Jakarta – Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) Teuku Riefky Harsya menjajaki kolaborasi strategis dengan KJRI New York untuk memperkuat diplomasi berbagai subsektor ekonomi kreatif Indonesia ke pasar Amerika Serikat yang kompetitif. Langkah ini merupakan bagian dari persiapan agenda internasional 2026 sekaligus upaya mencapai target ekspor dan investasi yang ditetapkan Presiden Prabowo Subianto.
“Saat ini, kami lagi menyusun agenda 2026 terutama terkait _event-event_ internasional yang bisa dimasukkan 17 subsektor ekraf dan bisa kita lihat mana yang akan menjadi agenda prioritas,” ujar Menteri Ekraf menerima audiensi KJRI New York Winanto Adi, di Autograph Tower, Jakarta, Rabu, 19 November 2025.
Menteri Ekraf mengharapkan pertemuan ini bisa melahirkan ide dan program yang mendukung penguatan ekosistem ekonomi kreatif dan sekaligus mempromosikan potensi Indonesia di pasar internasional. Menteri Ekraf menyampaikan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, Kementerian Ekraf memiliki target untuk mendorong peningkatan ekspor, investasi, tenaga kerja, dan kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB) ekraf.
“Begitu banyak _Intellectual Property_ (IP) yang bisa dibawa dari tiap subsektor ekraf Indonesia seperti musik, film, fesyen, kuliner, gim, dan aplikasi. Mudah-mudahan dengan dukungan semua pihak termasuk teman-teman KJRI bisa tercapai target Presiden yang diberikan ke Kementerian Ekraf untuk 2026,” jelas Menteri Ekraf.
Mempertegas pernyataan tersebut, Staf Khusus Menteri Bidang Isu Strategis dan Antar Lembaga, Rian Syaf menambahkan Indonesia bisa menampilkan produk dan bakat kreatif di pasar internasional dengan fokus pada komersialisasi dan investasi kekayaan intelektual.
“Negara-negara seperti Amerika apalagi di New York tentu orang yang kreatif dan inovatif sudah berbanding lurus dengan _economic return_ bagi daerahnya. Hal ini berbeda dengan Indonesia sehingga tantangan kita seperti apa kekayaan budaya bisa berbanding lurus dan punya nilai tambah untuk produk-produk kreatif yang dihasilkan,” ungkap Rian Syaf.
Sebagai pusat kebudayaan dan ekonomi kreatif dunia, New York memiliki lebih dari 170 museum dan 1.400 galeri yang menjadi pusat kuliner, musik, seni pertunjukan, film, dan fesyen. Dengan PDB sebesar 2 triliun dolar AS, New York menjadi tujuan pasar ekspor strategis ekonomi kreatif Indonesia.
“Selain musik dan film, kami juga ingin dorong subsektor seni pertunjukan atau _performing arts_ dari Indonesia untuk tampil di New York,” ucap Winanto Adi.
Beberapa kegiatan pengembangan subsektor ekonomi kreatif yang telah diidentifikasi dan diprakarsai KJRI New York di antaranya Camp Broadway Indonesia bersama Broadway Education Alliance (seni pertunjukan) dan partisipasi produk kreatif pada Paviliun Indonesia di Shoppe Object New York (kriya). Selain itu, hubungan baik atau kolaborasi dengan diaspora Indonesia yang berada di New York juga akan memperkuat ekosistem kreatif ke depan.
“Indonesia juga bisa mengirim desainer-desainer fesyen untuk belajar produk dan tren baru pada forum dialog di New York sehingga bisa melihat seperti apa _product market_ yang telah maju dan didukung ekosistem yang memadai,” tambah Konsul Ekonomi KJRI New York, Fahmad Rifqi Ramulo.
Pada pertemuan tersebut Menteri Ekraf turut didampingi Deputi Bidang Pengembangan Strategis Ekonomi Kreatif, Cecep Rukendi; Direktur Pengembangan Sistem Pemasaran dan Hubungan Kelembagaan, Radi Manggala; serta Direktur Seni Rupa dan Seni Pertunjukan, Dadam Mahdar. Sementara pendamping KJRI tampak hadir Konsul Sosial Budaya KJRI New York, Dea Kurniawan.[]
.











