Pengkhianat
Lhokseumawe, Pertengahan 2006
MUSA menarik nafas panjang. Ia berulang kali menarik rokok Dji Sam Soe miliknya dalam-dalam. Asap mengepul di udara. Kopi Ginseng ‘Bang Lah terasa pahit. Padahal biasanya, kopi itulah minuman favoritnya selama ini.
Suasana terasa hening. Hanya suara klakson mobil yang terdengar. Maklum, Warung Bang Lah berdiri tak jauh dari jalan raya.
Di depan, dua puluhan pasukan eks pengawal Kantor Wilayah Pase menatapnya dengan seksama. Tak ada yang absen, kecuali mereka yang ditugaskan mendampingi Bang Yan.
Mereka biasa selalu ribut saat bertemu. Namun kali ini tak ada yang buka suara.
Siang tadi, Musa meminta Rambo untuk mengirim pesan ke seluruh pasukan agar berkumpul di belakang Warung Bang Lah usai Magrib. Hanya eks pasukan pengawal Kantor Wilayah. Tak ada yang boleh absen. Kecuali yang sedang bertugas di Kutaradja. Mereka yang di Kutaradja pun akan diberitahu apapun hasil kesimpulan malam ini.
Pesan tersebut kemudian diteruskan Rambo dan di sinilah kami malam ini.
Kemarin malam, didampingi Rambo dan Rusli, kami menghadap Panglima Nanggroe di Lhokseumawe. Namun hanya aku yang diperbolehkan masuk. Sedangkan Rambo dan Rusli harus bergabung dengan Ableh dan pasukannya berjaga di pintu masuk rumah panglima.
Di dalam, ada seorang yang mengaku utusan elit Swedia, aku dan sang panglima sendiri. Aku diam-diam menyertakan ‘alat berat’ milik Rusli dibalik baju. Untungnya, Ableh tak mengeledah baju-ku saat masuk.
Alat berat ini hanya kusiapkan skenario bila sosok yang pernah memberi ‘paket besar’ datang. Sekedar balas gertakan. Namun yang aku khawatir tak terjadi.
Sosok utusan elit dari Swedia pun dipastikan berbeda dengan mereka yang berkunjung ke rumah Muti.
Di ruang tamu, kami bertiga bicara soal perkembangan politik yang terjadi hingga keluhanku soal teror yang dihadapi keluarga. Kami juga bicara soal kemungkinan kemungkinan yang akan terjadi.
Dari pertemuan itu, aku tahu bahwa ‘jalan politik’ kedepan akan sangat terjal. Air kolam akan semakin keruh.
Dalam perjalanan pulang, aku menceritakan setiap bagian terdetail dari pertemuan itu kepada Rambo dan Rusli. Mereka mengeluarkan keringat dingin. Kami menyimpulkan agar kondisi ini perlu diketahui oleh semua anggota pasukan. Minimal eks pengawal wilayah.
Hal ini pula yang membuat Rambo dan Rusli terdiam sejak datang ke Warung Bang Lah malam ini.
“Ada dua hal yang ingin aku sampaikan pada kalian semua,” ujarku buka suara.
“Pertama, elit di Swedia akan segera mengumumkan calon pimpinan Aceh. Sosok yang diusung kemungkinan besar akan berbeda dengan calon independent,” kataku sambil menarik nafas panjang.
“Dengan kata lain, aku mengundang kalian semua di sini untuk memilih. Mendukung independent berarti kita harus siap-siap berhadapan dengan kelompok yang mendukung keputusan Tetua di Swedia. Artinya, kita akan saling berhadapan dengan rekan kita sendiri.”
Suasana hening. Tak ada yang berani bicara.
“Panglima Nanggroe katanya netral. Ia tak mendukung siapapun,” ujarku lagi.
“Gedebukk…” Seseorang memukul meja dari depan. Ia terlihat kesal. “Kenapa Panglima tak memperjelas sikap? Kalau netral sama artinya kita berhadapan dengan sesama. Ini saling menghancurkan. Akhirnya menang kalah jadi abu,” ujar Ridwan.
Aku tak menanggapi. Demikian juga seluruh anggota yang hadir. Aku hanya ingin memberitahu kondisi rill ke semua.
“Bagaimana kalau kita juga netral seperti sikap panglima?” ujar Rambo memberi argumen. Ini mungkin sikap terbaik versi panglima.
Aku menghelai nafas. Kutarik Dji Sam Soe yang tinggal setengah.
“Artinya, seluruh pasukan Pengawal Wilayah yang di Kutaradja harus segera ditarik. Bang Yan kita tinggalkan seorang diri. Ia dan mereka yang berada dalam struktur pemenangan independent akan menjadi tumbal.”
[Bersambung]
![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-750x375.jpeg)



![Sang Kombatan [Jilid 2]](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2026/10/WhatsApp-Image-2026-09-30-at-08.59.08-1-120x86.jpeg)




