Banda Aceh – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tamiang melaporkan sebanyak 18 desa di sembilan kecamatan di kabupaten setempat kembali terendam banjir setelah diguyur hujan deras hingga mengakibatkan air sungai meluap ke permukiman penduduk.
“Total desa terdampak banjir saat ini sebanyak 18 desa. Terbanyak di wilayah Tenggulun yakni lima desa,” kata Kepala Pelaksana BPBD Aceh Tamiang Iman Suhery, di Aceh Tamiang, Senin.
Iman mengatakan, banjir akibat hujan lebat sejak Minggu (11/10) malam itu telah memicu meluapnya sejumlah daerah aliran sungai (DAS) serta jebolnya tanggul di beberapa titik yang akhirnya mengalir ke permukiman.
Berdasarkan laporan Pusdalops, kata dia, banjir merendam sembilan kecamatan, meliputi Tenggulun, Kejuruan Muda, Karang Baru, Bendahara, Bandar Pusaka, Tamiang Hulu, Seruway, Rantau, dan Kualasimpang.
Iman menyampaikan, di wilayah Kecamatan Tamiang Hulu, saat ini ratusan warga dari Desa Rongoh dan Bandar Khalifah telah mengungsi menyusul ketinggian air yang mencapai 1 hingga 1,5 meter.
Kemudian, di Kecamatan Tenggulun, akses menuju Desa Simpang Kiri dilaporkan lumpuh total karena tidak dapat dilewati kendaraan roda dua maupun roda empat akibat tingginya genangan air dan material sampah yang hanyut.
“Untuk wilayah tengah, Karang Baru-Kuala Simpang yang parah Desa Sukajadi dan Desa Tanjung Karang, areal pondok pesantren turut terendam banjir. Kedua desa ini berada di bantaran sungai,” ujarnya.
Saat ini, lanjut Iman, petugas gabungan dari BPBD, Dinas Damkarmat serta Satgas SAR masih berada di lapangan untuk melakukan observasi, pendataan kerugian materiil, serta membantu proses evakuasi warga terdampak.
Selain itu, BPBD juga mengerahkan alat berat guna menutup tanggul yang jebol demi mencegah kerusakan dan genangan meluas.
“Akibat jebolnya tanggul dan luapan sungai, ratusan warga di berbagai kecamatan wilayah hulu dan hilir terpaksa mengungsi ke dataran tinggi, seperti masjid, sekolah hingga rumah kerabat,” katanya.
Sementara itu, situasi yang cukup memprihatinkan tampak di Desa Marlempang, Kecamatan Bendahara, setelah tanggul sungai jebol selebar 30 meter, membuat permukiman penduduk dan ratusan hektare lahan pertanian terendam.
Datok Penghulu Desa Marlempang Arif Pradana mengatakan, tanggul jebol terjadi sejak Minggu sore pukul 16.00 WIB. Air langsung melanda permukiman warga setinggi 30 hingga 50 centimeter dengan arus yang cukup kencang.
”Upaya membuat benteng tanggul secara swadaya oleh masyarakat sia-sia karena debit air terus meningkat,” ujarnya.
Dia menuturkan, kawasan tersebut juga berpotensi abrasi di sepanjang aliran sungai, karena badan tanggul tanah yang bercampur pasir tidak kuat menahan arus banjir. Pagi ini, warga menemukan keretakan tanggul.
“Ada dua titik tanggul sudah retak berjarak sekitar 500 meter dari tanggul yang jebol sekarang. Kami khawatir kalau ini jebol seluruh rumah bakal terendam karena di seberang sungai langsung permukiman,” demikian Arif Pradana.










