“Kami sudah di lokasi,” ujarku melalui telepon ke Bang Yan usai magrib. Aku memastikan semua anggota pasukan tiba sebelum melapor ke Bang Yan.
Dari dalam hotel, sosok itu turun menemui kami di area parkir. Senyumnya yang khas mengarah ke rombongan kami. Ia terlihat puas.
“Berapa mobil,” tanyanya singkat padaku.
“10 mobil bang. Sekitar 5 anggota permobil,” jawabku singkat.
Ia mengangguk senang beberapa kali. “Musa. Ini ada tiga kamar untuk kalian. Kalian mandi dan rebahan dulu. Sedikit berdesakan, tidak masalah kan,” ujarnya kemudian.
Sebelum aku menjawab, Dani tiba-tiba mencela. “Gak masalah. Dulu kita di hutan lebih parah. Yang protes, besok gak usah diajak lagi,” ujarnya. Aku memandang Dani dengan kesal.
Bang Yan tersenyum. “Kalian semua bertugas mengawal area hotel ini. Bergantian. Nanti ada pasukan dari wilayah lain bergabung. Jangan sampai ada yang berkelahi.”
“Musa. Kau ikut aku,” ujar Bang Yan lagi. Aku mengangguk dan mengikuti Bang Yan dari arah belakang. Aku memberi isyarat pada Rambo agar ia menjaga seluruh pasukan seperti yang kami sepakati dalam perjalanan.
Di Hotel Cakra Donya sendiri, rencananya akan dilangsungkan Rapat Bansigom Donya. Rapat ini rencananya akan menghadirkan unsur pimpinan nanggroe serta perwakilan pimpinan wilayah dan anggota SIRA mewakili barisan mahasiswa pro GAM. Tujuan utama dari rapat konvensi lintas generasi ini adalah menentukan sosok calon gubernur dan wakil gubernur yang paling ideal. Rapat rencana berlangsung pada 13 Maret. Sedangkan kami tiba dua hari sebelumnya.
Di lobi hotel, Bang Yan memberikan kunci kamarnya.
“Kamu pakai kamar ini untuk mandi atau tidur. Kalau makan tinggal datang ke lobi,” ujarnya kemudian sambil berlalu.
Selama dua hari, tugasku hanya tidur dan makan. Sesekali aku mengecek keadaan Rambo Cs yang bertugas sebagai keamanan. Aku juga sering mampir ke kamar mereka, di sana kulihat mereka berdesakan seperti ikan asin yang sedang dijemur. Melihat keadaan ini, terkadang aku merasa bersalah.
Mereka bahkan masih mengenakan baju serta artibut yang sama seperti hari keberangkatan. Tapi, lagi-lagi tak ada keluhan.
Pada hari yang ditentukan, rapat awalnya berlangsung tertib. Para petinggi yang hadir sepakat untuk mengusung Teungku Nashiruddin bin Ahmed dari wilayah Bireuen dan Muhammad Nazar sebagai perwakilan SIRA dengan suara penuh.
Namun beberapa saat setelah memenangkan konvensi, Teungku Nashiruddin bin Ahmed secara mengejutkan memilih mundur dari pencalonan dengan alasan demi menjaga keutuhan organisasi dan menghormati keputusan petinggi elite tua GAM yang tidak menyetujui hasil rapat tersebut.
Mundurnya Teungku Nas, membuatku bertanya-tanya. Teungku Nas terkenal dekat dengan petinggi di Swedia.
“Apa petinggi di Swedia sudah memiliki calon sendiri.”
[Bersambung]
![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-750x375.jpeg)





![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-120x86.jpeg)



