Jakarta – Program Sekolah Garuda Transformasi mulai menunjukkan dampak nyata dalam membuka akses siswa Indonesia menuju perguruan tinggi terbaik dunia. Di SMA 10 Fajar Harapan, Banda Aceh, jumlah siswa yang diterima di kampus Top 100 dunia melonjak tajam setelah sekolah tersebut masuk dalam program transformasi pendidikan unggulan pemerintah.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, menyebut Program Sekolah Garuda Transformasi dirancang bukan sekadar meningkatkan kualitas akademik, tetapi membangun ekosistem pendampingan dan akses global agar siswa Indonesia mampu bersaing di tingkat internasional.
“Sebelum bergabung menjadi Sekolah Garuda Transformasi, hanya satu siswa dari Fajar Harapan yang berhasil diterima di Top 100 World University. Pada tahun ini, setelah mendapatkan program Garuda Transformasi, ada empat belas siswa yang mendapatkannya,” ujar Stella saat mengunjungi SMA 10 Fajar Harapan, Kamis (7/5/2026).
Menurut Stella, capaian tersebut tidak lahir secara instan. Keberhasilan siswa menembus universitas kelas dunia merupakan hasil sinergi antara pendampingan intensif, penguatan profil siswa, hingga pembukaan akses informasi dan jejaring pendidikan global.
Ia menilai selama ini banyak siswa Indonesia memiliki kapasitas besar, namun belum memperoleh pengakuan internasional akibat keterbatasan eksposur dan bimbingan yang tepat.
“Kita bukakan aksesnya, tetapi tentu saja kalau hanya kami sendirian tidak bisa. Upaya yang kami lakukan ini mungkin hanya sekitar 30 persen, 70 persennya itu berasal dari adik-adik sendiri,” kata Stella.
Dampak program tersebut juga dirasakan langsung para siswa. Salah satunya, Fathina Almahira Sakhi, yang berhasil mengantongi Letter of Acceptance (LoA) dari delapan perguruan tinggi terbaik dunia. Ia mengaku mendapatkan pembinaan intensif sejak November 2025 yang membuatnya lebih siap menghadapi proses seleksi internasional.
“Saya merasakan bagaimana rasanya benar-benar dipersiapkan untuk kuliah di luar negeri. Saya bersyukur bisa mendapatkan kesempatan belajar dari program ini,” ujar Fathina.
Pengalaman serupa disampaikan M. Kafka. Ia mengatakan proses pendampingan berlangsung sangat intensif meski di tengah keterbatasan akibat bencana hidrometeorologi yang sempat melanda Aceh.
“Karena persiapan yang cukup intensif dan dibantu oleh guru-guru hebat, alhamdulillah kami bisa mencapai prasyarat yang diperlukan,” tutur Kafka.
Stella juga memberikan apresiasi kepada para guru dan tenaga kependidikan yang dinilai menjadi faktor penting keberhasilan siswa memperoleh LoA dari kampus internasional. Menurutnya, transformasi pendidikan membutuhkan kolaborasi kuat antara pemerintah, sekolah, guru, dan siswa.
Dukungan terhadap pengembangan Sekolah Garuda juga datang dari Pemerintah Aceh. Melalui Dinas Pendidikan Aceh, pemerintah daerah telah menerbitkan surat keputusan percepatan pembangunan SMA Garuda di Aceh Utara.
Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, mengatakan pembangunan Sekolah Garuda diharapkan melahirkan generasi baru Aceh yang mampu berdaya saing global sekaligus mengembangkan potensi daerah.
“Harapan kami kepada SMA Garuda dan Garuda Transformasi adalah lahirnya generasi-generasi baru Aceh. Generasi yang mampu membaca, mengolah, mendistribusikan, dan memberi nilai tambah kepada produk-produk lokal. Generasi yang mampu membawa Aceh masuk ke dalam ekonomi global dan menjadi bagian penting dari kekuatan ekonomi Indonesia,” tegasnya.
Ia menambahkan, Aceh Utara dipilih sebagai lokasi pembangunan Sekolah Garuda karena dinilai menjadi ruang pertemuan harmonis antara masyarakat Aceh dan komunitas transmigrasi Jawa, yang memiliki potensi besar untuk memperkuat kolaborasi sosial dan pendidikan.
Sebelumnya, Wamendiktisaintek telah meninjau tiga lokasi calon pembangunan Sekolah Garuda di Aceh Utara, yakni di Bukit Seuntang, Trieng Matang Ubi, dan Gampong Beuringen.











