Jombang – Ulama asal Aceh Teungku Nuruzzahri Yahya terpilih menjadi salah satu anggota Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA) Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU).
Namanya ditetapkan melalui penghitungan suara dalam Sidang Pleno IV Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Minggu (30/8/2026).
Terpilihnya sosok yang akrab disapa Waled NU itu menjadi bagian penting dari mekanisme baru pemilihan kepemimpinan NU. Bersama ulama lainnya, ia dipercaya menjalankan peran dalam proses penentuan kepemimpinan Syuriyah NU melalui mekanisme AHWA.
Nuruzzahri bukan nama baru dalam dunia pesantren. Ulama kelahiran Mideun Jok, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, Aceh, pada 1951 itu memiliki perjalanan keilmuan yang mempertemukan tradisi dayah Aceh dan pesantren Jawa.
Nuruzzahri lahir dari pasangan Tgk H Yahya dan Sa’diyah. Pendidikan agama pertamanya diperoleh dari keluarga sebelum melanjutkan pendidikan di Ma’had Ulum Diniyah Islamiyah (MUDI), yang ketika itu dipimpin Tgk H Abdul Aziz Shaleh.
Di saat bersamaan, ia juga menempuh pendidikan formal di Sekolah Rakyat 3 Samalanga.
Pada 1974, perjalanan keilmuannya membawanya ke Jombang. Ia belajar di Fakultas Syariah Institut Keislaman Hasyim Asy’ari, yang kini menjadi Universitas Hasyim Asy’ari. Namun, pendidikan tersebut tidak diselesaikannya.
Nuruzzahri kemudian memperdalam ilmu agama di Pondok Pesantren Darul Hadits, Jombang, yang kala itu diasuh Dr Abdullah bin Faqih.
Dirikan Dayah Yatim
Pengabdiannya di bidang pendidikan diwujudkan dengan mendirikan Dayah Ummul Ayman pada 1990.
Lembaga tersebut menaungi anak-anak yatim dan mengambil nama Ummul Ayman, sosok yang dikenal sebagai pengasuh Nabi Muhammad ﷺ setelah wafatnya sang ibu, Aminah.
Di organisasi sosial-keagamaan, Nuruzzahri juga memiliki pengalaman panjang. Ia tercatat pernah menjabat Rais Syuriyah PWNU Aceh pada 1970, Ketua Tanfidziyah Wilayah NAD pada 1995, Ketua II Himpunan Ulama Dayah Aceh pada 1999, serta anggota Dewan Paripurna Ulama NAD pada 2006.
Pengalaman tersebut memperlihatkan keterlibatannya dalam dinamika keumatan dan organisasi NU selama puluhan tahun.
Nuruzzahri juga dikenal memberi perhatian terhadap kesiapan santri memasuki ruang publik. Menurut pandangannya, kapasitas santri harus dipersiapkan secara optimal agar aspirasi pesantren tidak tersisih oleh kekuatan politik dari luar.
Kini, pengalaman panjang tersebut membawanya ke posisi strategis sebagai anggota AHWA Muktamar Ke-35 NU.
Kehadirannya sekaligus memperlihatkan bahwa mekanisme AHWA tidak hanya menjadi forum memilih kepemimpinan, tetapi juga mempertemukan ulama dengan latar belakang keilmuan, wilayah, dan pengalaman pengabdian yang beragam untuk menentukan arah NU ke depan.









