BLANGPIDIE – Desa Suak Nibong merupakan sebuah gampong yang terletak di Kecamatan Tangan-Tangan, Kabupaten Aceh Barat Daya, Provinsi Aceh. Sore itu, sekumpulan anak-anak yang didampingi beberapa orang dewasa terlihat sangat bersemangat untuk menyiapkan sesuatu kebutuhan untuk kegiatan malam harinya.
Mereka secara gotong royong membuat obor dari bahan bambu, sabut buah kelapa dan beberapa liter bahan bakar dari minyak tanah hingga menjadikan ‘Obor Bambu’.
Hingga malam tiba, masyarakat secara sukarela dan kesadaran diri, menggelar tradisi ‘Tulak Bala’ atau menolak marabahaya (Bala) dengan mengelilingi gampong pawai obor seraya membacakan zikir Ya Latif (jalateh).
Tradisi Tulak Balaa merupakan sebuah ritual yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur di Aceh dan tentunya dengan beragam cara pula.
“Budaya tulak bala kami lakukan dengan cara pawai obor keliling seraya membacakan zikir jalateh, cara ini bentuk permohonan kepada Allah SWT agar masyarakat desa terhindar dari segala marabahaya dan bencana yang mungkin mengancam,” kata Ketua Pemuda Suak Nibong, Supardi, ‘Rabu Abeh’, pada Selasa malam (19/08).
Ya Latif artinya “Wahai yang Maha Lembut”, berzikir dengan bacaan Ya Latif berarti meminta kelembutan dan pertolongan Allah Swt, yang diyakini mampu melindungi Desa dari bala dan malapetaka, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat.
Disisi lain, tradisi tolak bala ini juga merupakan simbol kebersamaan dan kekuatan doa. Diyakini dengan berkumpul dan berdoa bersama, Allah Swt akan menjauhkan semua warga dari segala bencana.
Selain itu, tradisi tolak bala juga menjadi momen penting untuk mempererat tali silaturahmi antar warga. Semua kalangan, tanpa memandang usia yang terlibat dalam ritual ini. Rasa kebersamaan dan persatuan begitu terasa ketika seluruh warga berjalan bersama, memohon perlindungan bagi desa tercinta.
Meskipun zaman terus berubah, masyarakat Suak Nibong tetap mempertahankan tradisi tolak bala ini merupakan Warisan Budaya Takbenda (WBTb). Sebagai bagian dari identitas dan warisan budaya yang tidak ternilai harganya.
Masyarakat setempat berharap, tradisi ini akan terus dilestarikan oleh generasi yang akan datang.










