BANDA ACEH — Hampir seratus orang berkumpul di Halaman Jeda, Batoh, Banda Aceh. Dua profesor, satu wakil rektor, akademisi, budayawan, aktivis, mahasiswa dan masyarakat duduk bersama membicarakan satu hal: masa depan Aceh.
Prof. Rajuddin menyoroti kesehatan sebagai fondasi manusia. Pertanyaannya tajam: “Kalau rumah sakit sakit, bagaimana melahirkan manusia yang sehat?”
Prof. Fuad Mardatillah membawa diskusi pada persoalan kejujuran. Nilai, katanya, tidak cukup diucapkan. Apa yang dikatakan harus tercermin dalam tindakan.
Wakil rektor menekankan pentingnya ilmu, karakter dan disiplin. Sementara tokoh budaya mengingatkan, Islam jangan sekadar menjadi identitas, tetapi harus menjadi penjaga arah kehidupan Aceh.
Generasi muda pun menyampaikan kegelisahan: mereka membutuhkan sistem pemerintahan yang memberi ruang dan kepastian bagi masa depan.
Dari percakapan itu muncul satu kesimpulan: Aceh bukan hanya membutuhkan pembangunan, tetapi manusia yang sehat, jujur, berilmu, berkarakter dan sistem yang bekerja.
Halaman Jeda kemudian menyiapkan pertemuan berikutnya dengan tema:
ISLAM, ACEH, DAN PERDAGANGAN GLOBAL
Sebab Aceh memiliki sejarah Islam, posisi geografis dan potensi ekonomi. Pertanyaannya: mengapa modal besar itu belum sepenuhnya menjadi kesejahteraan rakyat?
Halaman Jeda mencoba mencari jawabannya.
Berhenti. Mendengar. Berpikir. Menguji. Merangkai. Kemudian bergerak.









