Oleh Ahmad Mustafa. Penulis adalah warga Aceh dan penikmat warung kopi.
Kucuran dana Otsus Aceh tahap 1 (mungkin-red) akan segera berakhir pada 2027 mendatang. Namun hampir Rp100 triliun lebih dana Otsus yang dikucurkan selama 20 tahun pasca damai seolah menguap begitu saja. Tak ada jejak yang berarti.
Keberadaan dana Otsus untuk Aceh sejak 2007 memang sempat membuat iri sejumlah provinsi tetangga. Pasalnya, jumlah dana yang dikucurkan setiap tahunnya sangatlah besar serta berjumlah fantastis. Sayangnya tak ada efek domino dari keberadaan Otsus di Aceh.
Salah satu contohnya adalah pembangunan di Aceh yang dianggap masih stagnan. Mimpi membangun Aceh seperti Brunai Darussalam ternyata hanya mampu direalisasi setingkat Beureunuen.
Demikian juga untuk sektor industri Aceh yang masih mati suri. Keberadaan dana Otsus Aceh belum mampu melepas ketergantungan Aceh dengan daerah tetangga seperti Sumatera Utara.
Keberadaan hasil alam Aceh, terutama bahan baku, sebahagian besar masih harus diangkut ke Sumatera Utara. Kemudian masyarakat membelinya sesudah diolah menjadi barang jadi. Beberapa kawasan industri di Aceh bahkan berujung tanpa kejelasan. Salah satunya adalah BP Kapet di Aceh Besar.
Pemerintah Aceh sebenarnya telah membentuk Badan Pengelola Kawasan Ekonomi Terpadu (BP Kapet) di Desa Ladong, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. Ini hanya salah satunya. Kawasan ini awalnya dicanangkan sebagai lokasi industri di Aceh, tetapi hingga pertengahan 2025 ini, kawasan tersebut masih sebatas area kosong dengan beberapa gedung terbengkalai. Padahal area ini memiliki luas hampir 56 hectare lebih.
Maka alangkah naif jika keberadaan Otsus selama hampir 20 tahun terakhir dianggap sebagai penunjang kesejahteraan masyarakat di Aceh. Pasalnya, hasil sensus BPS menyebutkan, tingkat kemiskinan di Aceh masih tertinggi di Sumatera.
Mayoritas masyarakat usia kerja produktif asal Aceh masih harus keluar provinsi untuk mencari kerja. Kondisi ini sungguh sangat miris.
Di Jawa, banyak warga asal Aceh yang dilaporkan terlibat dengan sindikat Tramadol. Ini rahasia yang sangat umum di ibukota. Jejaring bisnis ganja dan sabu juga menempatkan posisi keterlibatan ‘warga asal Aceh’ dalam lingkuran inti.
Banyak juga warga Aceh yang berstatus sebagai ‘pendatang haram’ di Malaysia yang berakhir di penjara. Kemudian, berdasarkan laporan terbaru, banyak juga pemuda asal Aceh yang terseret dalam sindikat penipuan di Kamboja.
Semua ini tentu tak akan terjadi jika Pemerintah Aceh benar-benar memanfaatkan dana Otsus untuk membuka lapangan kerja di Aceh. Tak menguap seperti sekarang.
Dari ratusan triliun dana Otsus yang sudah dikucurkan, Pemerintah Aceh bahkan belum mampu membangun satupun industri yang bisa merekrut tenaga kerja untuk masyarakat di Aceh. Yang ada hanya ‘omong-omong’ berharap investor datang belaka. Harusnya dengan uang yang besar tadi, Aceh bisa lebih mandiri untuk membuka sector industri sendiri.
Sayangnya, pemimpin kita sangat tidak kreatif.
Siapa penikmat Otsus?
Ketika masyarakat Aceh tak kunjung merasakan efek domino dari Otsus, timbul pertanyaan penting saat ini. Siapa sebenarnya penikmat Otsus Aceh saat ini?
Di awal-awal damai, para elit Aceh mengatakan bahwa keberadaan dana Otsus adalah dana diyat perang.
“Otsus ada karena perang panjang antara GAM dengan RI di Aceh.”
Begitu narasi yang disampaikan ke masyarakat dan diyakini hingga sekarng. Namun realita yang terjadi, banyak mantan kombatan GAM di akar rumput yang hingga kini masih hidup di bawah garis kemiskinan.
Kini, hampir 20 tahun berlalu, dana Otsus benar-benar seperti menguap di Aceh. Mungkin dana yang begitu besar telah menumpuk jadi lemak di tubuh para elit Aceh. Atau turun menjadi ‘feses’ berakhir menjadi gas amonia yang terurai ke udara. []
![[Opini] Ratusan Triliun Dana Otsus ‘Menguap’ di Aceh](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2025/06/Peredaran-Uang-Palsu-Dery-Ridwansah-4-750x375.webp)









![[Opini] Ratusan Triliun Dana Otsus ‘Menguap’ di Aceh](https://atjehwatch.com/wp-content/uploads/2025/06/Peredaran-Uang-Palsu-Dery-Ridwansah-4-350x250.webp)