Pada tanggal 23 April 2025,
BANDA ACEH – Sejumlah ibu rumah tangga yang tergabung dalam kelompok usaha perempuan diberi pelatihan dalam rangka peningkatan ekonomi. Kegiatan ini merupakan pelatihan bertajuk “Pengembangan Produk Pangan dan Kecantikan dengan Bahan Baku Daun Kelor sebagai Upaya Peningkatan Ekonomi Lokal” yang berlangsung di Gampong Lamtimpeung, Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar, 23 April 2025.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang dibimbing oleh Dr. Amiruddin, S.Pd, M.Si, dengan melibatkan sembilan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu, yakni Engki Simatupang, Annisa Safitri, Maya Nabela, Muhiyah, Muliati, Arifa Fitria, Novi Liasari, Ega Rahmah, dan Ismet Zamrani.
Pelatihan ini bagian dari praktek matakuliah Project kepemimpinan program Profesi Guru (PPG) FKIP USK yang dibimbing oleh Dr. Amiruddin., M.Si.
Tujuan utama pelatihan ini adalah untuk memperkenalkan potensi besar daun kelor (Moringa oleifera) yang selama ini belum tergarap secara optimal di masyarakat, serta mendorong pemanfaatannya sebagai bahan baku dalam produk pangan bergizi dan produk kecantikan alami.

Masyarakat, khususnya ibu-ibu rumah tangga dan kelompok usaha perempuan, menjadi sasaran utama kegiatan ini karena mereka dinilai memiliki peran strategis dalam pengembangan ekonomi rumah tangga berbasis sumber daya lokal.
Pelatihan ini dilaksanakan di balai gampong dan dibuka langsung oleh perangkat desa setempat. Acara dimulai dengan penyampaian materi mengenai manfaat daun kelor secara ilmiah dalam bidang kesehatan, kecantikan, dan gizi oleh Dr. Amiruddin.
Selanjutnya, para mahasiswa memfasilitasi sesi praktik pembuatan produk seperti teh celup daun kelor, masker wajah alami, sabun herbal, serta camilan sehat berbasis daun kelor seperti keripik dan cookies. Peserta pelatihan sangat antusias mengikuti setiap tahap kegiatan, mulai dari proses pemilihan dan pengolahan daun kelor, pengemasan, hingga strategi pemasaran sederhana.
Kegiatan ini tidak hanya bersifat edukatif, tetapi juga aplikatif, karena peserta diajak langsung mempraktikkan pembuatan produk dengan alat dan bahan yang mudah diperoleh di lingkungan sekitar. Selain itu, sesi diskusi interaktif digelar untuk menggali ide-ide lokal yang bisa dikembangkan secara berkelanjutan dan menjawab tantangan ekonomi masyarakat setempat.
“Hasil dari pelatihan ini menunjukkan respon positif dari masyarakat Gampong Lamtimpeung. Banyak peserta yang menyatakan minatnya untuk mengembangkan produk daun kelor menjadi usaha rumahan yang bernilai jual,” ujar Dr. Amiruddin.
Menurutnya, pelatihan ini diharapkan menjadi titik awal bagi pembentukan kelompok usaha masyarakat berbasis daun kelor, yang nantinya dapat didampingi secara berkelanjutan melalui kerja sama antara perguruan tinggi dan pemerintah desa.
“Melalui pendekatan kolaboratif ini, kegiatan pelatihan tidak hanya berkontribusi pada peningkatan keterampilan masyarakat, tetapi juga mendukung program ketahanan pangan dan pemberdayaan ekonomi lokal. Dengan pemanfaatan potensi alam yang melimpah dan pendekatan teknologi tepat guna, pengembangan produk daun kelor menjadi simbol nyata bagaimana kearifan lokal dapat dimodernisasi untuk menjawab tantangan ekonomi masyarakat di era global,” katanya lagi.












