Jakarta – Tanda-tanda Israel akan kembali menyerang Iran sudah semakin dekat. Hal itu disampaikan Mehdi Mohammadi, penasihat Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf.
Mohammadi memperingatkan bahwa kedua pihak semakin mendekati saat-saat genting.
“Tanda-tanda konfrontasi militer, khususnya antara Iran dan rezim Israel, terlihat semakin intensif,” tulis Mohammadi di saluran Telegram-nya pada Rabu (21/10), dikutip dari Gulf News.
Dia menunjuk pada apa yang digambarkannya sebagai peningkatan penerbangan musuh di atas Irak, pergerakan di wilayah pendudukan, dan persiapan militer yang dirancang untuk memberikan fleksibilitas maksimal bagi berbagai skenario.
“Musuh telah bergerak semakin dekat ke ‘waktu nol’,” tulisnya.
Tanda yang lebih jelas seperti dilaporkan Axios, bahwa “puluhan” jet tempur Israel terbang hingga ke perbatasan Iran pada hari Senin dalam operasi skala besar yang bertujuan untuk memproyeksikan kekuatan militer dan mencegah Teheran.
Axios mengutip pejabat Israel dan AS. Latihan tersebut melibatkan jet tempur dan pesawat pengisian bahan bakar yang terbang lebih dari 800 mil dari Israel mengikuti rute yang sesuai dengan potensi serangan terhadap Iran, melewati wilayah udara Suriah dan Irak, menurut laporan tersebut.
Para pejabat AS mengatakan Israel mengetahui bahwa pertahanan udara Iran akan mendeteksi pesawat tersebut. Beberapa sumber AS mengatakan kepada Axios bahwa mereka mendapat kesan Israel berharap Iran akan menembaki jet-jet tersebut, yang berpotensi memberikan pembenaran bagi serangan Israel.
Mohammadi mengatakan tantangan utama yang dihadapi Israel adalah intelijen, operasional dan strategis, termasuk memperoleh intelijen yang cukup tentang target, mempertahankan akses ke target tersebut, dan mengendalikan waktu, lokasi, dan konsekuensi dari potensi perang.
Ia juga mengatakan bahwa Israel tidak akan serta merta menunggu hingga tantangan-tantangan tersebut terselesaikan sebelum bertindak, dan memperingatkan bahwa kesalahan perhitungan atau keputusan impulsif dapat memicu konfrontasi baru.
Pertemuan dengan Mojtaba
Sebelumnya Ghalibaf disebut bertemu dengan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei untuk meninjau perkembangan konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel serta untuk memberi sinyal koordinasi politik di tengah tekanan militer, ekonomi, dan informasi.
Menurut transkrip pembicaraan, Ghalibaf dan Khamenei membahas perkembangan terbaru dalam apa yang digambarkan oleh pejabat Iran sebagai “perang militer, ekonomi, dan kognitif” yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel.
Mereka juga menekankan penguatan “unsur-unsur kekuasaan” Iran, menjaga kohesi sosial dan persatuan nasional, serta mempertahankan mobilisasi publik untuk mendukung rezim Islam.
Sebelumnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan tegas menyatakan kesiapannya untuk menyerang Iran secara sepihak tanpa keterlibatan Amerika Serikat sebelum Pemilu 27 Oktober. Ketegangan ini dipicu oleh kekhawatiran atas program nuklir dan rudal Iran, serta dinamika komunikasi dengan Presiden AS Donald Trump.
Menurut Mantan Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman, hal itu dilakukan Netanyahu bertujuan mempertahankan kekuasaan di tengah persaingan politik.









