Cinta dan Masa Lalu
Yogyakarta, Oktober 2025
MATA Gusti terbelalak. Ia seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dua sosok wanita yang dikenalnya terlihat saling rangkul lama di dekat gerbang Masjid Mardliyyah Islamic Center UGM Yogyakarta.
Saat itu, ia dan Henky baru saja balik dari kampus dengan menggunakan sepeda motor. Tiba di Jalan Kesehatan, Sendowo atau sisi barat kampus, laju sepeda motor Maxi-Scooter miliknya tiba-tiba melamban, lalu pemandangan tadi tersaji.
Kedua wanita itu memiliki paras yang luar biasa serta tampil anggun dengan jilbab yang panjang. Sekilas mereka mirip satu keluarga. Pakaian mereka juga terlihat serasi dan kompak.
Sang wanita muda terlihat anggun dengan jilbab biru muda serta gamis putih panjang. Senyumnya sangat menawan. Seolah mawar yang baru mekar di pagi hari. Melihatnya sekilas membuat jantung Gusti berdetak kencang. Dunia seakan bergerak lamban dan ia terbuai walau melihat dari Jarak 100 meter. Gusti benar-benar jatuh hati.
Sosok wanita muda itu adalah Rindu. Mahasiswi baru yang membuatnya ‘mati kutu’ pada acara Ospek di Fakultas Hukum, sekitar dua pekan lalu. Mahasiswi cantik ‘spek bidadari’ yang sulit ditaklukannya meski ia telah berulang kali mendatanginya ke kelas serta kantin kampus.
Ia membawa bunga dan coklat. Dua hal itu, biasanya mampu meluluhkan hati para gadis yang disukai Gusti dengan mudah sejak jaman SMA. Tapi Rindu berbeda.
“Maaf Mas. Saya tidak ada waktu untuk main-main,” ujar Rindu saat dirinya mengajak gadis itu keluar untuk kencan di akhir pekan.
“Saya datang ke Yogya untuk belajar. Kalau Mas ingin mencari pacar, sebaiknya Mas mencari sosok lain saja. Ada banyak gadis cantik di antara mahasiswi baru,” kata Rindu lagi, saat itu.
Penolakan Rindu benar-benar membuat Gusti patah hati. Namun itu justru membuat tekadnya untuk menaklukan gadis impian itu semakin kuat.
Saat Gusti terdiam melihat ke arah masjid. Henky yang tak tahu apa-apa di belakangnya justru mengomel tak karuan. Gusti tak menjawab. Ia cuma mengangkat tangan kanannya ke arah masjid, tempat dimana dua wanita tadi saling rangkul.
“Itu Rindu. Gadis yang menolakmu itu,” ujar Henky sambil melihat ke arah gerbang.
Gusti mengangguk. Tapi kemudian dia buru-buru menambahkan. “Kau lihat sosok yang bersama Rindu. Apakah kau masih ingat?” ujar Gusti.
Pandangan Henky kini berarti ke sosok wanita berumur 40-an tapi tampil modis nan bersahaja. Sosok itu terlihat cukup terawat. Pakaian mereka terlihat begitu padu. Siapapun yang melihat pasti mengira jika mereka adalah keluarga.
“Bukankah itu Bulek-mu? Adik sepupu jauh ayahmu? Bulek Rani,” kata Henky.
Mulut Henky tiba tiba terbuka lebar. Ia seolah terkejut dan sepertinya sadar akan sesuatu. Ini juga menjadi jawaban dibalik rahasia mengapa Rindu menolak Gusti.
“Jadi selama ini kau naksir sepupu-mu sendiri?” tandas Henky.
[Bersambung]
![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-750x375.jpeg)






![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-120x86.jpeg)


