Di tengah hamparan sawah yang membentang dan perbukitan hijau yang mengelilingi Dusun Tapak Aulia, Gampong Lawe Cimanok, Kecamatan Kluet Timur, tersimpan sebuah kisah yang perlahan mulai terlupakan. Bukan sekadar cerita rakyat biasa, melainkan kisah tentang jejak kedua Sang Legenda Tuan Tapa yang diyakini pernah ada, namun kini hilang tanpa bekas, seakan tertelan oleh waktu.
Selama ini masyarakat Aceh dan para wisatawan hanya mengenal satu jejak kaki raksasa yang berada di Tapaktuan, ikon bersejarah yang telah menjadi simbol Kabupaten Aceh Selatan. Jejak tersebut dipercaya sebagai peninggalan Tuan Tapa, tokoh legendaris yang dalam cerita rakyat Aceh dikisahkan bertarung melawan naga raksasa demi menyelamatkan seorang putri.
Legenda itu telah hidup selama ratusan tahun dan menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Aceh Selatan. Setiap tahunnya, lokasi jejak kaki di Tapaktuan ramai dikunjungi wisatawan yang ingin menyaksikan secara langsung peninggalan yang sarat dengan nilai sejarah, budaya, dan cerita mistis tersebut.
Namun di balik kemasyhuran jejak kaki yang berada di Tapaktuan, tersimpan sebuah misteri yang hingga kini belum terjawab:
Di mana jejak kaki Tuan Tapa yang satunya lagi?
Menurut penuturan masyarakat setempat, jejak kedua diyakini pernah berada di Dusun Tapak Aulia, Gampong Lawe Cimanok, Kecamatan Kluet Timur, Kabupaten Aceh Selatan. Lokasinya berada di tengah persawahan warga yang dikelilingi panorama alam yang memukau. Dari pusat Kota Tapaktuan, lokasi tersebut dapat ditempuh dalam waktu sekitar satu jam perjalanan.
Masyarakat meyakini jejak yang berada di Tapak Aulia merupakan pasangan dari jejak yang kini menjadi ikon wisata Tapaktuan. Bahkan, sebagian warga menyebut jejak tersebut diyakini sebagai jejak kaki kanan Tuan Tapa, sementara jejak yang berada di Tapaktuan merupakan jejak kaki lainnya.
Sayangnya, jejak yang diyakini memiliki nilai sejarah tinggi itu kini tidak lagi dapat ditemukan. Warga menyebut jejak tersebut perlahan menghilang setelah pernah dilakukan pengecoran menggunakan semen dengan tujuan melindungi dan mempertahankan bentuknya. Namun, tanpa metode konservasi yang tepat, upaya pelestarian itu justru diduga menjadi awal hilangnya jejak yang selama ini diwariskan dalam cerita masyarakat.
Hilangnya jejak tersebut memunculkan keprihatinan banyak pihak. Sebab yang lenyap bukan hanya sebuah bentuk fisik di atas tanah, melainkan juga bagian dari sejarah, identitas budaya, dan memori kolektif masyarakat Aceh Selatan.
“Dulu tempat ini sering disebut-sebut orang. Tapi sekarang, jangankan dirawat, dilihat saja sudah jarang. Seperti tidak ada lagi yang peduli,” ujar Rahman, salah seorang warga setempat.
Hal senada disampaikan Sudirman yang menyayangkan minimnya perhatian terhadap lokasi yang diyakini menyimpan jejak sejarah tersebut.
“Padahal ini bisa menjadi sejarah besar untuk kampung kami. Tapi sekarang hanya tinggal cerita. Banyak anak-anak muda yang bahkan tidak tahu lagi kalau pernah ada jejak itu di sini,” katanya.
Di tengah rasa kehilangan itu, harapan masyarakat masih tetap ada. Mereka berharap pemerintah daerah maupun pihak terkait dapat melakukan penelitian dan penelusuran lebih lanjut terhadap lokasi tersebut agar keberadaan jejak yang hilang dapat didokumentasikan atau setidaknya dikenang sebagai bagian dari sejarah daerah.
“Kalau bisa ditelusuri lagi atau setidaknya dibuat penanda, biar orang tahu kalau di sini pernah ada jejak itu. Jangan sampai hilang begitu saja,” tutur Munandar.
Sorotan terhadap keberadaan jejak kaki di Tapak Aulia juga datang dari kalangan pemuda. Syahrul Amin, kader PMII Aceh sekaligus volunteer yang pernah mengunjungi lokasi tersebut, menilai kawasan Tapak Aulia memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai situs wisata sejarah dan budaya.
Menurutnya, pemerintah perlu mempertimbangkan pembangunan replika jejak kaki sebagai bentuk pelestarian sekaligus upaya menghidupkan kembali nilai sejarah yang mulai terlupakan.
“Seharusnya pemerintah dapat membuat replika jejak di Dusun Tapak Aulia. Kawasan ini memiliki potensi besar menjadi objek wisata sejarah di Kluet Timur. Lokasinya berada di tengah persawahan masyarakat dan di kaki perbukitan yang menyuguhkan pemandangan luar biasa indah. Jika dikelola dengan baik, kawasan ini tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga sarana edukasi sejarah bagi generasi muda,” ujarnya.
Hingga kini, misteri hilangnya jejak kedua Sang Legenda Tuan Tapa masih menjadi tanda tanya besar. Apakah jejak itu benar-benar telah hilang akibat kesalahan manusia, atau masih tersimpan di balik tanah Tapak Aulia yang belum tersentuh penelitian mendalam?
Yang pasti, di tengah sunyinya persawahan dan perbukitan Kluet Timur, kisah itu masih hidup dalam ingatan masyarakat. Menunggu untuk kembali ditemukan, sebelum benar-benar hilang dari sejarah.










