BIREUEN – Pesantren Modern Al Zahrah di bawah Pusat Pengembangan Bahasa kembali menggelar ujian kosakata (mufradat) bahasa Arab dan bahasa Inggris untuk seluruh santri kelas 1 sampai dengan kelas 5 Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI), di aula terbuka area madrasah setempat, Jum’at pagi (22/5/2026).
Kegiatan rutin akhir semester itu diikuti secara serentak oleh 252 santri mulai pukul 09.10 hingga selesai. Diawali dengan pembukaan dan arahan dari panitia mengenai penilaian dan peraturan mengikuti yang perlu diperhatikan.
Usai mengikuti arahan seluruh santri menempati kursi yang telah disusun rapi dengan formasi masing-masing berjarak satu langkah guna mengantisipasi kompromi antar peserta ujian.
Para santri yang mengikuti ujian dialokasikan waktu selama 60 menit untuk menyelesaikan soal-soal yang berkenaan dengan yang dipelajari selama satu semester terakhir. Selama ujian berlangsung mereka diawasi oleh dewan guru kepengasuhan.
Kepala Pusat Pengembangan Bahasa Pesantren, Fajri, S.Pd dalam sambutannya menyampaikan pelaksanaan ujian mufradat merupakan salah satu program penting pesantren khususnya di bagian kepengasuhan yang harus diikuti oleh seluruh santri sebelum menghadapi pelaksanaan ujian semester genap.
Untuk mencapai nilai yang maksimal para santri yang mengikuti ujian mufradat sangat ditekankan menjunjung tinggi kejujuran. Dalam hal akademik pun tidak boleh membawa nilai yang tidak halal.
“Sejelek apapun yang terpenting adalah nilai yang halal,” ingat Fajri.
Untuk mencapai standar nilai kelulusan bahasa seluruh santri harus mendapatkan skor hasil ujian di angka 4,5. Angka itu sebagai tolak ukur terendah kemampuan santri dalam menguasai bahasa Arab dan Inggris.
Fajri juga menginformasikan untuk tahun-tahun mendatang standar nilai kelulusan bahasa akan ditingkatkan menyentuh nilai 7,5 hingga 8. Target itu juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas bahasa asing dari tahun ke tahun bagi santri Al Zahrah.
Hadiah dan Hukuman
Pelaksanaan ujian mufradat tidak hanya menjadikan tolak ukur kemampuan berbahasa asing bagi santri, guna mendorong tingkat keseriusan belajar bahasa yang berkelanjutan pesantren justru memberikan hadiah terhadap santri yang memperoleh nilai tertinggi dan memberikan hukuman mendidik bagi yang mendapatkan nilai di bawah 4,5.
“Akan dipilih 3 nilai tertinggi dari Tsanawiyah dan 3 nilai tertinggi dari Aliyah, kategorinya dipisah putra dan putri,” sebut Fajri.
Sementara itu, pimpinan Pesantren Modern Al Zahrah, Tgk.H.M Fadhil Rahmi, Lc., M.Ag menegaskan bahwa secara individu pelaksanaan ujian pada hakikatnya adalah untuk mengetahui siapa yang pantas mendapatkan pujian atau memperoleh hinaan.
“Bil imtihani yukromul mar’u au yuhaanu”, yang berarti dengan ujian, seseorang bisa menjadi mulia atau justru menjadi terhina,” kutibnya.
Ia mengimbau ke seluruh santri agar menghindari kecurangan dan cara-cara yang tidak sehat selama ujian berlangsung.
Adapun secara lembaga penguasaan bahasa asing merupakan sebuah keunggulan bagi santri Al Zahrah. Sehingga upaya menaikkan grade bahasa terut ditingkatkan dari tahun ke tahun.
“Harus kita buktikan ke khalayak bahwa bahasa kita masih di atas kemampuan yang lain,” tantang Fadhil seraya memotivasi.








