Oleh: Reza Fadhlian. Penulis adalah Co. Founder Rumbuk Pesisir.
Jika politik selama ini lebih sering diingat karena kebisingan dan transaksinya, maka apa yang terjadi di Pantai Lama Muda, Kuala Batee, Aceh Barat Daya (Abdya) adalah antitesisnya.
Di sana, komunitas Rumbuk Pesisir menggelar Literasi Pesisir. Tidak ada panggung megah, tidak ada spanduk politisi yang berlebihan. Yang ada hanya sepohon kayu yang mereka sebut ‘Pohon Harapan’, tempat pelajar SMA, mahasiswa dan warga pesisir menggantungkan helai-helai kertas berisi aspirasi jujur mereka.
Namun sebelum kertas-kertas itu digantung, mereka memulai dengan sesuatu yang lebih fundamental: tapak tilas Dr. Safaruddin,
Mengapa harus Dr. Safaruddin, S.Sos MSP?
Jejak pengabdian Dr. Safaruddin adalah sebuah tesis hidup tentang politik gagasan. Ia tidak lahir dari menara gading kekuasaan. Ia ditempa dari lorong-lorong perjuangan akar rumput, dari diskusi-diskusi kecil di warung kopi, dari kerja-kerja advokasi pesisir, hingga akhirnya dipercaya menduduki kursi Bupati Aceh Barat Daya.
Dan kisahnya tidak berhenti di Blangpidie. Ia menembus panggung nasional sebagai Sekretaris Jenderal Asosiasi Pemerintah Daerah Kepulauan dan Pesisir Seluruh Indonesia (Aspeksindo). Ini adalah bukti bahwa gagasan yang lahir dari pesisir, jika dirawat dengan serius, bisa merancang masa depan nasional dari meja kebijakan.
Inilah yang membedakan politik gagasan dengan politik kosmetik.
Politik kosmetik sibuk membangun citra. Politik gagasan sibuk membangun jalan. Bagi pemuda pesisir yang hadir hari itu, tapak tilas Safaruddin bukan sekadar biografi puja-puji untuk dikagumi, melainkan peta jalan (roadmap) mentalitas juang. Sebuah cermin bahwa anak pesisir tidak ditakdirkan hanya menjadi penonton pembangunan, tetapi bisa menjadi arsiteknya.
Dr. Safaruddin hadir bukan sebagai simbol kekuasaan yang jauh, melainkan sebagai bukti empiris bahwa garis pantai bukanlah garis batas mimpi.
Semangat inilah yang dengan cerdas ditangkap oleh Founder Rumbuk Pesisir, Ilham Azhari. Ia tidak menjadikan Pohon Harapan sebagai seremoni literasi belaka.
“Pohon ini adalah etalase kejujuran. Kami ingin catatan dari pelajar SMA, mahasiswa, dan warga lokal benar-benar dibedah di meja kebijakan kabupaten,”.
Kalimat itu adalah inti dari demokrasi deliberatif. Di saat banyak ruang aspirasi formal terasa kaku dan elitis, Rumbuk Pesisir menciptakan ruang yang jujur, organik, dan membumi. Mereka mengembalikan politik ke habitat aslinya: mendengarkan.
Apa yang dikatakan Vizura, salah seorang peserta, merangkum semuanya: “Bukan cuma relasi, di sini kami belajar merajut rasa percaya diri bahwa suara dari sudut pesisir layak didengar.”
Kalimat itu sederhana, tapi menghantam. Selama ini, berapa banyak anak muda pesisir yang merasa suaranya tidak layak didengar? Berapa banyak aspirasi yang layu sebelum sampai ke kantor-kantor pemerintahan?
Pohon Harapan di Pantai Lama Muda adalah jawaban kecil untuk persoalan besar itu. Ia adalah simbol perlawanan terhadap politik yang lupa mendengar.
Pada akhirnya, di ujung senja Kuala Batee, kita belajar satu hal: Abdya tidak kekurangan orang pintar, Abdya hanya butuh lebih banyak panggung yang jujur. Dari rajutan gagasan Ilham Azhari, energi kepemimpinan Dr. Safaruddin, hingga goresan pena polos di Pohon Harapan, Abdya sedang menagih takdirnya.
Bukan dari gedung-gedung tinggi, tetapi dari tepi pantai. Dari tempat di mana ombak pertama kali datang.









