Selama sebulan terakhir, saya sering menggoda almarhum. Terutama soal jabatannya sebagai wakil dekan III bidang kemahasiswaan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Ar-Raniry.
Pasalnya, dua malam sebelum pelantikan, almarhum masih bersikeras menolak posisi Wadek. Dari keterangan almarhum, posisi yang awalnya bakal dijabatnya adalah Wadek III di Fakultas Saintek UIN Ar-Raniry. Dikembalikan ke jabatan awal pada periode sebelumnya.
“Meunyoe Wadek, apalagi Wadek Bidang Kemahasiswaan bek lee. Han ek ta urus mahasiswa. Siat at berangkat dan tiket. Payah pake peng pribadi sabee,” kata almarhum beralasan kala itu.
Namun saat dilantik pada 11 September lalu, almarhum justru menjabat Wadek bidang kemahasiswaan di Tarbiyah UIN Ar-Raniry. Dimana secara jumlah mahasiswa dan kelembagaan jauh lebih banyak dari Fakultas Saintek.
“Peunutoh,” ujar almarhum beralasan kemudian secara singkat.
Saya juga sempat bercanda dengan almarhum mengenai acara ‘makan-makan’ sebagai bentuk syukuran atas jabatan baru. Kemudian juga mengatakan bahwa sekarang almarhum sudah kembali banyak menerima WA dan ajakan ngopi dari khalayak ramai karena jabatan sekarang. Padahal, kata saya saat itu, saat almarhum tidak memiliki jabatan, saya-lah orang yang menemaninya sehari-hari di Warkop Dekmi Rukoh.
Candaan ini ternyata ditanggapi serius. Setiap hari pasca pelantikan, almarhum selalu menelpon atau sekedar WA. “Pat kah? Dekmi jak,” ujarnya melalui telepon atau WA.
Pada Minggu 11 Oktober lalu, ia terlihat begitu bersemangat. Ia melambai saat hendak meninggalkan Dekmi. Itu lambaian terakhirnya. Saat itu hujan rintik rintik di kawasan Darussalam. Ia minta izin pamit sekitar pukul 17.30 WIB.
Menurut keterangan dari keluarga, Bang Budi sibuk di kandang kambing miliknya usai kami bubar dari Dekmi. Ia sempat terjatuh di sana, untungnya ada warga di Warkop dekat kandang kambing yang melihat. Mereka-lah yang memapah Bang Budi dan diberi sedikit air gula.
Saat kembali sadar, Bang Budi balik ke rumah dan minta dihidangkan nasi beserta lauk untuk makan. Ia kemudian mandi dan bergegas ke meunasah untuk magrib berjamaah.
Usai magrib, Bang Budi pulang sambil memegang dada. Ia kemudian minta pada tetangga untuk di bawa ke rumah sakit. Dari Gampong Blang, mobil yang membawa Bang Budi mengarah ke RS milik USK di Darussalam. Namun karena kondisinya kian kritis, dokter meminta untuk segera dirujuk ke IGD RSUZA, dengan catatan harus tiba sebelum 5 menit.
Saya sendiri baru tiba di IGD usai Isya. Saat itu, Bang Budi sudah terkujur kaku.
Puluhan sahabat dan kolega berkumpul di IGD saat itu. Termasuk Rektor Mujiburrahman dan Warek Reza Idria. Ada juga Prof. Rusli dari USK serta Nurzahri sahabat sekaligus politisi Partai Aceh.
Dari IGD, jenazah kemudian didorong ke kamar mayat serta dipulangkan dengan mobil jenazah ke Gampong Blang, Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar.
Hampir seribuan warga mengantar jenazah hingga ke liang lahat. Jalan di Gampong Blang sempat macet.
Satu pesan dari almarhum yang masih terekam hingga kini di kepala. “Geutanyoe ureung agam. Sekeras apapun udep. Bek bagai putoh semangat,” ujarnya kala itu. Peutuwah ini disampaikan saat saya beberapa kali dilanda sakit parah dan menjalani operasi besar.
Selamat jalan Bang Budi. Saya bersaksi abang orang yang sangat baik.
Baca juga:
Almarhum Budi Azhari dan Candaan yang ‘Hilang’ di Darussalam [Bagian 1]
Almarhum Budi Azhari dan Candaan yang ‘Hilang’ di Darussalam [Bagian 2]
![Almarhum Budi Azhari dan Candaan yang ‘Hilang’ di Darussalam [Bagian 1]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-14-at-13.04.57-750x375.jpeg)






![Almarhum Budi Azhari dan Candaan yang ‘Hilang’ di Darussalam [Bagian 1]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-14-at-13.04.57-120x86.jpeg)


![Almarhum Budi Azhari dan Candaan yang ‘Hilang’ di Darussalam [Bagian 1]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-14-at-13.04.57-350x250.jpeg)