Banda Aceh—Dosen Universitas Syiah Kuala, Dr. Herman RN, menggelar kegiatan lokakarya pewarisan nilai-nilai humanis-kultural dalam konsep kearifan lokal Aceh bagi generasi muda di Banda Aceh. Kegiatan tersebut berlangsung dua hari, Selasa-Rabu (2-3 Juni 2026) di Auditorium lantai dua FKIP USK.
Kegiatan dalam rangka pemanfaatan hasil kelola dana abadi kebudayaan oleh Kementerian Kebudayaan RI melalui program dana indonesiana itu menghadirkan pemateri akademisi, yakni peneliti struktur, fungsi, dan nilai hadih maja, Prof. Dr. Mohd. Harun, M.Pd., dan seorang kolektor hadih maja sejak kecil, Iskandar Norman.
Ketua pelaksana, Herman RN, mengatakan topik pewarisan nilai humanis-kultural melalui hadih maja itu sengaja dipilih karena dianggap urgen untuk generasi muda Aceh saat ini.
“Tidak banyak generasi muda yang tahu dan paham hadih maja. Bahkan, mendengar istilah hadih maja saja, sebagian peserta masih bertanya-tanya. Oleh karenanya, kegiatan ini memiliki manfaat ganda. Selain mewariskan nilai humanis-kultural dalam konsep ke-Acehan, kegiatan ini juga bagian dari melestarikan hadih maja bagi generasi muda,” ujar Herman RN.
Ketua Dewan Kesenian Banda Aceh itu menambahkan, program tersebut diusulkan awal tahun 2025 dan dinyatakan lolos seleksi sebagai penerima hibah di akhir tahun lalu melalui jalur perseorangan.
“Pemateri akademisi, Prof. Harun, sudah banyak mendalami hadih maja. Beliau sudah meneliti hadih maja sejak tahun 2000 dan mempertegas penelitian mengenai hadih maja dalam disertasinya pada tahun 2005. Ini sebuah bukti konsistensi Prof. Harun dalam meneliti hadih maja,” papar Herman RN.
Lebih lanjut, dosen FKIP USK itu mengatakan, pemateri praktisi, yakni Iskandar Norman, merupakan kolektor hadih maja yang sudah menulis buku kumpulan hadih maja.
“Iskandar Norman juga seorang kolomnis Nugalantuy pada sebuah harian lokal yang isi kolomnya tentang hadih maja. Dengan demikian, kedua pemateri ini merupakan pakar hadih maja,” jelas Herman.
Budayawan Aceh itu menambahkan, konsep kegiatan dimulai dari pemetaan hadih maja, dilanjutkan dengan lokakarya oleh pakar hadih maja, dan akan dilanjutkan dengan desiminasi karya peserta melalui eksebisi performan.
“Artinya, peserta bukan hanya mendapatkan pemahaman tentang hadih maja, tetapi juga mampu menciptakan hadih maja baru yang kontekstual tanpa mengubah atau merusak hadih maja lama yang sudah hidup dalam tradisi orang Aceh,” papar Herman RN.









