“Kelompok baru, mungkin akan memburu pimpinan GAM yang kini berkuasa. Tapi efeknya, mantan Tentara Nanggroe yang ingin hidup tenang di kampung-kampung, akan trauma dah was-was. Hidup kembali dalam ketakutan.”
“Terlebih kehidupan masyarakat terganggu. Tentara Republik akan kembali membanjiri Aceh. Stabilitas keamanan akan kembali terganggu.”
Keadaan sunyi. Iwan menunduk kepala. Beberapa butiran air bening terlihat jatuh ke lantai. Ia sepertinya menangis tanpa suara. Sedangkan Mustafa dan Rusli terdiam. Aku tak bisa melihat dengan jelas raut wajah mereka. Mungkin karena gelapnya malam, atau sudut meja yang jauh dari penerang cafe.
“Jadi siapa sebenarnya yang ingin bertemu dengan kita,” tanyaku kemudian usai sekian lama berdiam diri.
Namun belum sempat ketiganya buka suara, tiba-tiba suara kaki berat terdengar dari arah depan. Ada raut wajah yang cukup familiar terlihat di sana. Sosok yang hampir 20 tahun tak pernah ketemu. Terakhir bertemu di acara tokoh Aceh yang berlangsung di Hotel Nios, Bangi, Kuala Lumpur, Malaysia, sekitar Agustus 2005.
“Apa kabar, Musa. Atau kamu lebih suka kupanggil Pakwa saja,” tanyanya sambil tersenyum. Ia memakai kemeja biru dengan garis putih. Celana jeans serta sepatu gunung. Sekilas, ia tampak seperti orangtua biasa.
Sosok itu kemudian menjulurkan tangannya ke arahku. Kami berempat kompak berdiri dan menyambut tangannya tersebut secara bergiliran. Ia menyalami kami satu persatu. Namun saat tiba giliranku, ia memeluk amat erat.
Sosok itu kemudian tersenyum. Tangan kanannya melambai ke arah belakang. Ia seolah memberi isyarat kepada para pengawalnya yang berdiri dalam gelap di sana untuk menjauh dari lokasi kami.
“Mungkin inilah, sosok tamu yang dimaksud Mustafa dan Iwan,” gumamku.
“Diakah ‘Mualem’ dari kelompok terbaru,” gumamku lagi dalam hati.
“Aku sudah lama ingin bertemu denganmu. Namun takdir baru mengizinkan malam ini,” ujarnya tenang.
Aku kaku. Pikiranku melayang sambil menebak-nebak nama pemilik tubuh ini. Sosok ini jauh terlihat lebih kekar dari pertemuan di Malaysia sekitar 20 tahun lalu. Jauh lebih muda dan tangannya juga seperti orang yang memegang alat berat.
“Guree Raman,” ujarku kemudian. Ia tersenyum.
[Bersambung]
Baca juga
Sang Kombaran [Jilid 2] Bagian 6
Sang Kombaran [Jilid 2] Bagian 7
![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-750x375.jpeg)






![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-120x86.jpeg)


![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-350x250.jpeg)