KABAR duka itu datang jelang Isya, Minggu malam tadi. Sebuah telepon dari kenalan di Gampong Blang, Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh, membuat saya tersentak.
“Bang. Pak Budi ka geutinggal geutanyoe.”
Saya masih tak percaya dengan kabar tersebut. Saya meminta ia untuk mengulang kalimat yang disampaikannya hingga dua kali.
“Beutoi bang. Pak Budi Azhari, kawan abang, meninggal dunia,” ujar kenalan tadi.
Informasi tadi, tak langsung saya tanggapi serius. Pasalnya, baru beberapa jam lalu, saya dan Bang Budi Azhari, masih semeja di Warkop Dekmi Rukoh. Kami bubar jelang magrib tiba. Saya masih mengira Si Pemberi kabar tadi cuma iseng semata.
Selang beberapa menit, seorang rekan lainnya kembali menelpon. Ia menyampaikan kabar duka yang sama, tapi kali ini dengan nada bertanya.
“Bang, peu beutoi bang Budi ka meninggal? Lon dibrithee lee Ahmadi (tetangga almarhum-red),” ujar Bustami, Komisioner KKR Aceh.
Usai menerima kabar ini, saya langsung mengecek Grup WA Kaukus Pemuda Aceh. Dimana, almarhum Bang Budi Azhari juga merupakan salah satu anggota grup ini. Almarhum terbilang aktif dan sering menyapa kami di sana. Saya berkeyakinan, jika kabar tadi hoax, maka secara otomatis akan langsung terbantahkan. Karena, hingga detik itu, saya masih yakin jika kabar tadi hoax.
Namun harapan tersebut ternyata sia-sia. Anggota grup justru merespon serius.
“Jenazah Bang Budi masih di IGD RSUZA.” Demikian info di grup tersebut.
Minggu sore tadi, Bang Budi Azhari masih menyapa saya dengan senyum di Warkop Dekmi Rukoh. Saya masih bercanda dengannya soal suara azan sebagai pengingat waktu solat tiba di handphone miliknya.
Selama 4 bulan terakhir, almarhum terlihat begitu konsisten menjaga salat berjamaah ketika waktu tiba. Saat suara azan berbunyi di handphone, ia segera bergegas ke masjid terdekat.
“Masjid Puteh,” kata almarhum. Ia segera meninggalkan aktivitas untuk menuju masjid.
Kondisi ini terlihat begitu konsisten dan almarhum cuma menanggapi kami dengan senyuman ketika dicandai.
Pernah suatu kali, saya bercanda dengannya saat kami duduk semeja. “Kita solat jemaah di lantai 2 Dekmi aja bang,” ajak saya. Tapi almarhum cuma tersenyum.
“Di Masjid Puteh, jemaah banyak dan peluang salat sah lebih tinggi,” ujarnya saat itu.
Minggu sore tadi, kami baru bubar ngopi sekitar pukul 17.30 WIB. Ada beberapa perkataan darinya yang menjadi nasehat terakhir untuk saya.
“Meunyoe ingin udep beu get. Peubeutoi droe dilee. Ta mulai dari sembahyang,” kata Bang Budi tadi sore.
“Drokeuh bek kapike mantong muda sabe,” ujarnya ke saya sebelum bubar. Saya tak pernah menyangka jika kalimat tersebut menjadi kata terakhir sebelum almarhum pergi untuk selamanya.
Bagi saya, Bang Budi buka sekedar senior di FKIP USK. Almarhum juga guru, abang serta kawan ngopi yang banyak melalui susah senang bersama. Kepergian almarhum menyimpan luka yang mendalam.
Almarhum adalah sosok yang selalu tersenyum meski dihantam beribu masalah.
Menurut kabar, Bang Budi Azhari menderita sesak di dada usai magrib. Ia meminta keluarga diantar ke IGD RSUZA dan menghembus nafas terakhir di sana.
Setiba saya di IGD, Bang Budi sudah terkujur kaku. Ada banyak kerabat, teman, keluarga serta kolega dari UIN Ar Raniry berkumpul di sana dengan wajah duka.
Selamat jalan Bang Budi. Kami bersaksi Abang adalah orang baik dan asoe Syurga.









