Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Internasional

Napi di AS Jadi Objek Kerja Paksa, Dipasok ke Ratusan Merek Terkenal

Admin1 by Admin1
31/01/2024
in Internasional
0
Napi di AS Jadi Objek Kerja Paksa, Dipasok ke Ratusan Merek Terkenal

Ilustrasi. Napi di penjara AS diduga jadi korban kerja paksa di perkebunan-peternakan untuk dipasok ke restoran dan supermarket besar. Foto: iStock/FooTToo

Jakarta – Sejumlah narapidana di Amerika Serikat diduga menjadi objek kerja paksa selama puluhan tahun, saat menjalani hukuman penjara.

Hasil kerja paksa ini disebut dipasok ke berbagai bisnis makanan mulai dari McDonald’s hingga berbagai macam makanan yang tersedia di Walmart.

Liputan eksklusif Associated Press (AP) menunjukkan para narapidana itu menjalani kerja paksa di berbagai sektor mulai dari perkebunan hingga peternakan.

Salah satu liputan AP menyoroti situasi para tahanan di Lembaga Pemasyarakatan Negara Bagian Louisiana. Louisiana menjadi negara bagian dengan tingkat penahanan tertinggi di Amerika Serikat.

Willie Ingram (51), seorang tahanan di negara bagian tersebut, mengaku memetik semua jenis perkebunan mulai dari kapas hingga okra selama 51 tahun di penjara.

Selama berada di ladang, dia diawasi oleh penjaga bersenjata yang menunggang kuda. Ingram mengaku pernah melihat orang-orang yang bekerja tanpa mengonsumsi air yang cukup jatuh pingsan akibat panas tinggi.

Ada pula tahanan yang berakhir dipukuli karena memprotes pekerjaan dengan melempar peralatan kerja ke udara.

“Mereka [para penjaga] datang, mungkin empat di truk, dengan menggunakan perisai di atas wajah, dan mereka akan mengalahkan Anda di sana di lapangan. Mereka memukuli Anda, memborgol Anda dan memukuli Anda lagi,” kata Ingram.

Para tahanan ini umumnya bekerja secara paksa tanpa mendapatkan upah dan perlindungan yang layak.

Para kritikus menilai para tahanan harusnya dibayar dengan adil jika memang diminta bekerja. Pekerjaan itu pun harus dilakukan secara sukarela bukan karena paksaan.

“Mereka sebagian besar tidak diberi kompensasi, mereka dipaksa untuk bekerja, dan itu tidak aman. Mereka juga tidak belajar keterampilan yang akan membantu mereka ketika mereka dibebaskan,” kata profesor hukum Andrea Armstrong, seorang ahli tenaga kerja penjara di Loyola University New Orleans.

Para tahanan yang dipaksa bekerja ini kebanyakan memang tidak mendapat perlindungan paling dasar, seperti kompensasi pekerja dan standar keselamatan federal. Dalam banyak kasus, mereka bahkan tidak bisa mengajukan keluhan resmi tentang kondisi kerja yang buruk.

Para napi sering bekerja di industri yang kekurangan tenaga kerja parah. Mereka diminta melakukan beberapa pekerjaan paling kotor dan paling berbahaya di negara itu.

AP mendapati bahwa ada tahanan yang terluka atau cacat saat bekerja. Ada pula yang yang dilecehkan maupun dilecehkan secara seksual, terkadang oleh pengawas mereka sendiri.

Kendati begitu, nyaris tidak mungkin bagi mereka yang terlibat kecelakaan atau pelecehan untuk melapor atau menuntut, berdasarkan belasan kasus yang berhasil masuk ke pengadilan seperti ditinjau AP.

Frank Dwayne Ellington (33) adalah salah satu napi yang mengalami kecelakaan tragis saat sedang bekerja.

Ellington merupakan tahanan yang dijatuhi hukuman penjara seumur hidup dengan kemungkinan bebas bersyarat usai dirinya mencuri dompet seorang pria dengan menodong senjata.

Pada 2017, Ellington membersihkan mesin di dekat “garis pembunuhan” ayam di Ashland di Koch Foods, salah satu perusahaan pengolahan unggas terbesar di negara itu. Ia meninggal setelah gerigi mesin itu berputar, menyedot lengannya, dan menghisapnya ke dalam.

Tengkoraknya hancur karena insiden tersebut dan membuatnya meninggal seketika.

Bertahun-tahun Frank tak mendapat keadilan karena dianggap bukan karyawan Koch Foods secara teknis. Perusahaan itu bahkan melarang keluarganya mengajukan tuntutan karena telah membayar biaya pemakamannya.

Kasus ini akhirnya diselesaikan dengan persyaratan yang tidak diungkapkan.

Selama ini, banyak perusahaan yang membeli langsung dari penjara, melanggar kebijakan mereka sendiri terhadap penggunaan tenaga kerja semacam itu.

Kendati begitu, hal itu banyak dilakukan karena dinilai untuk membantu membangun kembali ekonomi Selatan yang hancur setelah Perang Saudara.

Penggunaan tenaga kerja paksa semacam ini padahal dilarang dalam konstitusi AS. Hal itu diatur dalam Amandemen ke-13, yang mengecualikan kerja paksa sebagai hukuman atas tindak kejahatan.

McDonald’s sejauh ini menyatakan bakal menyelidiki hubungan terkait tenaga kerja semacam itu. Sementara Archer Daniels Midland dan General Mills, yang memproduksi tepung Gold Medal, secara implisit menyatakan pihaknya membatasi pemasok menggunakan kerja paksa.

Bunge juga menyatakan pihaknya menjual semua fasilitas yang bersumber dari departemen koreksi pada 2021, sehingga mereka “tidak lagi menjadi bagian dari jejak Bunge.”

Dairy Farmers of America, sebuah korporasi yang menyebut dirinya sebagai pemasok utama susu mentah di seluruh dunia, menyatakan bahwa meskipun pihaknya telah membeli dari fasilitas pemasyarakatan, saat ini mereka hanya memiliki satu member susu di penjara.

Sumber: CNNIndonesia

Previous Post

Jet Tempur F-16 AS Jatuh ke Laut Dekat Gunsan Korsel

Next Post

Mahfud Minta Bertemu Jokowi di Tengah Kabar Mundur Kabinet

Next Post
Mahfud: 65 Persen Guru Ngaji Digaji Dibawah Upah Minimun

Mahfud Minta Bertemu Jokowi di Tengah Kabar Mundur Kabinet

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Warga Aceh Diajak Kibarkan Bendera Alam Peudeung pada 15 Agustus 2026, Kenapa?

Warga Aceh Diajak Kibarkan Bendera Alam Peudeung pada 15 Agustus 2026, Kenapa?

14/08/2026
Tak Sekadar Tuntaskan KKN, Kelompok 11 Raih Apresiasi DPL Berkat Dedikasi di Masyarakat

Tak Sekadar Tuntaskan KKN, Kelompok 11 Raih Apresiasi DPL Berkat Dedikasi di Masyarakat

14/08/2026
21 Tahun MoU Helsinki, Ketua PC IPNU Bireuen Kritik Pemerintah Pusat: Jangan Abaikan Kesepakatan Damai Aceh

21 Tahun MoU Helsinki, Ketua PC IPNU Bireuen Kritik Pemerintah Pusat: Jangan Abaikan Kesepakatan Damai Aceh

14/08/2026
TP PKK dan Dinkes Abdya Ajak Masyarakat Menerapkan Pola Hidup Sehat dengan Strategi CERDIK

TP PKK dan Dinkes Abdya Ajak Masyarakat Menerapkan Pola Hidup Sehat dengan Strategi CERDIK

14/08/2026
RSUD-TP Abdya Dipercaya sebagai RSJP untuk Mendukung Pelaksanaan PPDS Urologi Fakultas Kedokteran USK

RSUD-TP Abdya Dipercaya sebagai RSJP untuk Mendukung Pelaksanaan PPDS Urologi Fakultas Kedokteran USK

14/08/2026

Terpopuler

Napi di AS Jadi Objek Kerja Paksa, Dipasok ke Ratusan Merek Terkenal

Napi di AS Jadi Objek Kerja Paksa, Dipasok ke Ratusan Merek Terkenal

31/01/2024

Pidie Jaya Masuk Daftar Waspada Cuaca Ekstrem, BPBD Imbau Warga Tingkatkan Kewaspadaan

Risiko Banjir Bandang Tinggi di Musim Penghujan Masyarakat Didorong Susur dan Periksa Sungai

Jamaluddin Idham Didampingi DKP Serahkan Bantuan Hibah Alat Tangkap untuk Nelayan Abdya

Forkopimda Aceh Minta Tambang Emas Rakyat Ditutup, Syahril: Jangan Binasakan Rakyat di Kaki Bumi Sendiri

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com