Banda Aceh – Warga persyarikatan Muhammadiyah di seluruh Aceh mulai melaksanakan shalat tarawih perdana atau satu Ramadhan 1447 Hijriah, di Kota Banda Aceh (ibu kota provinsi) pelaksanaan tersebar di empat masjid dan mushala.
“Kali ini, Muhammadiyah kembali berbeda melaksanakan awal ibadah Ramadhan dengan umat Islam lainnya,” kata Penceramah Shalat Tarawih di Masjid Taqwa Muhammadiyah Aceh, Prof Al Yasa’ Abubakar, di Banda Aceh, Selasa malam.
Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu (18/2/2026). Hal itu tertuang dalam Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 serta penjelasan Majelis Tarjih dan Tajdid Nomor 01/MLM/I.1/B/2025. Keputusan tersebut berbeda dengan keputusan pemerintah, di mana berdasarkan hasil sidang isbat, Menteri Agama KH Nasaruddin Umar telah mengumumkan bahwa awal Ramadhan 1447 Hijriah pada Kamis (19/2).
Prof Al Yasa’ menyampaikan, bagi setiap muslim baik yang melaksanakan tarawih sekarang maupun malam besok, semua itu merupakan bagian dari ijtihad.
“Apakah malam ini atau malam besok, semua itu sudah merupakan ijtihad. Baik rukyat maupun hisab (penentuan awal Ramadhan),” ujar mantan Ketua PW Muhammadiyah Aceh itu.
Sementara itu, pimpinan wilayah Muhammadiyah Aceh, Dr Aslam Nur mengatakan di Kota Banda Aceh sebagai ibukota Provinsi Aceh, ada empat titik pelaksanaan tarawih.
Pertama di Masjid Taqwa (gedung dakwah) Muhammadiyah Aceh, di Universitas Muhammadiyah Aceh, Panti Asuhan Punge Blang Cut, dan Mushala Aisyiyah Sukaramai.
“Jadi di semua masjid dan mushala yang dimiliki oleh Muhammadiyah mulai malam ini sudah kita laksanakan shalat tarawih,” katanya.
Dirinya menuturkan masyarakat sudah dewasa artinya sangat memahami perbedaan ini, karena semua memiliki dasar dalil yang cukup kuat.
“Jadi kalau Muhammadiyah lebih mengedepankan cara hitungan yang kita tahu hisab. Tapi teman-teman yang lain menggunakan istilah rukyat. Jadi kalau tidak terlihat, digenapkan jadi 30 hari bulan Sya’ban,” katanya.










