Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Feature

Seni Aceh Tak Boleh Sekadar Tontonan, Joel Kande: Harus Jadi Suara Rakyat

Joe Samalanga by Joe Samalanga
15/09/2026
in Feature, Sastra
0
Seni Aceh Tak Boleh Sekadar Tontonan, Joel Kande: Harus Jadi Suara Rakyat

BANDA ACEH — Kesenian Aceh dinilai sedang menghadapi persoalan serius: bukan semata soal kualitas pertunjukan, tetapi menyangkut semakin berkurangnya daya pikir dan keberanian seni dalam membaca realitas kehidupan.

Seniman tradisi Aceh, Zulkifli alias Joel Kande, menyebut kondisi tersebut sebagai bentuk pendangkalan dalam berkesenian.
Menurut Joel Kande, sejak dahulu para guru dan sheikh mengajarkan bahwa kesenian Aceh bukan sekadar sarana hiburan. Seni memiliki fungsi penting untuk menyampaikan pandangan terhadap berbagai persoalan kehidupan.

“Tujuan dan fungsi kesenian Aceh itu adalah untuk menyampaikan pandangan atau menyampaikan segala sesuatu. Entah itu ekonomi, politik, pendidikan, agama, maupun peristiwa kekinian yang terjadi di lingkungan,” ujar Joel di Banda Aceh, Senin (14/9/2026).

Ia menilai fungsi tersebut kini mulai bergeser. Seni Aceh, katanya, semakin sering ditempatkan hanya sebagai tontonan untuk menghibur masyarakat.
Padahal, menurut Joel, hiburan seharusnya hanya menjadi bonus dalam berkesenian, bukan tujuan utama.

“Kalau kita amati peristiwa hari ini, rupanya sudah bergeser. Hari ini kesenian Aceh bukan lagi untuk menyampaikan pandangan, tetapi tujuannya untuk menghibur,” katanya.

Joel menilai persoalan lainnya terlihat dari minimnya karya dan lirik baru yang mampu membaca perubahan zaman. Banyak pertunjukan masih mengandalkan lirik-lirik lama yang sudah sangat dikenal masyarakat.

“Dinamika keseharian, lingkungan, daerah, agama, negara, semuanya berubah. Ini harus disampaikan dalam kacamata seni. Nah, bagian ini yang kita alpa,” ujarnya.

Menurut Joel, seniman Aceh harus kembali menghadirkan kekuatan intelektualitas melalui karya. Baik melalui karya baru maupun dengan menghidupkan kembali repertoar klasik dan tradisional dalam konteks kekinian.

Ia mendorong lahirnya lirik-lirik baru yang tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga mampu berbicara tentang persoalan masyarakat.

“Bicara politik melalui seni, bicara ekonomi melalui seni, bicara pendidikan melalui seni, bicara agama melalui seni. Nggak usah takut salah,” tegasnya.

Bagi Joel, kesalahan dalam berkarya bukan alasan untuk berhenti menciptakan karya.
Justru, katanya, yang lebih berbahaya adalah ketika seniman terlalu takut salah hingga akhirnya tidak melakukan apa-apa.

“Takutlah ketika kita merasa karena takut salah tidak mau buat apa-apa. Itu saya rasa lebih bahaya daripada kita melakukan sesuatu yang salah. Setelah itu kita sadar, maka kita berubah untuk menjadi yang benar,” ujarnya.

Joel juga mengkritik kecenderungan yang ingin memisahkan seni dari persoalan sosial di sekitarnya. Menurut dia, anggapan bahwa seni hanya boleh berbicara mengenai estetika merupakan pandangan yang terlalu sempit.

“Seni itu harus dapat melogikakan apa pun yang terjadi di ruang lingkungan kita. Kita berkesenian, kita suarakan lewat seni,” katanya.

Joel menjelaskan, seni memiliki kekuatan tersendiri dalam menyampaikan sebuah pandangan. Pesan yang disampaikan melalui karya seni, menurutnya, dapat diterima masyarakat dengan cara yang berbeda dibandingkan ketika pesan yang sama disampaikan oleh politisi atau pejabat.

“Ketika politisi menyampaikan, pejabat menyampaikan, seni menyampaikan pandangan itu berbeda,” ujarnya.

Karena itu, ia melihat seni masih memiliki ruang besar untuk menjadi media refleksi sekaligus kritik terhadap kondisi sosial Aceh.

Joel bahkan menilai ada nilai kejujuran tersendiri ketika sebuah persoalan disampaikan melalui seni tanpa kepentingan politik praktis.

“Kejujuran dalam berpandangan ini masih unggul sedikit ketika seni menyampaikan pandangannya,” katanya.

Bagi Joel Kande, menghidupkan kembali fungsi kritis seni bukan berarti menjadikan setiap karya sebagai propaganda. Sebaliknya, seni justru harus kembali menjadi ruang tempat masyarakat berpikir, merasakan, sekaligus membaca perubahan zaman.

Seni Aceh, menurutnya, jangan sampai hanya terdengar merdu di panggung, tetapi kehilangan suara ketika berhadapan dengan persoalan kehidupan.

Zulkifli alias Joel Kande sendiri dikenal sebagai pegiat musik tradisional Aceh dan pendiri grup Bur’am. Ia bersama kelompoknya pernah meraih Aga Khan Music Awards 2022 untuk kategori musik tradisional, sebuah penghargaan internasional yang diberikan di Royal Opera House, Muscat, Oman.

Pandangan Joel tersebut kembali menegaskan bahwa menjaga tradisi bukan hanya soal mempertahankan bentuk lama, tetapi juga memastikan seni tradisi tetap mampu berbicara tentang zaman yang terus berubah.[]

Previous Post

ASN, Non ASN, dan Honorer yang Belum Aktifkan IKD Segera Registrasi dan Aktivasi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Seni Aceh Tak Boleh Sekadar Tontonan, Joel Kande: Harus Jadi Suara Rakyat

Seni Aceh Tak Boleh Sekadar Tontonan, Joel Kande: Harus Jadi Suara Rakyat

15/09/2026
ASN, Non ASN, dan Honorer yang Belum Aktifkan IKD Segera Registrasi dan Aktivasi

ASN, Non ASN, dan Honorer yang Belum Aktifkan IKD Segera Registrasi dan Aktivasi

15/09/2026
HMPS Kesejahteraan Sosial UIN Ar-Raniry Gelar Workshop Desain Grafis, Maksimalkan Potensi Canva

HMPS Kesejahteraan Sosial UIN Ar-Raniry Gelar Workshop Desain Grafis, Maksimalkan Potensi Canva

15/09/2026
Dua Murid MIN 50 Bireuen Raih Juara OMI Tingkat Kabupaten

Dua Murid MIN 50 Bireuen Raih Juara OMI Tingkat Kabupaten

14/09/2026
RSUD Teungku Peukan Abdya Gelar Orientasi Petugas Baru, Tekankan Pelayanan Prima

RSUD Teungku Peukan Abdya Gelar Orientasi Petugas Baru, Tekankan Pelayanan Prima

14/09/2026

Terpopuler

Misteri ‘Talak 3’ Bunda Salma dan Cipratan Kopi Aceh

Misteri ‘Talak 3’ Bunda Salma dan Cipratan Kopi Aceh

13/09/2026

Setelah 20 Tahun Menanti, Tim Voli Abdya Lolos ke PORA

Bupati Abdya Dr. Safaruddin Terima Penghargaan Pembina Olahraga Berprestasi dari Gubernur Aceh

Krak, Dua Jembatan Utama di Aceh Siap Beroperasi

Seni Aceh Tak Boleh Sekadar Tontonan, Joel Kande: Harus Jadi Suara Rakyat

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com