Banda Aceh – Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Wilayah Aceh meminta seluruh pemerintah kabupaten/kota di daerah setempat untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi bencana berdasarkan peringatan yang diterbitkan BMKG.
“Masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana agar selalu waspada dan siap siaga, serta memperhatikan peringatan dini dari BMKG setiap hari,” kata Kepala Posko Satgas PRR Wilayah Aceh, Safrizal ZA di Darussalam, Banda Aceh, Senin.
Ia menjelaskan dalam menghadapi potensi bencana berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda Banda Aceh hampir seluruh wilayah Aceh berpotensi dilanda hujan sedang hingga lebat sampai dua hari ke depan. Maka petugas juga diminta siap siaga untuk merespons secara cepat jika terjadi keadaan darurat.
Ia mengatakan rekonstruksi pascabencana akhir November 2025 belum sepenuhnya selesai, sementara tantangan baru muncul berupa potensi curah hujan yang cukup tinggi.
Menurut dia dalam penanganan bencana pemerintah sedang melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi di sektor air secara menyeluruh dari hulu hingga hilir, meliputi Krueng Pesangan, Sungai Tamiang, serta sungai di Aceh Utara.
“Saat ini pemerintah sedang membangun Sabo Dam yang berfungsi untuk menahan dan mengendalikan air secara bertingkat.Proyek pembangunan sabo dam sedang berproses. Dalam satu sungai bisa dibangun hingga empat sabo dam agar air tidak langsung turun dalam jumlah besar,” katanya.
Lebih rinci ia menjelaskan, titik lokasi Sabo Dam dibangun di beberapa wilayah seperti Sungai Tamiang dan Krueng Pesangan (khususnya Krueng Pesangan yang memiliki 4 sabo dam mulai dari Aceh Tengah hingga Kabupaten Bireuen.
Pihaknya berharap cuaca ekstrem tidak berlangsung lama agar berbagai proyek pengerjaan tebing dan rehabilitasi pascabencana berjalan dengan cepat dan tepat waktu.









