Banda Aceh – Guru Besar UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof Eka Srimulyani MA PhD dipercaya menjadi panelis dalam presentasi Rektor Universitas Leiden, Prof Sarah de Rijke, dalam rangkaian program kolaborasi akademik internasional yang melibatkan Indonesia, Belanda, dan Maroko.
Selain menjadi panelis, Prof Eka juga mengajar dalam international short course di Maroko dan menjadi pembicara dalam simposium internasional bertajuk Re-observing Islam: Morocco and Indonesia Compared.
Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh Prof Dr Mujiburrahman MAg mengapresiasi keterlibatan Prof Eka dalam forum akademik internasional tersebut.
Menurutnya, partisipasi akademisi dalam kolaborasi lintas negara penting untuk memperluas jejaring keilmuan, memperkuat penelitian, dan meningkatkan kontribusi perguruan tinggi di tingkat internasional.
“Kami tentu mengapresiasi keterlibatan Prof Eka Srimulyani dalam forum akademik internasional ini. Kegiatan seperti ini penting untuk memperluas jejaring keilmuan, memperkuat kolaborasi penelitian, dan meningkatkan kontribusi akademisi UIN Ar-Raniry di tingkat internasional. Kami berharap pengalaman dan jejaring yang dibangun dapat dikembangkan menjadi kerja sama yang berkelanjutan serta memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan institusi,” kata Mujiburrahman.
Program tersebut merupakan kolaborasi Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (DIKTIS) Kementerian Agama RI, Netherlands Institute in Morocco (NIMAR), KITLV Jakarta, dan Universitas Leiden. Kegiatan ini bertujuan memperkuat metodologi penelitian, publikasi ilmiah, dan pengabdian masyarakat bagi sivitas akademika di bawah Kementerian Agama.
Dalam presentasi Rektor Universitas Leiden, Prof Eka bersama Direktur DIKTIS Kementerian Agama dan Dekan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Mohammed V, Maroko, memberikan tanggapan terhadap pemaparan mengenai tren publikasi akademik dan kualitas penelitian.
Prof Eka mengaku bahagia mendapat kesempatan terlibat dalam forum tersebut, terlebih karena dirinya merupakan alumni Universitas Leiden.
“Sebagai alumni Universitas Leiden, saya tentu sangat bahagia bisa sepanggung dengan Rektor Universitas Leiden, dan juga berterima kasih atas kesempatan untuk memberikan pandangan dan pemikiran terhadap presentasinya terkait trend dalam dunia publikasi akademik dan kualitas penelitian,” kata Prof Eka.
Dalam simposium internasional, Prof Eka juga berbagi pandangan dengan para pakar dan akademisi dari Maroko serta Universitas Leiden mengenai kajian Islam di Indonesia dan Maroko.
Kementerian Agama mengirimkan dua akademisi sebagai pengajar dalam program tersebut, salah satunya Prof Eka dari UIN Ar-Raniry dan Dr. Saifuddin Zubri dari UIN Tulunagung. Sementara itu, dari 12 peserta international short course, dua orang berasal dari Aceh, yakni Dr Fithriady dari UIN Ar-Raniry dan Dr Saifuddin Dhuhri dari UIN Lhokseumawe.
Program ini turut melibatkan sejumlah akademisi Universitas Leiden yang mendalami kajian Indonesia, di antaranya David Kloos, Annemarie Samuels, Verena Meyer, dan Prof. Bart, Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Leiden. Mereka memiliki perhatian terhadap kajian sosial-humaniora, termasuk Aceh dan Sumatra.
Para peserta mengapresiasi penyelenggaraan program yang dinilai terstruktur dan sistematis, dengan memadukan pembelajaran di kelas dan kegiatan lapangan serta melibatkan peneliti dan akademisi internasional, khususnya di bidang Islamic Studies.
Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Prof Arskal Salim, dan Direktur Pendidikan Tinggi Islam, Prof Sahiron, turut memberikan perhatian terhadap keberlanjutan kolaborasi tersebut.Kerja sama ini diharapkan berlanjut melalui penelitian bersama, program gelar ganda (double degree), serta berbagai kegiatan akademik lainnya untuk memperkuat jejaring keilmuan antara Indonesia, Belanda, dan Maroko. [ ]









