi gambaran keresahan yang diangkat dalam puisi tersebut.
“Kemerdekaan adalah ketika rakyat boleh bersuara tanpa ketakutan, boleh mengkritik tanpa dibungkam, boleh bekerja tanpa dipalak, boleh berdagang tanpa dikecam, boleh makan tanpa menghitung berapa kali lagi harga akan naik.”
Dalam puisinya, Apa Kaoy juga menyoroti persoalan penegakan hukum. Ia mempertanyakan mengapa hukum dinilai begitu cepat mengejar masyarakat kecil, sementara kasus-kasus korupsi dan pencurian uang negara dalam jumlah besar kerap terasa jauh lebih lambat penyelesaiannya.
Pertanyaan itu disampaikan melalui gambaran sederhana tentang rakyat miskin yang mencuri untuk memenuhi kebutuhan hidup, berhadapan dengan hukum, sementara mereka yang dituding mencuri uang negara dalam jumlah besar masih dapat menikmati kebebasan.
Bagi Apa Kaoy, kemerdekaan tidak cukup dimaknai melalui pengibaran bendera, upacara, lagu kebangsaan maupun pidato-pidato seremonial setiap Agustus.
Kemerdekaan, menurutnya, harus hadir dalam kehidupan nyata rakyat.
Rakyat harus memiliki ruang untuk menyampaikan kritik tanpa rasa takut, memperoleh kesempatan bekerja tanpa tekanan, berdagang tanpa dipersulit, serta mendapatkan kebutuhan hidup dengan harga yang terjangkau.
Kritik tersebut kemudian diarahkan kepada para pemegang kekuasaan dan pembuat kebijakan.
Ia mempertanyakan apakah kemerdekaan yang selama ini dirayakan secara seremonial telah benar-benar sampai ke rumah-rumah rakyat.
“Sebab kemerdekaan bukan milik mereka yang berdiri di atas panggung,” demikian salah satu pesan utama puisi tersebut.
Kemerdekaan, lanjutnya, justru harus dirasakan oleh masyarakat yang setiap hari berdiri di pasar, sawah, jalan, warung-warung kecil, dapur sederhana dan rumah-rumah tempat harapan masih disimpan.
Melalui puisi itu, Apa Kaoy menjadikan kemerdekaan bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan pertanyaan moral kepada negara dan kekuasaan: apakah rakyat benar-benar telah merasakan kemerdekaan?
Pertanyaan tersebut sekaligus menjadi kritik bahwa ukuran keberhasilan kemerdekaan bukan semata-mata seberapa meriah perayaannya, tetapi seberapa jauh negara mampu menghadirkan keadilan, kesejahteraan, kebebasan berpendapat dan kepastian hukum bagi rakyat.
“Untuk apa bendera dikibarkan tinggi, jika suara rakyat dibiarkan jatuh ke tanah?”
Pertanyaan itu menjadi salah satu gugatan paling tajam dalam puisi “Kemerdekaan Apa yang Perlu Dirayakan?” yang dibacakan Apa Kaoy di Ruang Bicara Halaman Jeda.
Berikut Puisi lengkap Apa Kaoy:
KEMERDEKAAN APA YANG PERLU DIRAYAKAN?
Kemerdekaan apa yang perlu dirayakan,
jika suara rakyat
hanya dicari ketika bilik-bilik suara dibuka,
lalu setelah itu dianggap angin lalu?
Kemerdekaan apa yang perlu dirayakan,
jika kritik disebut gangguan,
keluhan dianggap ancaman,
dan jeritan rakyat justru membuat
pintu-pintu kekuasaan tertutup rapat?
Kemerdekaan apa yang perlu dirayakan,
jika pajak datang dari segala penjuru,
pungutan menunggu di setiap pintu,
warung kecil rakyat dipaksa menutup diri
atas nama aturan,
sementara rakyat tak selalu diberi hak
untuk memilih dari mana ia harus membeli?
Kemerdekaan apa yang perlu dirayakan,
jika pagi dimulai dengan antrean,
BBM menjadi kecemasan bagi kendaraan
dan alat kerja,
gas menghilang dari dapur-dapur rakyat,
minyak goreng lenyap dari pasar,
dan harga kebutuhan pokok naik perlahan
seperti gelombang yang tak mengenal pantai.
sementara di balik meja-meja gelap,
para mafia tertawa,
menikmati negeri yang seharusnya
menjadi rumah kita semua?
Kemerdekaan apa yang perlu dirayakan,
jika uang negara yang dikumpulkan
dari keringat rakyat hilang triliunan,
sementara para pencurinya masih mampu tersenyum,
masih mampu berjalan dengan kepala tegak,
seolah negeri ini tak pernah kehilangan apa-apa?
Tetapi lihatlah—ketika rakyat lapar
mencuri sebatang singkong untuk mengisi perut,
hukum datang tergesa-gesa.
Mengapa?
Mengapa keadilan begitu cepat
mengejar orang kecil,
tetapi begitu lambat menemukan mereka
yang mencuri negeri?
Maka sekali lagi aku bertanya:
kemerdekaan apa yang perlu dirayakan?
Apakah kemerdekaan hanya bendera yang berkibar,
lagu yang dinyanyikan,
upacara yang disaksikan,
dan pidato-pidato yang setiap tahun
mengulang kata tentang perjuangan?
Tidak.
Kemerdekaan
bukan sekadar merah dan putih
di langit Agustus.
Kemerdekaan adalah
ketika rakyat boleh bersuara tanpa ketakutan,
boleh mengkritik tanpa dibungkam,
boleh bekerja tanpa dipalak,
boleh berdagang tanpa dikecam,
boleh makan tanpa menghitung
berapa kali lagi harga akan naik.
Kemerdekaan adalah
ketika hukum tidak menunduk kepada uang,
tidak gentar kepada kekuasaan,
dan tidak hanya tajam kepada mereka
yang tak punya apa-apa.
Sebab untuk apa sebuah negeri
memproklamasikan kemerdekaan,
jika rakyatnya masih harus belajar
menundukkan kepala?
Untuk apa bendera dikibarkan tinggi,
jika suara rakyat dibiarkan jatuh ke tanah?
Dan untuk apa kita berteriak:
MERDEKA!
jika di dalam hati rakyat masih bertanya:
Benarkah aku merdeka?
Maka hari ini
aku tidak ingin sekadar
merayakan kemerdekaan.
Aku ingin bertanya kepada negeri ini—
kepada mereka yang memegang kekuasaan,
kepada mereka yang membuat aturan,
kepada mereka yang mengaku berdiri untuk rakyat:
Sudahkah kemerdekaan
benar-benar sampai
ke rumah-rumah rakyat?
Sebab kemerdekaan
bukan milik mereka
yang berdiri di atas panggung.
Kemerdekaan adalah milik
mereka yang berdiri
di pasar,
di sawah,
di jalan,
di warung-warung kecil,
di dapur-dapur sederhana,
dan di rumah-rumah
tempat rakyat masih menyimpan harapan.
Mereka pulalah
yang harus merasakan
arti sebuah kemerdekaan.
Bukan hanya mendengar namanya.
Banda Aceh, 10 Agustus 2026
MYB








