SIGLI – Ketua Tastafi Kecamatan Pidie, Tgk. Bahtiar alias Ayah Teubeng, mendesak Kapolri beserta jajaran kepolisian mengusut tuntas dugaan jaringan narkotika jenis sabu menyusul terungkapnya laboratorium narkotika di Kabupaten Pidie, Aceh. Ia meminta pengusutan dilakukan secara menyeluruh hingga seluruh jaringan yang terbukti terlibat dapat diproses sesuai hukum.
Bagi Ayah Teubeng, persoalan ini bukan semata-mata tentang kejahatan narkotika, melainkan juga menyangkut kehormatan daerah, martabat masyarakat, dan masa depan generasi Pidie. Terungkapnya laboratorium narkotika di daerah yang memiliki sejarah panjang dalam perjalanan peradaban Aceh itu harus menjadi peringatan serius bagi semua pihak.
Ia menegaskan, Pidie memiliki warisan sejarah, nilai keagamaan, dan kehormatan sosial yang harus dijaga bersama. Karena itu, munculnya kasus narkotika berskala serius di daerah tersebut tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa, apalagi dibiarkan berkembang hingga merusak kepercayaan masyarakat dan mencoreng nama baik daerah.
“Kita tentu tidak ingin Pidie yang memiliki sejarah besar, kehormatan, dan nilai-nilai agama yang kuat justru dikenal karena persoalan narkoba. Ini bukan hanya soal nama baik, tetapi juga menyangkut harga diri masyarakat dan tanggung jawab kita menjaga masa depan generasi penerus. Jangan sampai warisan kehormatan yang dibangun oleh para pendahulu tercoreng oleh bisnis narkotika yang menghancurkan kehidupan manusia,” tegas Tgk. Bahtiar.
Menurutnya, kehormatan sebuah daerah tidak cukup dibanggakan melalui sejarah masa lalu, tetapi harus dibuktikan melalui sikap dan tanggung jawab masyarakat dalam menghadapi persoalan hari ini. Menjaga nama baik Pidie berarti berani menolak narkoba, tidak melindungi pelaku, serta mendukung penegakan hukum tanpa pandang bulu.
Atas dasar itu, ia mendukung langkah kepolisian untuk mengusut kasus tersebut secara profesional, transparan, dan berdasarkan alat bukti yang sah. Pengusutan, katanya, perlu menelusuri asal pasokan, jalur distribusi, aliran keuntungan, serta pihak-pihak lain yang mungkin terlibat apabila ditemukan bukti yang cukup.
“Jangan sampai penegakan hukum berhenti pada orang-orang tertentu, sementara jaringan yang lebih besar tidak terungkap. Siapa pun yang terbukti terlibat harus bertanggung jawab di hadapan hukum. Kehormatan Pidie harus dijaga dengan keberanian mengungkap kebenaran, bukan dengan menutupi kesalahan siapa pun,” ujarnya.
Ayah Teubeng juga mengingatkan bahwa dampak narkoba jauh melampaui persoalan hukum. Narkotika dapat merusak kesehatan, menghancurkan rumah tangga, memutus masa depan anak-anak muda, dan melemahkan ketahanan sosial masyarakat. Jika dibiarkan, kerugiannya bukan hanya ditanggung korban dan keluarganya, tetapi juga generasi Pidie secara keseluruhan.
Oleh Karena itu, ia mengajak pemerintah daerah, aparat penegak hukum, ulama, tokoh masyarakat, lembaga pendidikan, dan keluarga untuk memperkuat kerja sama dalam pencegahan serta pemberantasan narkoba.
“Menjaga kehormatan Pidie bukan hanya dengan mengenang kebesaran sejarahnya, tetapi dengan memastikan daerah ini tidak menjadi tempat berkembangnya kejahatan narkotika. Kita harus berdiri bersama menyelamatkan generasi muda. Jangan wariskan kepada anak cucu kita daerah yang tercoreng narkoba; wariskan Pidie yang bermartabat, aman, dan tetap menjunjung tinggi nilai agama serta kehormatan leluhur,” pungkasnya.[Mul]










