Atjeh Watch
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video
No Result
View All Result
Atjeh Watch
No Result
View All Result
Home Kampus

UIN Ar-Raniry Banda Aceh Gelar Diskusi Forum Moderasi Beragama

Atjeh Watch by Atjeh Watch
18/07/2024
in Kampus
0
UIN Ar-Raniry Banda Aceh Gelar Diskusi Forum Moderasi Beragama

Banda Aceh – Pusat Kerohanian dan Moderasi Beragama (PKMB) Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh menyelenggarakan Forum Moderasi Beragama dengan tema “Pentingnya Penguatan Moderasi Beragama di Tengah Pesatnya Perkembangan Iptek dan Modernisasi.”

Acara ini merupakan hasil kerja sama antara UIN Ar-Raniry dan Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) RI, yang berlangsung pada Kamis (18/7/2024) di Aula Teater Museum UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

Forum diskusi yang dipandu Dr Abd Razak, Lc MA menghadirkan dua narasumber utama, yaitu Prof Dr Masykuri Abdillah MA, Staf Khusus Wakil Presiden RI, dan Tgk H Faisal Ali, Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh.

Rektor UIN Ar-Raniry, Mujiburrahman, dalam sambutannya menyatakan bahwa isu moderasi beragama di Indonesia saat ini sangat penting dalam konteks, signifikansi, dan relevansi, serta menjadi program nasional.

“Program Moderasi Beragama yang awalnya berada di ranah Kementerian Agama, dengan keluarnya Perpres Nomor 58 Tahun 2023, kini menjadi program strategis di berbagai kementerian lainnya,” ungkap Mujiburrahman.

Lebih lanjut, Mujiburrahman menjelaskan bahwa di Kementerian Agama RI, Program Moderasi Beragama menjadi salah satu dari tujuh program strategis di kementerian tersebut.

“Dengan adanya moderasi beragama diharapkan tercipta harmonisasi. Dalam konteks Islam, diharapkan menjadi rahmatan lil ‘alamin bagi negeri kita. Semakin harmonis tiga pilar: antara Tuhan, manusia, dan alam, maka rahmatan lil ‘alamin akan terwujud,” pungkas Prof. Mujiburrahman.

Hastuti Wulanningrum, yang mewakili Direktorat Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kominfo RI, dalam sambutannya menyampaikan bahwa sebagai negara multikultural, keragaman di Indonesia harus tetap dijaga dan diharapkan tetap eksis dalam mempertahankan kesatuan dan persatuan bangsa.

“Sebagai bentuk pengamalan nilai-nilai Pancasila, moderasi beragama merupakan upaya mengambil jalan tengah dalam menyikapi maraknya persoalan keberagaman,” ujarnya.

Menurutnya, perkembangan dunia digital telah menyentuh segala aspek kehidupan, sehingga diperlukan pengelolaan yang baik agar masyarakat mampu menerima digitalisasi dengan pemahaman yang baik, sehingga terhindar dari informasi yang tidak benar dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.

“Moderasi beragama adalah kunci terciptanya toleransi dan kerukunan baik di tingkat lokal, nasional, maupun global. Dengan demikian, setiap umat beragama dapat memperlakukan orang lain dengan hormat, menerima perbedaan, serta hidup bersama dengan damai dan rukun,” tutup Hastuti Wulanningrum.

Sementara itu, Prof Masykuri dalam pemaparan materinya menekankan bahwa aspek teologis dan historis memiliki peran krusial dalam penanaman nilai moderasi beragama di masyarakat Indonesia. Meskipun praktik moderasi beragama sudah berlangsung lama, ia menilai program penguatan moderasi beragama oleh pemerintah sebagai solusi mengatasi perpecahan berbasis perbedaan agama.

“Moderasi beragama dapat dibagi dalam tiga konteks: pertama, sesama manusia dengan prinsip toleransi; kedua, bernegara dengan menerima sistem dan ideologi negara, termasuk hukumnya; dan ketiga, modernisasi dan budaya lokal, di mana beragama dengan baik berarti tidak terlalu konservatif namun tetap mengedepankan hal-hal prinsipil dalam ajaran agama,” ujarnya.

Ia menambahkan, moderasi beragama menghargai keberagaman tanpa mencampuradukkan doa-doa antar agama. “Saat ini kebingungan terjadi di antara umat beragama karena praktik toleransi dilakukan hingga dalam konteks ibadah. Misalnya, dalam salam lintas agama, perlu dipahami bahwa dalam salam setiap agama terdapat unsur doa sesuai ajarannya masing-masing, yang merupakan ranah ibadah yang tidak bisa dicampuradukkan,” jelasnya.

Sementara itu, Tgk Faisal Ali menekankan bahwa umat beragama di Aceh telah diberi kewenangan untuk menjaga daerahnya dari paham anti-moderasi dengan berpegang pada nilai-nilai Islam Wasathiyah yang telah lama tertanam dalam kultur keagamaan di Aceh.

“Di Aceh, tidak menghargai adat istiadat adalah tindakan anti-moderasi beragama, terutama mengingat bahwa kultur bermasyarakat di Aceh bernafaskan Islam. Tindakan yang tidak menghormati nilai keislaman dalam formalitas pemerintahan adalah tindakan yang tidak moderat. Menghargai Aceh dalam urusan syariat Islam adalah tindakan moderasi beragama,” tegasnya.

Sebagai solusi untuk menanggulangi praktik intoleransi, Tgk Faisal Ali menyebut bahwa Islam telah mengajarkan nilai-nilai moderasi beragama. Pemahaman yang tidak sesuai dengan tujuan dalam syariat (maqashid asy-syariat) adalah yang membangun pemahaman kontra-moderat dalam Islam. “Masalah yang muncul baik liberal maupun radikal terjadi karena kita meninggalkan nilai-nilai yang ditanamkan dalam turats Islami oleh ulama sejak dahulu. Kembali kepada referensi yang kredibel dalam turats akan secara otomatis menciptakan moderasi di tengah masyarakat,” tutupnya.

Peserta kegiatan ini terdiri dari berbagai kalangan perwakilan dari berbagai institusi pendidikan, organisasi masyarakat, lembaga mahasiswa dan media massa. []

Previous Post

Mahasiswa dan Masyarakat Geruduk Kantor Kejaksaan Negeri Abdya

Next Post

UIN Ar-Raniry Gelar SSE PMB Lokal Tahun 2024

Next Post
UIN Ar-Raniry Gelar SSE PMB Lokal Tahun 2024

UIN Ar-Raniry Gelar SSE PMB Lokal Tahun 2024

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Menyulut Semangat Literasi dari Madrasah Pelosok Negeri

Menyulut Semangat Literasi dari Madrasah Pelosok Negeri

25/05/2026
Farah Najiha; Santri Asal Cot Abeuk yang Piawai Berbahasa Inggris

Farah Najiha; Santri Asal Cot Abeuk yang Piawai Berbahasa Inggris

25/05/2026
Sabtu Malam, Listrik Kembali Padam di Pesisir Aceh Besar

PLN Sebut Listrik di Aceh Sudah Pulih

25/05/2026
ASDP dan Pemerintah Aceh Garap Jalur Logistik Jakarta-Malahayati

ASDP dan Pemerintah Aceh Garap Jalur Logistik Jakarta-Malahayati

25/05/2026
DPPKBPP dan PA Aceh Besar Perkuat Koordinasi bersama IDAI Aceh

DPPKBPP dan PA Aceh Besar Perkuat Koordinasi bersama IDAI Aceh

25/05/2026

Terpopuler

Sabtu Malam, Listrik Kembali Padam di Pesisir Aceh Besar

Tuanku Muhammad Minta Sistem Kelistrikan Aceh Merdeka dari Sumbagut

24/05/2026

Pemutaran Film “Pesta Babi” di Temas River Park Berlangsung Khidmat, Bahas Krisis Lingkungan dan Papua

Panjat Tebing Perdana Ikut O2SN, Sekolah Kirim Atlet Muda ke Pertandingan

PLN Aceh Terapkan Pemadaman Bergilir

Jelang Libur Iduladha, Pesantren Al Zahrah Lakukan Terobosan Baru Ini!

  • Home
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© 2022 atjehwatch.com

No Result
View All Result
  • Nanggroe
    • Lintas Barat Selatan
    • Lintas Tengah
    • Lintas Timur
      • Nasional
  • Internasional
  • Saleuem
  • Feature
  • Olahraga
  • Sejarah
  • Sosok
  • Opini
  • Cerbung
  • Foto
  • Video

© 2022 atjehwatch.com